Ahok bebas 24 Januari, begini kabar terbaru tentang rencana pernikahannya dengan Bripda Puput

SOLORAYA.COM – Mantan Gubernur DKI Jakarta yang juga narapidana kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok akan bebas pada Kamis 24 Januari 2019. Setelah bebas, Ahok dikabarkan memiliki sejumlah rencana, termasuk pernikahannya dengan seorang polwan cantik Bripda Puput Nastiti Devi pada 15 Februari mendatang.


Ahok, menurut Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, akan dibebaskan dari Rumah Tahanan Markas Komando Brigade Mobil, Depok. Walau begitu, urusan administrasi pembebasannya akan diurus di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.

Ahok. (Instagram)

“Prosedur administrasinya diselesaikan di Cipinang, nanti pembebasannya di Mako,” katanya.

Pernikahan
Kabar itu pertama kali disampaikan sahabatnya, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi (Pras). Pras mengatakan kepastian soal pernikahan tahun ini tersebut didapatkan setelah mengunjungi Ahok.

“Kabar pernikahan Ahok, apa yang saya katakan kemarin pas besuk. Beliau mengatakan mau kawin. Itu saja, kok. Tanggal berapa, Pak Ahok kan suka bercandaan karena sahabat. Yang jelas tahun ini dia akan married,” jelas Pras di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (22/1/2019) yang lalu.

Dia mengaku tidak tahu Ahok telah menjalin komunikasi intensif dengan Bripda Puput Nastiti Devi selama di penjara. Menurutnya, Ahok merupakan sosok yang tidak suka bertele-tele dalam menjalin hubungan dengan perempuan. Pras mengatakan dirinya bersama Djarot Saiful Hidayat akan menjadi saksi pernikahan mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Sudah diurus orangtua
Terkait dengan kabar terkini persiapan pernikahan tersebut, Lurah Pasir Gunung Selatan, Depok, Aslih Sinten mengatakan orang tua Bripda Puput Nastiti Devi sudah mengurus administrasi pernikahan anaknya dengan Ahok. Aslih mengatakan Ahok dan Puput menikah secara resmi.

“Kalau sudah pakai pengantar gitu kan resmi berarti…,” ujar Aslih, Rabu (23/1/2019).

Aslih mengatakan orang tua Puput mengurus administrasi seminggu lalu. Dia mengatakan Puput berdomisili di Pasir Gunung Selatan, Depok. Karena menikah secara resmi, Aslih menambahkan, Ahok dan Puput tak mungkin beda agama.

Aslih mengatakan, saat menandatangani surat pengantar menikah yang diurus orang tua Puput, di kolom agama tertulis Kristen. Dia tidak ingin berspekulasi soal Puput yang pindah agama.

Aslih sebagaimana dilansir DetikNews, hanya mengatakan apa yang dilihatnya di surat tersebut.

“Ya nggak mungkin beda agama, tapi setahu saya surat penghadapan ke saya agama dia ini Kristen. Memang adanya begitu,” ucap dia.

“Saya nggak tahu dia muslim, (atau) Kristen, tapi di administrasi ya begitu…,” tambah Aslih.

Bripda Puput tidak ikut jemput
Pengacara Ahok, Teguh Samudera memastikan Bripda Puput Nastiti Devi tidak ikut menjemput pembebasan kliennya pada 24 Januari 2019. “Tidak ikut,” katanya. Dia mengatakan Ahok hanya akan dijemput oleh keluarganya.

Baca juga  Kisah pertemuan pertama Ahok dengan Puput sebelum kepincut

Namun, Teguh tidak menjelaskan alasan mengapa Puput tak ikut menjemput Ahok. Namun, Ahok memang meminta agar masyarakat tak menjemput pembebasannya secara beramai-ramai. “Supaya tidak terjadi kemacetan yang bisa merugikan masyarakat,” ujarnya sebagaimana dilansir Tempo.

Tentang Ahok

Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M lahir di Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966 atau paling dikenal dengan panggilan Hakka Ahok adalah Gubernur DKI Jakarta yang menjabat sejak 19 November 2014 hingga 9 Mei 2017.

Pada 14 November 2014, ia diumumkan secara resmi menjadi Gubernur DKI Jakarta pengganti Joko Widodo, melalui rapat paripurna istimewa di Gedung DPRD DKI Jakarta. Basuki resmi dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden Joko Widodo pada 19 November 2014 di Istana Negara, setelah sebelumnya menjabat sebagai Pelaksana Tugas Gubernur sejak 16 Oktober hingga 19 November 2014.

Purnama merupakan warga negara Indonesia dari etnis Tionghoa dan pemeluk agama Kristen Protestan pertama yang menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta pernah dijabat oleh pemeluk agama Katolik, Henk Ngantung (Gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965).

Basuki pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI dari 2012-2014 mendampingi Joko Widodo sebagai Gubernur. Sebelumnya Basuki merupakan anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 dari Partai Golkar namun mengundurkan diri pada 2012 setelah mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI Jakarta untuk Pemilukada 2012.

Dia pernah pula menjabat sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005-2006. Ia merupakan etnis Tionghoa pertama yang menjadi Bupati Kabupaten Belitung Timur.

Pada tahun 2012, ia mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI berpasangan dengan Joko Widodo, wali kota Solo. Basuki juga merupakan kakak kandung dari Basuri Tjahaja Purnama, Bupati Kabupaten Belitung Timur (Beltim) periode 2010-2015.

Dalam pemilihan gubernur Jakarta 2012, mereka memenangkan pemilu dengan presentase 53,82% suara. Pasangan ini dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).

Pada 10 September 2014, Basuki memutuskan keluar dari Gerindra karena perbedaan pendapat pada RUU Pilkada. Partai Gerindra mendukung RUU Pilkada sedangkan Basuki dan beberapa kepala daerah lain memilih untuk menolak RUU Pilkada karena terkesan “membunuh” demokrasi di Indonesia.

Pada tanggal 1 Juni 2014, karena Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengambil cuti panjang untuk menjadi calon presiden dalam Pemilihan umum Presiden Indonesia 2014, Basuki Tjahaja Purnama resmi menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta. Setelah terpilih pada Pilpres 2014, tanggal 16 Oktober 2014 Joko Widodo resmi mengundurkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta. Secara otomatis, Basuki menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta.

Baca juga  Keuangan dan karier seseorang berdasarkan shio di Tahun Babi Tanah

Basuki melanjutkan jabatannya sebagai Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta dengan dukungan Gerindra dan PDIP, namun setelah pertentangan mengenai RUU Pilkada ia kehilangan dukungan dari Gerindra. Sementara dukungan PDIP didapat dari Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat. Ia kemudian berusaha maju kembali menjadi Calon Gubernur melalui jalur (independen), namun kemudian memutuskan menggunakan usungan dari partai.

Pada 9 Mei 2017, Basuki divonis dua tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara karena kasus penodaan agama.

Basuki adalah putra pertama dari Alm. Indra Tjahaja Purnama (Tjoeng Kiem Nam) dan Buniarti Ningsih (Boen Nen Tjauw). Ia lahir di Belitung Timur, Bangka Belitung pada tanggal 29 Juni 1966. Basuki memiliki empat orang adik, yaitu Basuri Tjahaja Purnama (dokter PNS dan Bupati di Kabupaten Belitung Timur), Fifi Lety (praktisi hukum), Harry Basuki (praktisi dan konsultan bidang pariwisata dan perhotelan), dan Frans yang meninggal dunia pada usia remaja. Keluarganya adalah keturunan Tionghoa-Indonesia dari suku Hakka (Kejia).

Masa kecil Basuki lebih banyak dihabiskan di Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, hingga selesai menamatkan pendidikan sekolah menengah tingkat pertama. Setamat dari sekolah menengah pertama, ia melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Di Jakarta, Basuki menimba ilmu di Universitas Trisakti dengan jurusan Teknik Geologi di Fakultas Teknik Mineral. Selama menempuh pendidikan di Jakarta, Ahok diurus oleh seorang wanita Bugis beragama Islam yang bernama Misribu Andi Baso Amier binti Acca. Setelah lulus dengan gelar Insinyur Geologi, Basuki kembali ke Belitung dan mendirikan CV Panda yang bergerak di bidang kontraktor pertambangan PT Timah pada tahun 1989.

Basuki menikah dengan Veronica, kelahiran Medan, Sumatera Utara, dan dikaruniai 3 orang putra-putri bernama Nicholas Sean Purnama, Nathania Berniece Zhong, dan Daud Albeenner Purnama. Basuki menceraikannya pada tahun 2018, ia mendapatkan hak asuh anak kedua dan ketiga.

Nama panggilan “Ahok” berasal dari ayahnya. Mendiang Indra Tjahja Purnama ingin Basuki menjadi seseorang yang sukses dan memberikan panggilan khusus baginya, yakni “Banhok”. Kata “Ban” sendiri berarti puluhan ribu, sementara “Hok” memiliki arti belajar. Bila digabungkan, keduanya bermakna “belajar di segala bidang.” Lama kelamaan, panggilan Banhok berubah menjadi Ahok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here