Pengakuan Sekda Papua saat menganiaya pegawai KPK

SOLORAYA.COM – Melengkapi artikel kami beberapa pekan lalu yang berjudul Pegawai KPK diserang saat tugas penyelidikan, begini kronologi versi polisi dan Ketua DPR Papua, berikut ini kami unggah artikel tentang kelanjutan kasus tersebut.

Ya, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua, Titus Emanuel Adopehan Hery Dosinaen akhirnya mengakui bahwa dirinya melakukan penganiayaan terhadap pegawai KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Sekadar kilas balik, pegawai KPK bernama Gilang Wicaksono dianiaya di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Sabtu, 2 Februari 2019, malam, saat acara rapat Raperda APBD Pemprov Papua Tahun 2019. Penganiayaan terjadi saat Gilang sedang bertugas atas informasi masyarakat perihal indikasi korupsi.

Gilang kedapatan memotret acara itu dan memotret Gubernur Papua Lukas Enembe. Sehingga, Gilang dipukul dengan tangan kosong yang mengakibatkan luka-luka.

Adapun penetapan tersangka terhadap Hery dilakukan polisi setelah mengantongi dua alat bukti yang kuat. Itu berupa bukti transaksi, keterangan saksi dan saksI ahli. Hery dijerat Pasal 351 KUHP Tentang Penganiayaan.

Hery sendiri selesai diperiksa penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya. Pemeriksaan berlangsung 10 jam, mulai pukul 13.00 WIB hingga 22.55 WIB.

Hery mengaku diperiksa sebagai tersangka penganiayaan pegawai Komisi Pemberantasam Korupsi (KPK) Muhammad Gilang Wicaksono. Dia mengakui perbuatannya dan meminta maaf ke KPK.

Baca juga  Ini kanal YouTube "panggil Saya BTP", belum ada postingan tapi subscribers langsung 2 ribu

“Secara pribadi maupun kedinasan dan atas nama Pemerintah Provinsi Papua, atas emosional sesaat, reflek yang terjadi mengenai salah satu pegawai KPK di Hotel Borobudur, memohon maaf ke Pimpinan KPK dan segenap jajaran KPK atas kekhilafan ini,” ujar Hery di Polda Metro Jaya, Senin, 18 Februari 2019.

Dia mengatakan, hubungan Pemprov Papua dengan KPK tidak pernah rusak. Papua, kata dia, berupaya mencegah korupsi serupa dengan KPK.

“Kami selama ini kerja sama didampingi oleh KPK dalam rencana aksi pencegahan korupsi terintegrasi di Provinsi Papua sejak 2016. Kerjasama ini tetap terjalin agar semua pemerintahan menjadi baik dan terarah sesuai ketentuan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia enggan membeberkan jumlah pertanyaan yang diajukan penyidik. “Banyak sekali pertanyaan,” ujar pejabat Papua itu sebagaimana dilansir CNN Indonesia.

Sebelumnya, Ketua DPR Papua, Yunus Wonda menceritakan kesaksian terkait insiden dugaan penganiayaan tersebut. Yunus mengatakan, pihaknya yang ada di lokasi kejadian siap memberikan keterangan ke polisi bila memang diperlukan.

Yunus menambahkan bahwa saat kejadian, Tim Angggaran Eksekutif dan Legislatif DPR Papua menggelar pertemuan resmi dengan Gubernur Papua, Lukas Enembe dan Direktur Anggaran Ditjen Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri. Agenda pertemuan ini, terkait pembahasan hasil evaluasi APBD Papua tahun 2019.

Baca juga  Pegawai KPK diserang saat tugas penyelidikan, begini kronologi versi polisi dan Ketua DPR Papua

Ia menceritakan, awalnya Sekda Provinsi Papua, Herry Dosinai melihat seseorang duduk sambil memotret ke arah rombongan yang sedang berdiri di teras hotel tempat menunggu kendaraan. Momen ini mengundang kecurigaan.

“Jadi, kami mencurigai satu orang, karena mengambil gambar saat kami sedang cerita di depan lobi hotel. Pak Sekda menghampiri yang bersangkutan dan menanyakan maksud dan tujuannya,” kata Yunus kepada wartawan, Minggu malam, 3 Februari 2019.

Yunus sebagaimana dilansir VivaNews menyebut, awalnya pegawai KPK itu mengelak. Namun, setelah dilakukan penggeledahan di tasnya, ditemukan kartu identitas pengenal. “Setelah kami periksa isi tasnya, ternyata ada id card KPK,” ujar Yunus.

Begitupun saat telepon seluler diperiksa ada isi percakapan via WhatsApp soal aktivitas gubernur Lukas Enemba yang tengah mengikuti rapat evaluasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here