Supermoon, warga kawasan pesisir diimbau waspada

SOLORAYA.COM – Supermoon terjadi bersamaan dengan gerhana bulan total pada 19-22 Januari 2019. Fenomena itu bakal memengaruhi kondisi pasang maksimum air laut di beberapa wilayah pesisir Indonesia.

Apa itu Supermoon?

Supermoon merupakan fenomena bulan purnama yang nampak lebih besar 14 persen dari ukuran rata-ratanya.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, menuturkan masyarakat di seluruh Indonesia bisa mengamati supermoon pada 21 Januari 2019.

Ilustrasi. (Pixabay)

Istilah supermoon kali pertama dikemukakan oleh astrolog Richard Nolle pada tahun 1979 yang menggambarkan keadaan bulan penuh ketika bulan berada dalam posisi terdekatnya dengan Bumi (apsis/perigee). Istilah ini tidak diterima secara luas, terutama di kalangan ilmuwan.

Secara spesifik, supermoon atau bulan super bisa merupakan bulan purnama atau bulan baru, yang jaraknya dengan bumi sekitar 10% atau kurang dari jarak lintasannya dengan bumi. Ketika fenomena ini terjadi, bulan tampak lebih besar dan lebih terang, meskipun perubahan jaraknya hanya beberapa kilometer.

Fenomena bulan super sebelumnya terjadi tahun 1955, 1974, 1992, 2005, 2011, dan 2014.

Bulan super kadang dihubung-hubungkan dengan bencana alam, seperti gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain. Itu karena waktu terjadinya bulan super hampir selalu berdekatan dengan terjadinya suatu bencana alam tertentu.

Baca juga  Vanessa Angel resmi jadi tersangka, ini pasal yang menjeratnya

Namun, supermoon tidak cukup kuat untuk memengaruhi permukaan tanah ataupun gunung berapi di Bumi, pengaruh dari fenomena bulan super ini di bumi hanyalah naiknya permukaan laut sekitar beberapa inci di beberapa daerah.

Pengaruh fenomena bulan super terhadap peningkatan aktivitas seismik justru terjadi di permukaan bulan sendiri, meskipun efeknya tidak terlalu besar. Ketika berada dalam keadaan bulan super, bulan mengalami gempa. Hal ini terdeteksi oleh instrumen seismologi yang ditinggalkan oleh para astronot Apollo 11 di bulan.

Kawasan pesisir

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, fenomena tersebut bisa mengganggu kegiatan transportasi, perikanan, produksi garam, dan bongkar-muat di pelabuhan di wilayah pesisir Indonesia.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo menuturkan, kawasan pesisir yang dimaksud meliputi pesisir utara Jakarta, pesisir utara Jawa Tengah, pesisir utara Jawa Timur, pesisir Cilacap, pesisir Tanjung Benoa, pesisir Kalimantan Barat, dan pesisir Makassar.

“Untuk wilayah Jakarta, bisa berpotensi banjir bila terjadi hujan lebat di wilayah hulu jika air tidak terserap, dan terhambat mengalir ke laut karena sedang pasang naik,” kata Mulyono sebagaimana dilansir CNN Indonesia.

Beberapa kawasan wisata yang berada di kawasan pesisir utara Jawa meliputi Pantai Ancol, Kepulauan Karimun Jawa, hingga Pantai Pasir Putih Situbondo.

Baca juga  Unik dan asyik, ini 6 gunung di Indonesia yang kompak betopi secara bergiliran

Sementara itu objek wisata di pesisir Cilacap meliputi Pantai Kamulyan, Pantai Sodong, dan Kampung Laut Cilacap.

Sedangkan Pesisir Kalimantan Barat meliputi Pantai Sinam, Pantai Sungai Kinjil, dan Panai Pecal Ketapang. Pada Pesisir Makassar meliputi beberapa objek wisata seperti Pantai Losari dan Pantai Akkarena.

Semua pantai tersebut merupakan objek wisata andalan yang kerap dipadati oleh wisatawan yang ingin berlibur.

Menurutnya fenomena supermoon yang terjadi saat bulan berada pada posisi perigee, jarak terdekat bulan terhadap bumi, yang disertai dengan bulan purnama, bisa menyebabkan air laut pasang naik.

Oleh karena itu pejabat BMKG mengimbau warga yang tinggal di daerah pesisir waspada dan siaga mengantisipasi kemungkinan terjadinya pasang maksimum air laut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here