Review lengkap sidang perdana kasus Ratna Sarumpaet

SOLORAYA.COM – Aktivis Ratna Sarumpaet telah menjalani sidang perdana terkait kasus hoaks dirinya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan hari ini, Kamis (28/2/2019). Dimulai pukul 09.30 WIB, Ratna Sarumpet didampingi oleh putrinya, Atiqah Hasiholan.

Selama sidang, agenda pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum (JPU) membeberkan awal Ratna Sarumpet menyebar isu dirinya dianiaya orang tak dikenal. Ibunda Atiqah Hasiholan ini juga mengakui kesalahannya saat sidang perdana berlangsung.

Dok. Instagram

Berikut ini review selengkapnya jalannya sidang tersebut yang dikutip dari berbagai sumber :

Jaksa penuntut umum (JPU) menyebut Ratna meminta dipertemukan dengan Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto usai menyebar kebohongan soal penganiayaan. Hal tersebut diungkap selain jaksa mendakwa Ratna Sarumpaet dengan dua pasal dalam kasusnya.

JPU Payaman mengungkapkan, Ratna menghubungi Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPI) Said Iqbal. Said kemudian datang ke rumah Ratna atas permintaan dari yang bersangkutan.

“Terdakwa meminta kepada saksi Said Iqbal untuk dipertemukan dengan saudara Prabowo,” ucap Payaman.

Seperti diketahui, dalam dakwaan pertama, JPU mendakwa Ratna dengan pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana karena dianggap telah menyebarkan berita bohong untuk membuat keonaran.

Dakwaan kedua yakni pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45A ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. (ITE) JPU menilai Ratna telah menyebarkan informasi untuk menimbulkan kebencian atas dasar SARA.

“Telah melakukan perbuatan dengan sengaja atau tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan antar individu atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, ras, agama, atau antar golongan (SARA),” tutur JPU.

JPU menguraikan bagaimana Ratna menyebarkan informasi soal kebohongan dirinya dianiaya. JPU mengatakan, pada Jumat 21 September 2018, Ratna disebut akan pergi ke Bandung, namun yang bersangkutan justru datang ke RS Bina Estitika guna menjalani perawatan kesehatan selama empat hari.

Selama perawatan, Ratna disebut mengabadikan wajahnya yang lebam dengan menggunakan handpohone miliknya. Ratna menceritakan bahwa dirinya dipukuli oleh dua orang saat berada di Bandung.

Baca juga  Hahahaha...Inilah kumpulan meme 10 Years Challenge yang paling lucu dan bikin ngakak cekakak'an

Cerita tersebut pertama kali disampaikan kepada Ahmad Rubangi. Dalam pesannya, Ratna menyampaikan soal pemukulan tersebut.

Kemudian, pada 25 September 2018, Ratna mengirimkan foto mukanya yang lebam kepada Rocky Gerung. Saat mengirimkan foto dengan pesan “21 September 2018 jam 18.50 WIB area bandara bandung. Kemudian ia mengirim pesan not for public.
Lalu, pada tanggal 26 September 2018, Ratna bertemu dan bercerita dengan Deden Syarifudin. Deden mengatakan pada Ratna tidak boleh menangis. Ratna lalu mengirimkan fotonya kepada Dede.

Ratna pun kembali mengirimkan pesan kepada Rocky Gerung pada tanggal 26-29 September. Selain mengirimkan pesan, Ratna juga beberapa kali mengirimkan foto wajahnya dengan kondisi lebam dan bengkak.

Pada 2 Oktober 2018, Ratna pergi ke Lapangan Polo Nusantara, Hambalang, Bogor untuk bertemu dengan Nanik Sudaryati selaku Wakil Ketua Umum Pemenangan Prabowo-Sandiaga. Dalam pertemuan itu, Ratna menceritakan pemukulan yang ia alami dan meminta Nanik untuk memegang pipi untuk membuktikan upaya penganiayaan.

Di hari yang sama, lanjut JPU, sekitar pukul 15.00 WIB Ratna bertemu dengan Prabowo Subianto bersama sejumlah pihak seperti Amien Rais, Said Iqbal, Fadli Zon, Sugiono, dan Nanik Sudaryati.

Pada pertemuan tersebut, Nanik menceritakan ulang kisah Ratna kepada Prabowo dan pihak lain yang ikut hadir tentang penganiayaan tersebut. Namun, Ratna tidak bicara dalam pertemuan tersebut.

Dari pertemuan itu disepakati untuk mengunggah foto wajah sekaligus cerita pemukulan yang dialami Ratna di akun Facebook milik Nanik yang bernama Nanik S Daeng.

Kemudian pada pukul 20.00 WIB, Ratna bersama Prabowo, Amien Rais, Nanik, Saiq Iqbal, dan Fadli Zon mengadakan konferensi pers di Kantor Tim Pemenangan Prabowo-Sandi.

“Dalam konferensi pers tersebut disampaikan oleh Prabowo Subianto di antaranya meminta pemerintah mengusut tuntas penganiayaan yang dialami oleh terdakwa Ratna Sarumpaet’,” tutur JPU sebagaimana dilansir CNN Indonesia.

Sehari berselang, pada 3 Oktober 2018, Ratna justru mengaku bahwa dirinya telah berbohong soal penganiayaan yang dialaminya tersebut dengan menggelar konferensi pers di rumahnya.

Atas konferensi pers tersebut, Rocky Gerung kemudian membuat klafirikasi dengan membalas sebuah status bully-an lewat akun twitternya yang berbunyi ‘integritas harus ditagih dari setiap aktivitas, demokrasi harus tumbuh di situ’.

Baca juga  MA cabut batas usia pelamar CPNS eks guru honorer

Selain itu, Rocky membuat sebuah cuitan di twitter yang berbunyi ‘gw dibohongi, ya udah. Dia minta maaf, ya udah. Dolar udah turun ya ga. Bong masih ngamuk, ya dungu’.

“Bahwa perbuatan terdakwa mengirimkan foto/gambar wajah terdakwa yang lebam dan bengkak akibat penganiayaan disertai kata-kata atau kalimat-kalimat dan pemberitahuan tentang penganiayaan yang dialaminya kepada banyak orang yang ternyata hal tersebut merupakan berita bohong telah menciptakan sikap pro dan kontra di kelompok masyarakat,” tutur JPU.

Usai jaksa penuntut umum membacakan dakwaan, Ratna Sarumpaet bersuara.

“Saya mengerti, walaupun saya merasa ada beberapa poin yang tidak sesuai dengan fakta,” ujar Ratna Sarumpaet seperti dikutip Liputan6.

“Saya sebenarnya, saya salah, oke. Tetapi sebenarnya yang terjadi di lapangan, di penyidikan, ada ketegangan luar biasa bahwa memang ini politik. Saya berharap persidangan ini dengan semua unsur yang ada di sini, marilah kita menjadi hero untuk bangsa. Kalau saya dipenjara, nggak masalah. Di atas segalanya, hukum bukan kekuasaan,” tambah Ratna dalam persidangan.

Namun usai persidangan, Kuasa Hukum Ratna Sarumpaet, Desmihardi membantah adanya muatan politis yang disebut disebut client-nya dalam kasus Ratna.

“Tidak ada motif politik sama sekali. Dakwaan kedua kita lihat kebohongan itu diproduksi untuk meyakinkan masyarakat saja, dan bahkan untuk meyakinkan BPN Prabowo-Sandi,” katanya usai persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (28/2/2019).

Desmihardi mengatakan, lontaran kebohongan yang disebut Ratna murni karena malu dengan keluarga. Dia menegaskan, kebohongan itu hanya dibuat untuk keluarga, tidak ada tujuan menyebarkannya kepada publik.

“Ini murni karena beliau malu lebamnya diketahui oleh keluarga, sehingga harus mengarang cerita bahwa beliau dipukuli. Ini kebohongannya hanya untuk keluarga, karena beliau ingin keluarga tidak tahu beliau operasi plastik,” katanya menandasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here