Lirik lagu “Jogja Istimewa”, sejarah, makna, kutipan tokoh, dan khord-nya!!!

SOLORAYA.COM – Lagu Jogja Istimewa yang sempat ngehits sepuluh tahun lalu kini kembali jadi bahan perbincangan di dunia maya. Itu terjadi semenjak lirik lagu tersebut digubah untuk dukungan ke capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, terlebih saat pelantun lagunya mengungkapkan protesnya di media sosial.

Ya, rapper asal Yogyakarta, Marzuki Mohamad atau dikenal dengan nama Kill The DJ memprotes gubahan lagu tersebut di media sosial. Awalnya bahkan ia menyatakan membuka pintu maaf saat lagu ‘Jogja Istimewa’ diubah liriknya menjadi dukungan ke capres Prabowo Subianto. Sayangnya, permintaan maaf tak kunjung datang, jalur hukum menjadi pilihannya.

Marzuki Mohamad. (Instagram)

Awalnya, Marzuki mengemukakan protesnya lewat media sosial. Dia tidak terima lagu ‘Jogja Istimewa’ diubah liriknya untuk komersial maupun kampanye.

Maling laguuuu bangs*t !!! Yang gak terima bukan cuma saya sebagai pemilik hak cipta, orang Jogja juga gak akan terima lagu ini dipakai buat kampanye Pilpres !!!” tulis Marzuki di Twitter, Senin (14/1/2019) kemarin.

Video yang diprotes Marzuki diunggah oleh akun Twitter dan Instagram @CakKhum. Dalam video itu, tampak ibu-ibu menyanyikan lagu ‘Jogja Istimewa’ dengan lirik yang diubah menjadi dukungan ke Prabowo. Berikut liriknya:

Jogja Jogja Jogja Istimewa
Prabowo Sandi Pilihan Kita
Jogja Jogja Jogja Istimewa
Adil dan Makmur Tujuan Kita

Padahal, lirik asli lagu tersebut adalah sebagai berikut:

Jogja Jogja Tetap Istimewa
Istimewa Negrinya, Istimewa Orangnya
Jogja Jogja Tetap Istimewa
Jogja Istimewa untuk Indonesia

Marzuki mengancam akan membawa masalah ini ke jalur hukum.

View this post on Instagram

Karena video ini sudah viral dan banyak yang salah persepsi kepada saya, selaku pencipta lagu Jogja Istimewa yang dinyanyikan bersama @javahiphop – maka dengan ini saya perlu melakukan klarifikasi: . Bahwa saya tidak akan pernah memberikan ijin kepada siapa pun lagu Jogja Istimewa tersebut digunakan untuk kampanye pilpres, baik itu pasangan nomer urut 01 maupun 02. Bagi saya, @javahiphop, dan sebagian besar warga Yogyakarta, pasti tahu sejarah dan kebanggaan pada lagu tersebut, itu kenapa saya tidak akan pernah mengganti liriknya untuk tujuan lain, baik komersil apalagi kampanye politik. Meskipun saya pendukung @jokowi saya tidak akan pernah mengkhianati nilai lagu tersebut dengan mengubah liriknya. . Siapa pun Anda yang mengubah lagu tersebut, membuat videonya, dan ikut menyebarkanya, Anda telah melanggar undang-undang dan saya bisa membawanya ke ranah hukum. . Terakhir saya berpesan, apapun pilihan Anda, 01, 02, Golput, tolong warisi bangsa ini dengan etika yang benar, menjiplak lagu orang lain jelas tidak beretika dan melanggar hukum, plus, jangan warisi generasi mendatang dengan fitnah dan sampah kebencian. . Sekian & terima kasih

A post shared by Marzuki Mohamad (@killthedj) on

BPN Prabowo-Sandi sarankan relawan minta maaf

Terkait dengan kabar tersebut, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade meminta para relawan tersebut meminta maaf kepada Marzuki selaku pencipta lagu.

“Kalau yang bersangkutan komplain, ya sudah relawan-relawan kami ini jangan lagi gunakan itu. (Relawan) tinggal minta maaf,” ujar Andre.

Andre mengaku baru tahu relawan Prabowo-Sandi, yang didominasi ibu-ibu itu menyanyikan lagu ‘Jogja Istimewa’ dengan mengubah liriknya. Dalam lirik tersebut, disisipkan kalimat ‘Prabowo-Sandi’ pilihan kita.

Menurut Andre, penggunaan lagu tersebut merupakan inisiatif dari para relawan di Yogyakarta yang begitu semangat mengampanyekan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor 02 Prabowo-Sandi.

“Kami menyarankan kepada relawan kami, bukan BPN yang minta maaf. Kita tunjukkan kesantunan dan etika kita dengan meminta maaf,” ujarnya.

Andre pun meminta agar para relawan Prabowo-Sandi lebih berhati-hati ketika ingin menggunakan lagu milik orang lain untuk kepentingan kampanye Pilpres 2019.

“Bagi teman-teman relawan untuk berhati-hati, pelajari dulu untuk penggunaan lagu, lirik lagu,” kata dia.

Sementera itu, Anggota Direktur Advokasi dan Hukum BPN Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean meminta Marzuki selaku pencipta lagu tersebut memahami ibu-ibu yang tak memahami soal Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta.

“Marilah kita jernih melihat bahwa para emak itu tidak paham tentang undang-undang hak cipta jadi mereka melakukan itu tidak merasa akan salah,” kata Ferdinand sebagaimana dilansir CNN Indonesia.

Marzuki sempat menanti permintaan maaf 

Atas tanggapan BPN Prabowo-Sandi, Marzuki sempat menunggu permintaan tersebut dengan memberi batas waktu.

“Aku tunggu hingga siang ini,” cuitnya.

Namun, hingga akhirnya Selasa (15/1/2019) siang berlalu, tidak ada permintaan maaf kepada Marzuki. “Belum ada permintaan maaf resmi. Waktu habis,” tulisnya pada pukul 14.25 WIB.

Marzuki akhirnya mendatangi Polda DIY. Dia melaporkan dua akun media sosial dengan sangkaan pelanggaran Undang-Undang Hak Cipta dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Melaporkan pemilik dua akun media sosial, Twitter dan Instagram, atas nama yang sama, atas nama CakKhum,” kata kuasa hukum Marzuki, Hilarius Ngaji Mero, di Mapolda DIY, Jalan Pajajaran Ringroad Utara, Sleman.

Sejarah, maknda, kutipan tokoh dan kunci gitarnya
Untuk diketahui, lagu ini sesungguhnya dirilis 9 November 2009 lalu. Lagu ini sontak menjadi lagu favorit masyarakat Yogyakarta. Liriknya  sering dinyanyikan di berbagai acara besar di Yogyakarta. Seperti saat sidang rakyat Yogyakarta yang menentang Rancangan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta oleh pemerintah pusat pada 13 Desember 2010 lalu. Lagu ini turut hadir.

Seiring berjalannya waktu, lagu Jogja Istimewa kembali hadir di kerumunan orang. Namun, kali ini bukan dari pihak keraton, melainkan tim pendukung Prabowo-Sandi. Liriknya pun diubah. Kill The DJ sang penulis meradang. Wajar, karena proses penciptaan lagu ini melalui proses yang panjang.

Referensi literasi

Sebelum merampungkan lagu ini, Kill The DJ terlebih dahulu menyelesaikan membaca 3 buku sejarah terkait Yogyakarta, yakni Tahta untuk Rakyat, Kraton Yogyakarta; Sejarah, Nasionalisme, dan Teladan Perjuangan, dan Perubahan Sosial di Yogyakarta.

Buku biografi Sultan HB IX, Tahta untuk Rakyat yang paling berkesan. Buku ini menerangkan secara gamblang kepribadian Sultan HB IX yang mungkin sebelumnya hanya seperti cerita rakyat,” tulisnya di laman Kill The Blog.

Kutipan ungkapan tokoh-tokoh besar

Sebanyak 70% dari Lirik Jogja Istimewa Merupakan Ungkapan Tokoh-Tokoh Besar
Marzuki Mohamad memaparkan secara detail tentang isi lirik yang adal dalam lagu tersebut. Ia mengungkapkan 70% lirik dalam Jogja Istimewa mengambil kalimat-kalimat yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh besar seperti; Soekarno, Sultan HB 9, Ki Hadjar Dewantoro, RM Sosrokartono, dan banyak lagi.

Selebihnya adalah hasil tulisan saya sendiri, meskipun harus saya akui, bahwa saya sangat terinspirasi oleh teks-teks tradisional Jawa. Saya merubah teks-teks itu ke dalam rima agar lebih enak di-rap-kan,” jelasnya.

Berikut ini penjelasan lengkapnya!

Pembukaan lagu “Holopis Kuntul Baris…”. Kata ini merupakan ungkapan tradisional Jawa, sebuah ajakan untuk bekerja bersama-sama.

Kemudian masuk ke bait berikut ini

Jogja! Jogja! Tetap Istimewa
Istimewa Negrinya, Istimewa Orangnya
Jogja! Jogja! Tetap Istimewa
Jogja Istimewa untuk Indonesia

Rungokna iki gatra saka ngayogyakarta
Nagari paling penak rasane koyo swarga
Ora peduli donya dadi neraka
Neng kene tansah edi peni lan merdika

Kata-kata ini sesungguhnya diucapkan Soekarno untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap kraton dan rakyat Yogyakarta dalam perjuangan kemerdekaan.

Seratus persen karya Kill The DJ, teks ini juga digunakan untuk lagu Dubyouth feat. Ki Jarot Bombassu. Artinya; “dengarlah ini untaian kata dari Yogyakarta, Negeri paling nyaman seperti surga, tidak peduli dunia sudah jadi neraka, di sini kami selalu nyaman dan merdeka

Tanah lahirkan Tahta, Tahta untuk Rakyat
Dimana Rajanya Bercermin di kalbu Rakyat
Demikianlah singgasana bermartabat
Berdiri kokoh tuk mengayomi rakyat

Semangat tahta Sultan Hamengku Buwana IX (HB IX) yang kemudian ditambahi oleh anaknya Sultan HB X dalam jumenengan atau diangkat menjadi raja.

Memayu hayuning bawana

Visi Kraton Yogyakarta yang dicangangkan oleh HB I, artinya; membuat bumi menjadi indah, atau dalam Islam; Islam rahmatal lil alamin

Saka jaman perjuangan nganthi mardhika
Jogja istimewa bukan hanya daerahnya
Tapi juga karena orang-orangnya

Kembali merujuk ungkapan Soekarno.

Tambur wis ditabuh suling wis muni
Holopis kuntul baris ayo dadi siji
Bareng para prajurit lan senopati
Mukti utawa mati manunggal kawula Gusti

Tulis Kill The DJ sendiri, namun terpengaruh oleh teks-teks macapat tradisional kraton. Artinya seperti ini; “Tambur telah ditabuh, seruling sudah berbunyi, Bersatu padu menjadi satu, Bersama prajurit dan senopati, Mulia atau mati rakyat dan raja adalah satu.”

Menyerang tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan
Kesaktian tanpa ajian
Kekayaan tanpa kemewahan

Teks aslinya seperti ini: “Nlgurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sugih tanpa raja brana, sekti tanpa aji” ditulis oleh RM Sosrokartono menggambarkan pribadi Sultan HB 9.

Tenang bagai ombak gemuruh laksana Merapi

Teks dari puisi WS Rendra.

Tradisi hidup di tengah modernisasi
Rakyate jajah deso milang kori
Nyebarake seni lan budi pekerti

Tulis Kill The DJ, dengan mengambil pepatah Jawa; “Jajah desa milangkori” yang artinya berkelana ke mana-mana.

Elingo sabdane Sri Sultan Hamengkubuwono kaping sanga
Sak duwur-duwure sinau kudune dewe tetep wong Jawa
Diumpamakne kacang kang ora ninggal lanjaran
Marang bumi sing nglahirake dewe tansah kelingan

Salah satu ungkapan yang sangat saya kagumi dari Sultan HB IX: “ik ben een blijf in de allereerste plaats javaav”, dalam bahasa Indonesia Sultan HB IX menerangkan seperti ini; “setinggi-tingginya aku belajar ilmu barat, aku adalah dan bagaimanapun jua tetap Jawa”.
Ing ngarso sung tuladha
Ing madya mangun karsa
Tut wuri handayani
Holopis kuntul baris ayo dadi siji

Inilah konsepsi social movement Jawa yang dipopulerkan oleh bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara; “yang di depan meberi contoh, yang di tengah memberi dorongan, yang di belakang memberi semangat, jika inging mulia harus dengan usaha

Sepi ing pamrih rame ing nggawe

Ungkapan Jawa untuk “perjuangan tak kenal pamrih, tapi bekerja secara nyata

Sejarah wus mbuktekake
Jogja istimewa bukan hanya untuk dirinya
Jogja istimewa untuk Indonesia

Ini kembali merujuk ungkapan Soekarno “sejarah sudah membuktikan”.

Khor lagu

Nah, ini dia khord atau kunci gitarnya kalau ingin menyanyikan lagunya. Silakan klik di sini!

Sekilas tentang Marzuki Mohamad

Mohammad Marzuki lahir di Klaten, 21 Februari 1975. Pria ini bisa dikatakan sebagai inspirator bagi musisi hip-hop Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Tiga tahun sebelum Jogja Hip Hop Foundation berdiri, dia sudah merambah luar negeri.

Tahun 2003, Juki mendirikan Jogja Hip Hop Foundation. Wadah yang diistilahkan sebagai ”ruang tanpa tembok” itu menjadi kendaraannya. Dari Jogja Hip Hop Foundation tersebut, setidaknya telah ditetaskan dua album bertitel Poetry Battle pada tahun 2007 dan 2008.

Album kompilasi sejumlah musisi hip-hop itu dicetak masing-masing ribuan keping CD dan ludes dalam hitungan bulan. Potensi hip-hop kemudian semakin terlihat. Maka, tidak mengherankan jika publik lalu menanti-nanti dirilisnya Poetry Battle yang ketiga. Namun, harapan publik itu tampaknya tidak bakal terwujud.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here