Ini yang dibicarakan pendemo dengan produser ‘Dilan 1991’

SOLORAYA.COM – Film Dilan 1991 menerima Rekor MURI dalam dua kategori, ‘Film Pertama yang Ditonton di Bioskop hingga 80.000 orang’ dan ‘Film Pertama di Bioskop yang ditonton sampai 720.000 orang di Hari Pertama (Gala Premier) di Bioskop’.


Namun di balik kesuksesan itu, sejumlah orang yang membuat susana penayanganya jadi tidak mengenakkan, yakni adanya demo sejumlah orang yang menolak film tersebut.
Pemutaran sekuel film Dilan 1991 pada hari pertama langsung mengundang penolakan di Makassar, Sulawesi Selatan. Penolakan tersebut bahkan dituangkan sejumlah orang dalam bentuk demonstrasi. Hingga demo yang dilakukan berujung ricuh.

Terkait hal tersebut, produser dari rumah produksi Max Picture, Ody Mulya Hidayat, akhirnya angkat bicara. Dia menjelaskan duduk permasalahan tersebut di sela-sela penyerahan penghargaan oleh Museum Rekor Indonesi (MURI).

Film DIlan raih rekor MURI. (Instagram)

“Saya perlu klarifikasi. Intinya saya juga kaget karena ternyata bukan Dilan 1991 saja (yang didemo), film nasional yang dikritisi dan protes, sebelumnya saja ada. Ini oknum karena enggak jelas identitasnya apa dan keperluan apa,” kata Ody di XXI Mal Kota Kasablanka Jakarta, Minggu 3 Maret 2019.

Baca juga  Ini lima alasan pendiri PAN minta Amien Rais mundur

Ody mengaku bertanya langsung kepada pihak yang mendemo filmnya tersebut. “Saya sudah bernegosiasi. Kan kata mereka Dilan itu mengandung konten nafsu syahwat, ada kekerasan. Katanya ada ciuman, saya tanya menit berapa (yang ada adegan ciumannya)? Kata dia (oknum pendemo) menit 19, padahal itu tidak benar, itu salah,” katanya sebagaimana dilansir VivaNews.

“Artinya, mereka (oknum) cuma tebak-tebak saja. Makanya saya bantah waktu itu. Dari pertemuan itu, semua sudah clear,” sambungnya.

Ody juga menyatakan, setelah pertemuan antara mereka dengan pendemo usai. Ada lagi kemudian yang memprotes kehadiran Dilan 1991. “Tapi, pas kami pulang ada aliansi lain yang protes-protes lagi. Ya, itu oknum saja dan Dilan 1991 diapresiasi sangat baik di sana (Makassar) sampai seluruh bioskop itu full,” katanya.

Dari kejadian tersebut, Ody merasa senang. Mengapa? Karena film Dillan 191 semakin laku di pasaran. “Saya sih senang saja karena makin didemo, makin full. Karena kalau Dilan 1991 harus turun silakan bilang ke Lembaga Sensor Film (LSF). Loh menurut LSF film ini 13 tahun kok. kalau ada seksnya itu gimana? Ya, Kalau Anda kaum intelektual, tolong buktikan dengan fakta. Ternyata enggak ada,” kata Ody.

Baca juga  'Dilan 1991' raih 2 juta lebih penonton di hari ketiga, jadi sorotan media Hollywood

Dikatan Ody, jangan sampai masyarakat tidak menghargai film lokal. Dan jika ada pihak yang berkeberatan dengan hadirnya film Dilan 1991, Ody menyarankan untuk segera melaporkannya kepada LSF.

“Saya takut karena ini kan film nasional, janganlah diganggu, ini kan karya anak Indonesia. Dan kalau ada masalah kan ada LSF. Jangan ke kita (Max Picture) atau bioskop, kan kasihan bioskopnya.”

“Sampai bioskop minta tolong ke saya untuk nego ke mereka (pendemo). Mereka hanya oknum mahasiswa yang cari keuntungan dari sana. Tidak ada penolakan, hanya seglintir saja. Enggak ada masalah. Terima kasih, clear ya,” kata Ody.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here