Kisah lengkap taruna ATKP Makassar meninggal dikeroyok seniornya

SOLORAYA.COM – Tubuhnya terbujur kaku dan penuh luka lebam. Begitulah kondisi taruna Akademik Teknis Keselatan Penerbangan (ATKP) Makassar, Aldama Putra Pongkala sesaat setelah meninggal di Rumah Sakit (RS) Sayang Rakyat pada 2 Februari 2019 lalu.


Keluarga yang kali pertama menerima kabar meninggalnya Aldama adalah Pelda Daniel Pongkala, ayahnya. Daniel diberitahu oleh pihak kampus melalui telepon oleh pengasuh ATKP yang juga merupakan anggota TNI AU, minggu malam sekira pukul 23.00 WITA.

“Saya mendapat telefon dari pengasuhnya, saya disuruh ke rumah sakit. Awalnya dikasih tau anak saya jatuh di kamar mandi dan belum kasih tau bahwa dia meninggal dunia jadi saya menuju ke sana, di perjalanan saya pikir anak saya hanya luka atau patah tulang,” kata Daniel sebagaimana dilansir OkeZone.

Dok. Istimewa

Namun, faktanya Aldama meninggal setelah dikeroyok oleh seniornya. Bahkan polisi telah menetapkan satu orang senior yakni Muhammad Rusdi (21), yang diduga terlibat dalam kasus pengroyokan tersebut.

Kapolrestabes Makassar Kombes Wahyu Dwi Ariwibowo menyebut penetapan tersangka itu dilakukan setelah pihaknya melakukan pemeriksaan secara marathon, dari kemarin pagi sampai tadi malam.

“Kasus penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia, jadi kronologi, pada saat si korban pulang dari kegiatan IPL,” kata Dwi.

Kronologi
Pengroyokan Aldama sendiri bermula lantaran hal sepele. Pasalnya, senior tersebut tegas menganiaya juniornya itu karena Aldama tak menggunakan helm ketika masuk ke dalam kampus tersebut.

Baca juga  Viral! Tolak Rekomendasi Ijtimak Ulama, FPI Tarik Dukungan Terhadap Prabowo

“Jadi pelanggaran dan dilihat yang tidak menggunakan helm, di situlah ditegur, baru dipanggil ke kamar salah satu senior. Dan disitulah terjadi kasus penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia,” ujar Kapolrestabes.

Senior diskorsing dan terancam dipecat
Rusdi kini diskorsing oleh pihak kampus. Sanksi drop out baru akan dijatuhkan setelah adanya keputusan yang sifatnya inkrah.

“Kita sudah bentuk tim investigasi. Kami juga sudah laksanakan rapat dewan kehormatan taruna dan memutuskan, MR ini diskorsing untuk memudahkan proses penyidikan oleh polisi,” kata Dirut ATKP Makassar, Agus, Rabu (6/2/2019).

Pihak kampus sejauh ini masih terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Semua alat bukti seperti rekaman CCTV juga sudah diamankan. Pihak kampus juga mengaku menanggung semua biaya mulai proses pemakaman korban.

“Kami berkoordinasi terus dengan pihak kepolisian untuk memudahkan proses penyelidikannya. Kita berharap ini bisa tuntas. Pihak kami yang akan tanggung semua proses pemakamannya,” lanjutnya seperti dilansir VivaNews.

Jenazah Aldama dimakamkan, Rabu siang (6/2/2019). Mulai dari proses penyerahan jenazah dari orang tua ke pihak ATKP Makassar sampai pemakaman, dilakukan dengan upacara kebesaran yang melibatkan puluhan taruna dan taruni. INews mengabarkan, pelaksanaan upacara pun berlangsung hikmat, dihadiri ratusan keluarga dan kerabat korban yang datang memberikan ucapan belasungkawa.

Meski sudah berusaha untuk tegar, orang tua Aldama mengaku belum bisa melupakan banyak kenangan dari sosok anaknya itu.

Apa lagi, sebelum meninggal, Pelda Daniel Pongkala yang merupakan prajurit TNI Angkatan Udara di Lanud Hasanuddin, sempat mengantar putranya itu sampai di depan kampus. Bahkan sebelum berpisah, Aldama sempat hormat dan memeluk ayahnya.

Baca juga  Penggalangan dana Kampanye Prabowo Subianto, Ahok sumbang Rp 250 juta

“Kenangan terakhir dengan anak saya itu, saat saya antar dia ke kampus. Dia dengan sikap tegap hormat patah-patah ke saya dan memeluk saya dengan erat. Saya sangat bangga sekali melihat putra saya saat itu. Mungkin itu pertanda, tapi tidak ada firasat sama sekali,” lanjutnya.

Putra semata wayang, pasangan Pelda Daniel Pongkala dan Mariyati itu, lahir di Makassar, 13 Mei 2000. Sebelum masuk ke ATKP jurusan Lalulintas Udara (LLU) pada Juli 2018, ia menamatkan Sekolahnya SMA Angkasa Lanud Hasanuddin.

Curhat terakhir

Sebelum tewas, Aldama ternyata sempat curhat kepada rekan satu angkatannya mengenai kehidupannya dilingkungan akademik tersebut. Menurutnya, ketika menjalani bangku sekolah, dirinya kerap dipukul oleh seniornya.

Sahabat Aldama, Arman (19) mengaku sudah berteman dengan Aldama sejak usia empat tahun. Arman mengaku selalu mendengar curhatan Aldama. Yang terakhir mendengarkan curhat Aldama pada Sabtu (2/2/2019) ketika melakukan weekend.

“Kalau sudah pulang dari ATKP Makassar, dia pasti hubungi saya untuk pergi ke warung kopi, biasanya dia cerita kalau sering mendapatkan pemukulan, beruntung kalau dalam sehari tidak dipukuli,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here