Ribuan warga Nduga mengungsi ke Wamena, butuh bantuan kebutuhan pokok sehari-hari

SOLORAYA.COM – Rentetan peristiwa kontak senjata yang terjadi di Nduga, Papua menyebabkan masyarakat sekitar mengalami trauma. Lebih dari 2000 warga Nduga kini mengungsi ke Wamena, mereka membutuhkan bantuan kebutuhan pokok untuk hidup sehari-hari.


Ribuan warga Nduga mengungsi sejak 4 Desember 2018 lalu. Sekretaris Eksekutif Yayasan Teratai Hati Papua, Ence Geong mengatakan, mereka saat ini kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan untuk makan dan minum.

Selama ini warga Nduga yang mengungsi hanya menggantungkan kebutuhan hidupnya kepada keluarga yang menampung mereka selama berada di Wamena.

Ilustrasi pengungsi. (Pixabay)

“Mereka ini hidup dari keluarga yang menampung, dari hasil kebun keluarga yang menampung, beberapa kali memang ada bantuan dari kita di posko, tapi jelas tidak mencukupi,” kata Ence, Sabtu (2/3/2019).

Beberapa hari terakhir ini, warga Nduga yang mengungsi bahkan mendatangi pihaknya untuk meminta bantuan makanan dan minuman. Tak hanya itu, keluarga yang menampung warga Nduga juga mulai mengeluhkan minimnya ketersediaan makanan dan minuman.
Bahkan, beberapa pelajar sempat pingsan lantaran hanya makan satu kali saja dalam sehari.

“Dua minggu lalu ada beberapa yang pingsan, karena mereka makan terakhir itu Sabtu malam, hari Minggu tidak makan, kemudian Senin pagi ke sekolah tanpa makan, sampai sekolah sudah pingsan,” tutur Ence sebagaimana dilansir CNN Indonesia.

Selain makanan dan minuman, layanan kesehatan juga dibutuhkan oleh ribuan warga Nduga yang mengungsi tersebut. Kesulitan untuk makan dan minum telah memengaruhi kondisi kesehatan mereka.

Ence menyebut Dinas Kesehatan Pemda Nduga pernah memberikan bantuan layanan kesehatan. Namun, hal itu hanya terjadi satu kali saja dan belum pernah ada bantuan layanan kesehatan lagi.

Ence juga mengungkapkan selama warga Nduga mengungsi hampir tiga bulan ini, setidaknya tercatat empat warga meninggal dunia. Di antaranya seorang tokoh agama atau pendeta, seorang ibu, satu anak muda berusia 25 tahun, dan seorang bayi berusia dua tahun.

“Kami ingin mengadakan (layanan kesehatan) tapi kami tidak punya obat-obatan, kami tidak punya tenaga medis, kami berharap pemerintah bisa mengurus ini,” ujarnya.

Baca juga  Abu Bakar Baasyir minta naskah pembebasan bersyarat diubah, begini penjelasan dari anaknya

Di sisi lain, untuk layanan pendidikan, menurut Ence sampai saat ini berjalan dengan lancar. Ence menyebut pihaknya mendapat bantuan dari Dinas Pendidikan Pemda Nduga untuk membangun sekolah darurat. Setidaknya ada 13 ruangan sekolah darurat yang ada disediakan bagi anak-anak Nduga untuk tetap mendapatkan pendidikan.

Lebih lanjut, Ence mengatakan bahwa sebenarnya Pemda Nduga mau terlibat untuk memberikan bantuan kepada warganya yang mengungsi di Wamena. Namun, menurut Ence, Pemda masih berfokus pada warga Nduga yang masih bersembunyi di hutan.

“Mereka fokus pada mengurus masyarakat yang bersembunyi di hutan dekat kampung, jadi mereka membawa bantuan ke sana,” ucap Ence.

Warga Nduga itu mengungsi akibat bentrokan antara pasukan TNI dan Polri dengan Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TPNPB).

Sebagai informasi tambahan, TPNPB membakar eskavator milik Istaka Karya, perusahaan konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang beroperasi di Nduga. Menurut militer Indonesia, pasukan separatis itu juga mengumbar tembakan dalam aksinya.

Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Infantri Muhammad Aidi mengatakan ulah pasukan separatis itu terjadi hari Selasa lalu.

Serangan terhadap peralatan Istaka Karya di Kabupaten Nduga terjadi menyusul pembantaian terhadap 16 karyawannya di sana oleh pasukan separatis pada bulan Desember lalu. Kelompok separatis berdalih belasan orang yang mereka bantai adalah anggota militer Indonesia yang menyamar sebagai pekerja sipil.

Setelah pembantaian itu, ratusan pasukan militer dan polisi Indonesia dikerahkan ke wilayah itu untuk memburu kelompok separatis bersenjata tersebut.

Kolonel Infantri Muhammad Aidi mengatakan eskavator yang dibakar pasukan separatis adalah peralatan yang sudah rusak di distrik Yigi. Dia mengonfirmasi bahwa pasukan separatis itu juga melepaskan beberapa tembakan saat beraksi.

Ketika tentara militer Indonesia tiba, lanjut Muhammad Aidi, para pemberontak melarikan diri tanpa baku tembak.

Sementara itu, seorang juru bicara untuk TPNPB, Sebby Sambon, membantah klaim militer Indonesia. Menurutnya, sejumlah personel militer dan polisi Indonesia terluka dalam baku tembak yang berlangsung pada Selasa malam dan Rabu pagi.

Baca juga  Diperkirakan 7-10 anggota KKB tewas dalam baku tembak dengan TNI di Nduga, begini kronologinya!

Namun, Sambon seperti dikutip radionz.co.nz, Jumat (1/3/2019), mengatakan bahwa dia hanya menerima laporan awal dan tidak diverifikasi dari para pejabat TPNPB.

Sambon sebagaimana dilansir SindoNews mengatakan, pertempuran itu terjadi setelah ultimatum diberikan oleh Tentara Pembebasan Papua Barat kepada militer dan polisi Indonesia. Kelompok separatis itu memberikan ultimatum yang mencakup tuntutan agar semua warga non-Papua meninggalkan Nduga dan bendera Indonesia diturunkan di seluruh kabupaten.

Dalam sebuah pernyataan, Komandan Tentara Pembebasan Papua Barat Ekianus Kogeya mengatakan jika ultimatum tidak dipatuhi, akan ada serangan lain.

Hoax operasi militer
Kapolda Papua Irjen Pol Martuani Sormin menegaskan, tidak ada operasi militer yang dilakukan di Kabupaten Nduga. Saat ini yang digelar di Nduga adalah operasi penegakan hukum dengan sandi “operasi Nemangkawi”.

Operasi penegakan hukum itu dilakukan untuk menangkap para pelaku penembakan yang merupakan anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB), kata Irjen Pol Sormin di Jayapura, Jumat (1/3/2019).

Dia mengatakan, operasi “Nemangkawi” itu digelar setelah aksi penembakan dan pembunuhan yang dilakukan KKB terhadap warga sipil di Kabupaten Nduga.
Karena itu masyarakat diminta tidak perlu mengungsi atau ketakutan serta percaya informasi yang tidak benar atau hoaks.

Penegakan hukum akan terus dilakukan karena aksi yang dilakukan KKB di kawasan itu bukan saja menyerang warga sipil, tetapi anggota serta menyebabkan terhambatnya pembangunan di kawasan itu.

Ketika ditanya tentang masyarakat yang mengungsi, Kapolda Papua mengatakan, hingga kini belum bisa dipastikan karena angota TNI-Polri tidak diizinkan bertemu dengan mereka yang disebut pengungsi.

“Sampai saat ini anggota TNI-Polri tidak diizinkan bertemu dengan katanya masyarakat pengungsi,” tutur Irjen Pol Sormin dilansir Liputan6 dari AntaraNews.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here