Beranda blog Halaman 87

Nasi liwet, tengkleng, hingga pecel ndeso membangkitkan kenangan…

BAGI penggemar kuliner, Solo adalah magnet. Kota ini, pelan tapi pasti, telah menjadi salah satu surga bagi para pemanja perut. Eloknya, kota ini mampu menjaga dan bahkan menambah daya tarik dengan memunculkan kembali kuliner khas; ate kere, nasi liwet, timlo, pecel ndeso, srabi, dan tentu saja yang tak bisa ditinggalkan adalah Hidangan Istimewa Kampung, yang biaa kita sebut HIK. Di solo, kuliner terakhir ini tampaknya telah menjadi ikon.

Sejarah Solo (7): Sumpah Setia Mas Said

Akhrinya, RM Said bersumpah setia kepada Surakarta, Yogyakarta, dan VOC. Sebagai imbalannya, dia mendapat tanah berikut 4000 cacah dari Pakubuwono III dan bergelar menjadi Pangeran Adipati Mangkunegara I, namun tidak mendapatkan apa-apa dari Hamengkubuwono I.

Restoran Pringsewu

GAZEBO PRINGSEWU
GAZEBO PRINGSEWU, MEMBERI SUASANA ASRI DAN SEGAR

Anda ingin merasakan suasanan makan dengan keluarga, teman, dan relasi bisnis dalam nuansa alam yang asri? Restoran Taman Pringsewu Solo adalah jawabannya. Dengan menu utama ikan gurameh goreng, restoran ini siap memberikan sebuah cita rasa khas yang tidak akan Anda temui di tempat lain. Berbagai macam menu lain dalam bentuk paket juga disediakan oleh restoran ini yang bisanya digunakan dalam acara prasmanan, wisuda, ulang tahun dan instansi.
Dilengkapi dengan fasilitas hall, gazebo, lesehan, playground dan mushola; acara makan Anda bersama baik bersama keluarga ataupun teman Anda akan menjadi lebih nyaman dan hangat. Ditambah dengan adanya 11 gubuk tradisional yang memang didisain secara khusus bagi Anda agar membuat kebersamaan anda sewaktu makan menjadi lebih alami sembari memandang hijaunya hamparan sawah di sekeliling restoran.
Dibangunnya fasilitas baru yaitu sebuah gedung pertemuan akan mempermudah Anda yang ingin mengadakan acara sekaligus menikmati khasnya ikan gurameh goreng restoran ini.
Lebih jauh tentang Pringsewu:
1. Sekilas Pringsewu Group.
2. Resto dengan pelayanan santun, ramah tanpa kepura-puraan.

3. Ulang tahun di Pringsewu Solo.

Berikut ini beberapa paket sajian Pringsewu

PAKET TRADISIONAL

  • Soft drink
  • Nasi putih
  • Wader goreng/ayam bakar/ayam opor
  • Tahu tempe goreng/bacem/penyet
  • Sambal goreng krecek/gudeg
  • Krupuk (opak/rambak/emping)
  • Acar/lalapan
  • Teh/kopi
  • Buah

PAKET FAVORIT I

  • Juice melon/mix fruit juice
  • Sop ayam/sop Pringsewu
  • Salad (fruit/vegetables)/asinan Jakarta
  • Nasi putih
  • Ayam panggang/ayam goreng kremes
  • Cumi asam manis/cumi cabe ijo
  • Cap cay sea food/ayam ca jamur
  • Mie goreng/bihun goreng
  • Kerupuk (udang/emping/rambak)
  • Acar sambal
  • Buah iris/pudding

PAKET FAVORIT II

  • Juice tape/guava squash
  • Soto ayam/soto daging
  • Salad (fruit or vegetables)/asinan Jakarta
  • Nasi putih
  • Gurameh asam manis/gurameh cabe ijo
  • Tofu ca jamur/brokoli ca ayam
  • Tumis paprika daging/kerang baby bune
  • Mie goreng/bihun goreng
  • Kerupuk (udang/emping/rambak)
  • Acar sambal
  • Ice cream/es dawet
  • Buah iris

PAKET EKSEKLUSIF

  • Welcome drinks: Fruit punch
  • Jajan Pasar
  • Soto daging/Sup asparagus
  • Salad/asinan/selada Padang
  • Nasi putih
  • Butter rice
  • Gurameh bakar/goreng
  • Cumi goreng tepung/seafood tepung kombinasi
  • Sosis cabe ijo/Ayam gereng kecap
  • Brokoli cah/Tofu cah jamur
  • Sapo/Tumis paprika daging
  • Mie goreng/Bihun goreng
  • Tahu tempegoreng/bacem
  • Krupuk
  • Acar sambe
  • Bajigur/es dawet/ronde
  • Buah iris/puding

FASILITAS

  • AC
  • Gazebo
  • Lesehan
  • Playground
  • Mushola
  • Tempat parkir

JAM BUKA

  • Setiap hari mulai pukul 09.00 – 23.00 WIB

Pringsewu Solo
Jl. Adi Sucipto No.137 Jajar Lawean – Solo
Telp.: 0271 736 406 | Facs.: 0271 736 406

Lebih jauh tentang Pringsewu, silakan klik di sini:
1. Sekilas Pringsewu Group.
2. Resto dengan pelayanan santun, ramah tanpa kepura-puraan.

3. Ulang tahun di Pringsewu Solo.

HALL BENGAWAN PRINGSEWU SOLO
BENGAWAN HALL PRINGSEWU SOLO
MEETING ROOM' RAMA, LUAS DAN NYAMAN
MEETING ROOM' RAMA, LUAS DAN NYAMAN
SHINTA MEERING ROOM
SHINTA MEERING ROOM
PESTA KEBUN
FASILITAS PESTA KEBUN

Lebih jauh tentang Pringsewu, silakan klik di sini:
1. Sekilas Pringsewu Group.
2. Resto dengan pelayanan santun, ramah tanpa kepura-puraan.

3. Ulang tahun di Pringsewu Solo.

Liping, miniatur unik kehidupan manusia sehari-hari

SEORANG seniman di Solo, Jawa Tengah, berkreasi membuat kerajinan unik dari bahan kayu. Kerajinan ini berbentuk miniatur aktivitas warga sehari-hari yang disebut liping. Salah satu kreasi Bejo Wage, warga Jalan Kencur, Tenggosari Laweyan, Solo adalah papan permainan catur.
Membawa bendera Jopa-japu yang merupakan rumah seni tempatnya bernaung, Kreasi liping cukup unik karena seluruh bidak catur berupa miniatur pasukan perang. Pion berupa miniatur dari prajurit kerajaan yang terdiri dari pasukan panah dan pasukan anti huru-hara, lengkap dengan pakaian keprajuritan.
Demikian juga dengan menteri, pasukan berkuda, benteng, patih dan raja atau ratu. Bahan dasar miniatur unik ini adalah kayu pinus. Untuk membuat karya seperti ini memang tidak hanya dibutuhkan keterampilan tapi juga ketelitian, sebab ukuran miniatur tergolong kecil sehingga harus benar-benar konsentrasi.
Selain miniatur bidak catur, karya lain yang juga mengagumkan adalah miniatur pagelaran wayang kulit. Bejo menyajikan miniatur ini secara lengkap, mulai dalang, waranggana serta para penabuh gamelan, seperti gong, bonang, pemain rebab, suling dan gambang.
Menurut Bejo, kreasinya ini disebut kerajinan liping, yang merupakan pelesetan dari kata living. Sebab semua karyanya bercerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat tradisional, misalnya petani membajak sawah, mengembala bebek, orang menimba air disumur atau orang yang sedang kerokan.
Bejo mengaku usaha kerajinan ini dirintisnya sejak tahun 2002, namun baru berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Selain Solo, kerajinannya dipasarkan ke Yogyakarta, Semarang, Jakarta dan Bali dengan harga dari mulai 25 ribu rupiah hingga 2 juta rupiah tergantung tingkat kerumitannya.

Jopa Japu
Jopa Japu bergerak di bidang handicraft dan seni dalam bentuk miniatur kehidupan, yang secara spesifik berupa miniatur aktivitas yang menggambarkan keseharian masyarakat tradisional Jawa, misalnya petani, pengayuh becak, dsb. Berdiri pada 1 Oktober 2002 dengan lokasi outlet adalah di Jl Wijilan (depan Gudeg Yu Djum).
Ilham atau inspirasi pendirian Jopa Japu adalah berasal dari keprihatinan atas kondisi generasi muda saat ini yang mulai merasa asing dengan budaya-budaya Jawa, sehingga Jopa Japu ingin melestarikannya dalam betuk miniatur kegiatan tradisional masyarakat Jawa (petani, mendorong gerobak, dsb).
Media yang digunakan adalah kayu. Teknik yang digunakan adalah dengan menggunakan gergaji. Ada pula yang kemudian dikombinasikan dengan tanah liat (misalnya untuk membuat patung). Cara pembuatannya secara umum adalah dengan menggergaji pola dari bagian-bagian tertentu (misalnya pola tangan, kaki, kepala, dsb), kemudian dirapikan dengan menggunakan cutter, setelah itu diwarnai dengan menggunakan cat dan akhirnya bagian-bagian tersebut disatukan dengan lem.
Setelah seluruh bagian disatukan dilakukan penyusunan tema, ingin dibuat seperti apa. Seni yang dipakai adalah seni liping, yang merupakan plesetan dari bahasa Inggris (living) yang berarti kehidupan.
Latar belakang dari personil Jopa Japu justru tidak memiliki pendidikan seni. Mereka belajar secara otodidak. Jopa Japu sendiri terdiri dari 7 orang dan modalnya merupakan gabungan dari ketujuh orang ini dan secara bergantian.
Peluang bisnis dari Jopa Japu adalah merupakan UKM yang tidak menggunakan modal besar untuk memulainya dan ide awalnya muncul dari sebuah kreativitas. Market dari seni liping ini adalah niche market atau dengan kata lain segmentasi yang sangat khusus. Target yang dituju adalah high class, pecinta traveling misalnya ke Jogja, yang merupakan pusat seni dan kerajinan.
Pelanggan Jopa Japu adalah turis dalam dan luar negeri, seniman, orang yang ingin memajang sesuatu yang unik di kantornya,dsb. Barang yang diproduksi sangat customized dengan ide bisa dari customer untuk membuat seperti apa atau juga dari Jopa Japu, sehingga ide itu mengalir terus. Dengan demikian product life cycle–nya bisa dikatakan sangat tinggi. Kelebihan dari Jopa Japu sendiri adalah konsumen bisa memesan dengan permintaan agar tidak direproduksi lagi untuk konsumen lain.
Produksi Jopa Japu sendiri sekitar 2000 miniatur per bulan. Buyer tetap dengan skala permintaan yang tinggi tidak ada (belum bisa melayani) karena pengerjaannya yang handmade dengan jumlah personil yang terbatas.
Strategi lokasi dari Jopa Japu yang terletak di Jl. Wijilan bisa dikatakan tepat untuk bisa menjangkau segmen yang dituju. Outlet dengan luas bangunan 3×3 meter ini bisa dikatakan memenuhi lokasi strategis yang terletak di tengah kota. Umumnya turis pasti berkunjung ke daerah tengah kota.
Turis yang datang ke Jogja biasanya berwisata kuliner untuk mencari makanan khas Jogja, misalnya gudeg. Pusat gudeg berada di daerah Wijilan. Lokasi Jopa Japu sendiri terletak di depan penjual gudeg terkenal (Yu Djum) yang menjadi referensi orang ketika ingin makan gudeg. Outlet Jopa Japu yang berwarna kuning (warna yang kontras dibanding sekitarnya) dapat menarik perhatian pengunjung untuk setidaknya berkunjung dan mengetahui apa sebenarnya Jopa Japu, ketika rasa tertarik sudah muncul maka bisa membangkitkan keinginan untuk memesan miniatur kehidupan di Jopa Japu.
Jopa Japu sendiri hanya mendirikan satu outlet untuk sementara ini dan tidak menutup kemungkinan untuk membuka cabang di daerah lain yang dianggap cocok dan tepat untuk target segmennya.
Berbicara tentang marketing tidak lepas dari STP (Segmenting, Targeting dan Positioning). Penentuan segmen yang jelas akan membantu untuk diterimanya sebuah produk. Segmen untuk Jopa Japu adalah untuk turis diluar wilayah Jogja secara geografis, kalangan menengah atas dengan usia tertentu secara demografis, dan dengan lifestyle pecinta seni secara psikografis.
Karena sifatnya adalah barang seni yang bernilai tinggi maka produk Jopa Japu sendiri cocok untuk segmen menengah atas yang secara ekonomi sudah mapan. Proses segmenting ini akan tepat jika dilakukan marketing research dan terus dilakukan secara berkala untuk mengantisispasi apabila ada perubahan selera pasar.
Sifat yang unik dengan niche market dari Jopa Japu, bisa dikatakan Jopa Japu tidak memiliki pesaing. Namun yang perlu disadari adalah seni ini bersifat substitusi dengan seni pahat atau seni ukir, sehingga bisa membuat konsumen membandingkan satu dengan yang lain. Apabila tidak ditunjang dengan marketing yang baik dan tepat bisa membuat Jopa Japu ini kalah saing dengan seni lainnya yang bersifat substitusi.
Peniruan atas produk Jopa Japu pernah terjadi tetapi dari segi kualitas dengan feel dari produk tiruan tersebut jauh berbeda dengan produk Jopa Japu. Dipicu oleh hal ini, maka kedepannya Jopa Japu akan memproteksi produknya dengan menggunakan hak paten.
Peniruan produk ini bisa dikatakan sebagai kompetitor dengan bermunculannya follower dan membuat produk Jopa Japu bisa berkembang. Konsumen akan membandingkan mana yang lebih berkualitas. Artinya sebenarnya Jopa Japu tidak perlu khawatir akan penetapan harga yang dilakukan.
Pricing strategy sebenarnya terbentuk oleh adanya supply and demand dan harga umumnya berbanding lurus dengan kualitas. Dan karena produknya adalah barang yang benilai seni yang ditujukan kepada kalangan menengah atas yang umumnya tidak price sensitive.
Hasil produksi yang bisa dianggap istimewa atau “wah” dari Jopa Japu adalah miniatur wayang kulit dan catur. Keduanya sudah mempunyai prestasi yaitu untuk miniatur catur mendapat Juara I Handicraft Nasional (2005) dan miniatur wayang mendapat juara yang sama pada tahun 2006. Rencana ke depan adalah untuk mendapatkan Rekor MURI berupa miniatur Malioboro (pada saat 1900-1930) dan terobosan produk yang akan diproduksi dalam waktu dekat adalah membuat miniatur Borobudur dengan ukuran besar. (Ganug Nugroho Adi)

liping1

liping2
liping3
liping4
liping5

Sejarah Solo (6): Mataram Pecah menjadi Dua

Pada tahun 1748, Mangkubumi dan Raden Mas Said menyerang Surakarta kendati tidak berhasil merebut kota itu. Pada saat itu pasukan VOC dan Kerajaan dalam keadaan lemah, sehingga tidak dapat mengalahkan pemberontak dan hanya dapat bertahan di Ibu Kota Negara.
Di tengah pemberontakan itu, pada penghujung 1749, Pakubuwono II jatuh sakit. Gubernur Jenderal VOC yang baru yakni Von Hohendorff (1748-54), utusan VOC yang membantu Pakubuwono II merebut kekuasaannya kembali di Kartsura, berangkat ke Surakarta untuk mengawasi berlangsungnya pergantian kekuasaan.

Sejarah Solo (5): Terusirnya Mas Said

Di luar aspek-aspek spiritual, pemilihan Desa Sala juga mengandung aspek strategis geografis. Tampaknya dari pihak VOC mempunyai visi yang cukup jelas tentang sebuah ibu kota negara yang baru yakni harus dekat dengan sungai besar sebagai sarana transportasi. Usulan pertama adalah untuk ibu kota baru adalah daerah Tingkir (Salatiga) yang dekat dengan Sungai Tuntang yang mengalir dari Salatiga ke Demak. Pilihan kedua adalah Bengawan Sala yang berhulu di Pegunungan Seribu (Wonogiri) mengalir dari selatan ke utara sampai ke Bojonegoro dan Surabaya.

Sejarah Solo (4): Keraton Porak Poranda

Secara kebudayaan, kemenangan politik Tionghoa di Kartosuro itu semakin menorehkan luka bagi orang Jawa. Raja dan Kerajaan merupakan simbol penting masyarakat Jawa pada masa itu yang berhasil dikalahkan oleh orang Tionghoa.

Kemenangan Mas Garendi merupakan pengulangan sejarah di mana muncul raja yang didukung oleh orang-orang Tionghoa. Sebelumnya pernah ada raja dari keturunan Tionghoa-Jawa yang bernama Raden Patah yang berhasil mendirikan Kerajaan Demak dan mengalahkan Kerajaan Majapahit.

Jumini mengejar seragam bekas di Gilingan…

LIBUR sekolah berakhir sudah. Biasanya, inilah saatnya bagi para  siswa, baru atau pun lama, memakai seragam baru. Bagi siswa baru, seragam baru ini tentu sebuah kewajiban. Bagi siswa lama, belum  tentu. Tapi jika pun sudah saatnya mengganti seragam, ternyata tak harus dengan membeli yang baru, terutama jika mereka datang dari  keluarga yang pas-pasan. Maka, seragam sekolah bekas pun menjadi pilihan.
“Outlet” panjang itu memang berada di sepanjang sisi Jalan S Parman, Gilingan, banjarsari, Solo. Bisa jadi, inilah rejeki tahunan bagi  belasan pedagang seragam bekas yang berderet di sepanjang sisi jalan dengan arus padat itu. bagi mereka yang tak mampu membeli seragam  sekolah baru, Jalan S Parman adalah pilihan.
Jangan salah. Meski bekas, tapi baju, celana, dan rok seragam di tempat ini masih sangat layak pakai. Meski loak, seragam yang  ditawarkan dari jalan ini bukanlah semacam gombal atau pun kain  dengan ceceran oli, minyak, dan segala yang kotor lainnya. Tidak! Sebab pakaian yang dijual pedagang di tempat ini bahkan masih lebih pantas dari pakaian bekas yang anda sumbangkan untuk korban bencana alam, atau sekadar menumpak di lemari Anda. Dan mereka yang hidup pas-pasan, telah menruh kepercayaan pada pedagang yang berjajar di Jalan S Parman ini. Salah satunya adalah Jumini, Buruh gendong di Pasar Legi.
“Setiap tahun saya selalu membeli baju seragam untuk anak saya di  sini. Meskipun bukan baju baru, tapi masih bagus. Dari pada membeli baju baru yang harganya mahal, mendingan uangnya untuk membeli  kebutuhan lain. Beras, minyak, wong apa-apa sekarang mahal,” kata  Jumini.
Jumini benar. Kemeja, rok, dan celana seragam di sini harganya hanya berkisar Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu, tergantung ukurannya. Jika  membeli baru, harganya minimal Rp 40 ribu. “Untuk baju anak saya yang naik kelas 4 SD sudah dapat, tinggal beli celananya. habis ini, saya masih muter lagi mencari baju dan rok  untuk Ningsih yang kelas 3 SMP,” ujar Jumini, menyebut anaknya yang nomor satu.
Jumini yang suaminya bekerja sebagai penarik becak, pun mengisahkan  perjuangannya saat mendapatkan baju seragam untuk anaknya. Katanya, “Saya tadi sempat ngos-ngosan mangejar pembeli lain, karena baju yang sudah saya bayar kebawa di tasnya. Untung ibu tadi mengerti. Kalau sampai hilang saya khan rugi. Sudah ya, saya tak  muter lagi mencari seragam untuk anak saya.”
Banyak Jumini
Jumini tak sendiri. Masih ada Marni, pensiunan dinas kesehatan yang memburu seragam bekas untuk cucunya. Ada juga Sularto, Parmin, Markus… yang mengaku terpaksa membeli seragam sekolah untuk anaknya di Gilingan ini, karena tidak mampu membeli baju seragam baru.
“Saat seperti ini, anak saya tidak hanya perlu baju, tapi juga sepatu dan buku-buku. kalau semuanya baru, uangnya tidak ada,” ujar Sularto, tukang sol sepatu di Nusukan.
PKL loak di Jalan S Parman itu rupanya tak hanya membantu mereka yang kondisi keuangannya pas-pasan, untuk mendapatkan baju murah. Pada sisi lain, para pedagang pun ketiban rejeki dengan jumlah pembeli yang  melonjak pada masa menjelang masuk sekolah seperti ini.
“Lumayan, sehari ya bisa menjual 10 sampai 15 pakaian seragam, mulai  baju, rok, dan celana,” kata  Rukmini, salah satu pedagang. Sangat lumayan tepatnya. Sebab pada hari biasa, hampir tak ada baju seragam yang terjual. Pada hari biasa, yang laku adalah kaos, baju-baju  keseharian, atau sesekali jas, yang jumlahnya pun tak lebih dari 5 potong setiap harinya.
“Pokoknya bersyukur saja, Mas. Kadang dapat rejeki, kadang ya tidak.  Tidak usah megeluh, karena semua sudah diatur oleh Yang di Atas,”  tambah Rukmini.
Begitulah. Menjelang awal masuk sekolah, mereka memang mendapat rejeki yang lebih banyak dari hari sebelumnya. Tapi satu pekan ke depan, barangkali, semuanya akan kembali seperti biasa; baju-baju terus menumpuk, digantung, dan orang-orang datang menawar, satu atau dua di antaranya akan membawa pulang setelah menyerahkan uang. Sebab, hanya dengan cara demikian sepanjang jalan S Parman itu pun hidup. (Ganug Nugroho Adi)

Dhukutan, saat tawuran jadi keharusan

Kekerasan tidak selalu bermakna negatif. Minimal demikianlah yang berlaku bagi masyarakat Warga Nglurah Tawangmangu, Karanganyar. Kekerasan bagi masyarakat Nglurah merupakan media silaturahmi dan perekat kerukunan masyarakat desa tersebut. Bahkan kekerasan tersebut harus dilaksanakan setiap 8 bulan sekali atau setiap pitung lapan (penanggalan jawa).

Tawuran Dukutan
TAWUR DESA: Sejumlah warga melakukan tawuran menggunakan hasil bumi dalam ritual Dukutan di Situs Candi Menggung, Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar, Jateng. Dukutan adalah tradisi bersih desa turun-temurun yang dilaksanakan setiap Wuku Dhukut pada perhitungan Kalender Jawa atau setiap 210 hari sekali menurut penanggalan Masehi.

Sejarah Solo (3): Kemunculan Sunan Kuning

Kartasura Tempo Dulu dalam GrafisTanggapan terhadap pembantaian orang-orang Tionghoa juga ditunjukkan oleh Pakubuwono II. Banyak yang menganggap bahwa Keraton Mataram ini memanfaatkan konflik VOC dengan Tionghoa. Namun jelas bahwa dalam konteks keberanian melawan penjajah, respons Pakubuwono II ini merupakan langkah positif. Dan ini mungkin juga salah satu bentuk solidaritas Raja Mataram terhadap kelompok Tionghoa.