Marak DBD, ini fase, cara mencegah dan mengobatinya

SOLORAYA.COM – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terus bertambah. Tercatat, jumlah kasusnya saat ini tertinggi selama tiga tahun terakhir. Di DKI Jakarta saja, pasien DBD mencapai 878 jiwa. Jumlah ini bertambah dibandingkan penderita DBD periode Januari 2019, yakni 813 pasien.

Pada Januari 2018, jumlah kasus DBD di Jakarta hanya 198. Kemudian pada Januari 2017, kasus DBD sebanyak 665.

Sementara data yang dirilis oleh Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada 2015 menyebutkan bahwa dari 34 provinsi di Indonesia ditemukan sebanyak 129.179 orang menderita demam berdarah, dan 1.240 diantaranya meninggal dunia.

Ilustrasi. (Pixabay)

Satu tahun kemudian, pada akhir 2016 Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa Indonesia mengalami kejadian luar biasa (KLB) terhadap penyakit demam berdarah yang menghinggapi 12 kabupaten dan 3 kota dari 11 provinsi di Indonesia.

Tercatat sekitar 492 orang terkena demam berdarah dan sebanyak 25 nyawa tidak terselamatkan. Karena begitu berbahayanya penyakit ini, maka Anda perlu memahami fase demam berdarah agar dapat lebih waspada pada diri sendiri maupun orang yang ada di sekitar Anda.

Guna memberikan tambahan pengetahuian penting dan berharga bagi pembaca, inilah fase yang dialami penderita yang terserang, cara mencegah dan mengobatinya yang kami kutip dari berbagai sumber terpercaya.

Fase DBD

Oke, mari kita mulai dengan fase. Ya, untuk diketahui terlebih dahulu, demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti.

1. Fase demam
Selain demam, awalnya penderita bisa juga mengalami pembesaran organ hati tanpa disertai gejala tertentu. Penderita juga akan mengalami perdarahan pada gusi atau BAB berdarah. Meski demikian, tidak semua orang mengalaminya.

Puncak virus demam berdarah adalah hari ketiga hingga keempat setelah demam dimulai. Namun, demam ini bisa turun secara drastis dan hampir tidak terdeteksi beberapa hari setelahnya.

Untuk mendeteksi apakah seseorang terjangkit virus ini diperlukan pemeriksaan NS-1 antigen dengue dan IgM dengue. Pada umumnya, demam dan kadar virus dalam darah berbanding terbalik. Hasil pemeriksaan akan menunjukkan angka antibodi IgM anti-dengue yang meningkat, namun demam akan menurun.

2. Fase kritis
Fase ini boleh dikatakan justru fase paling bebahaya yang dialami penderita. Ketika demam menurun, penderita justru memasuki periode yang berisiko paling tinggi mengalami kebocoran plasma dan perdarahan. Pada fase ini, sangat diperlukan mengamati rongga paru dan perut untuk memberikan terapi yang tepat guna mengganti kehilangan cairan dan menstabilkan volume tubuh.

Jika tak segera diatasi, penderita berisiko kehilangan nyawanya. Sebab, adanya peningkatan hematocrit yang melebihi 20 persen dari nilai dasarnya, menyebabkan terjadinya penumpukan cairan pada rongga perut (asites), serta penumpukan cairan di sekitar paru-paru (efusi pleura,) sehingga menyebabkan sesak napas.

Ketika memang terjadi kebocoran plasma, penderita harus diamati perkembangan kondisi tubuhnya, yakni dengan mengecek peningkatan detak jantung terutama saat demam sudah turun, ujung jari tangan dan kaki yang dingin, serta penurunan frekuensi dan volume berkemih.

Baca juga  Pengunggah video 'Jogja Istimewa' versi kampanye minta maaf, begini respons Kill the DJ

Bila penderita mengalami perdarahan berlebih dan menunjukkan tanda-tanda yang mengarah kepada kondisi syok, harus dialihkan ke unit perawatan intensif untuk dimonitor secara ketat.

Perlu Anda ketahui, syok yang berkepanjangan dan perdarahan berlebih dari saluran pencernaan merupakan faktor utama yang berkaitan dengan komplikasi berujung kematian.

Menariknya, sebagian besar pasien dengan demam berdarah pada fase ini tetap sadar dan memiliki orientasi yang baik, bahkan saat sudah mengalami syok sekalipun. Indikator yang menunjukkan bahwa individu telah memasuki fase kritis meliputi:

Perubahan drastis dari demam tinggi (>38.0°C) ke suhu normal, bahkan di bawah normal.
Trombositopenia, atau terjadi penurunan trombosit hingga ≤100,000 sel/mm3.
Penurunan kadar albumin atau kolesterol dalam darah.

Efusi pleura atau asites.
Meski fase kritis ini hanya memiliki durasi 24-48 jam, penderita demam berdarah harus sering dipantau agar tidak masuk ke dalam fase syok. Penanganan yang tidak tepat juga rentan meningkatkan risiko penderita mengalami kondisi yang lebih parah. Oleh sebab itulah di fase ini sangat disarankan penderita mendapatkan penanganan medis.

Fase pemulihan
Pada fase terakhir ini, cairan yang mengalami kebocoran saat fase kritis diabsorpsi kembali oleh tubuh. Hal inilah yang membuat pasien merasa kondisi tubuhnya menjadi lebih segar, nafsu makan mulai kembali, tekanan darah dan nadi stabil, kadar hematokrit dan trombosit mulai mendekati nilai normal.

Tak hanya itu, ketika memasuki fase pemulihan, frekuensi dan volume berkemih penderita akan kembali normal, dan terlihat ruam pada kulit yang memang normal muncul di fase pemulihan. Ruam ini merupakan bintik-bintik merah yang berkelompok dan terkadang terasa gatal.

Pada penyakit demam berdarah terdapat fase yang menyerupai pelana kuda. Karena terkadang bisa menipu, oleh sebab itu Anda perlu memahami fase demam berdarah dengan lebih jelas. Sehingga, apabila muncul tanda dan gejala DBD, Anda dapat lebih waspada untuk melakukan penanganan dini dengan memeriksakan diri ke dokter.

Cara Mencegah

Agar tak terjangkit DBD, ada baiknya melakukan beberapa pencegahan, seperti membersihkan rumah. Pemilik rumah harus membersihkan beberapa tempat kesukaan nyamuk. Tempat-tempat itu adalah tumpukkan baju, karena nyamuk menyukai aroma tubuh manusia. Kemudian genangan air, dan tempat-tempat berdebu. Nyamuk-nyamuk akan bertelur di tempat-tempat yang kotor dan lembab.

Selain itu, pemilik rumah harus menambah sirkulasi udara. Misalnya, membuka jendela rumah saat pagi hari untuk melancarkan sirkulasi udara, dan juga mendapat cahaya yang maksimal.

Pemilik rumah juga bisa memasang kelambu di jendela. Jadi, nyamuk akan sulit masuk rumah saat jendela terbuka.

Untuk mengusir nyamuk, bisa juga digunakan kapur barus yang dibakar. Kemudian diletakkan di dalam ruangan dan tutup jendela. Diamkan sekitar 15 menit. Nyamuk-nyamuk DBD atau demam berdarah akan hilang.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengingatkan masyarakat perlu mengetahui dimana saja tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk, karena setiap tempat berpotensi menjadi sarang nyamuk bila terdapat genangan air.

Baca juga  Foto-foto lengkap Frederika Alexis Cull, juara Puteri Indonesia 2019

”Ada banyak sarang nyamuk yang harus dikenali terutama di rumah kita. Masyarakat harus mengetahuinya agar tidak salah sasaran dalam memberantas sarang nyamuk,” katanya.

Tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk di rumah adalah bak kamar mandi dan toilet, tempat penampungan air, air jebakan semut (kaki meja), air pembuangan kulkas, tempat minum burung (yg jarang diganti), pot bunga, dispenser air minum (wadah limpahan airnya), barang bekas di sekitar rumah (ban, kaleng, batok kelapa, botol, gelas air mineral, potongan bambu, dan semua tempat yg bisa nenampung air).

Dr. Siti menambahkan tempat-tempat tersebut sangat berpotensi menjadi sarang nyamuk. Masyarakat diimbau jangan sampai membiarkan air tergenang di tempat-tempat itu.

”Kalau bak mandi harus lebih sering dikuras agar tidak ada jentik nyamuk. Ada jentik berarti kita terancam demam berdarah,” ucapnya.

1 jentik betina, dalam 12 14 hari akan berubah jadi nyamuk dewasa. 1 nyamuk betina dewasa sekali bertelur menghasilkan 100-150 butir telur.

Dalam sebulan nyamuk bisa bertelur kurang lebih 4 kali. Jadi dalam sebulan nyamuk bisa bertelur antara 400 sampai 600 telur.

”Jangan salah sasaran dalam melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) bukan memotong pohon, bersih-bersih rumput, menata bunga, dan lain-lain, karena jentik tidak bersarang di rerumputan,” kata dr. Siti.

Selain itu, perlu diketahui juga jam aktivitas nyamuk Aedes Agypti dan Aedes Albopictus, yakni pagi pukul 09.00 10.00 dan sore pukul 15.00 16.00.

Dr. Siti juga mengimbau kepada masyarakat agar sering melakukan kegiatan kerja bakti pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan perkampungan atau pedesaan. Pakai selalu lotion anti nyamuk terutama anak-anak saat pagi sebelum berangkat sekolah, saat bermain, dan sore hari.

Pengobatan

Mengobati pasien DBD bisa dengan memakan beberapa buah-buahan, seperti jus jambu biji dan buah-buahan serta sayur-sayuran yang mengandung vitamin C. Pasien DBD juga memerlukan banyak cairan. Disarankan untuk banyak minum air putih untuk memastikan kondisi pasien DBD tetap stabil. Jika kondisi belum stabil, korban bisa dilarikan ke rumah sakit.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), rawat inap sangat diperlukan bagi orang yang terkena demam berdarah serius. Pasien DBD akan melewati masa-masa kritis selama 24 hingga 48 jam lamanya. Masa-masa ini yang akan menentukan peluang pasien untuk bertahan hidup. Bila pada saat ini pasien tidak ditangani dengan tepat, akibatnya bisa fatal.

Selain menghindari gigitan nyamuk, yang harus dilakukan oleh masyarakat adalah memberantas sarang nyamuk. Karena itu masyarakat harus mengetahui dimana saja jenis sarang nyamuk agar tidak salah sasaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here