Kronologi lengkap kasus ujaran kebencian yang menjerat Ahmad Dhani hingga masuk penjara

SOLORAYA.COM – Dhani Ahmad Prasetyo alias Ahmad Dhani kini menghuni hotel prodeo. Musisi yang juga suami penyanyi aduhai Mulan Jameela tersebut resmi mendekam di Rumah Tahanan (rutan) Cipinang, Jakarta Timur atas kasus ujaran kebencian.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis satu tahun enam bulan atau 1,5 tahun penjara terhadap Dhani. Pengadilan menganggap Dhani bersalah telah melakukan ujaran kebencian dan memerintahkan pentolan band Dewa 19 itu langsung ditahan.

Kronologi lengkap

Kasus ujaran kebencian yang menyeret Dhani berawal saat ia menuliskan twit di akun Twitter @AHMADDHANIPRAST pada Maret 2017 lalu. Setelah itu, Ahmad Dhani pun menjalani proses hukum yang panjang hingga akhirnya dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang untuk menjalani masa hukuman.

Ahmad Dhani dan Mulan Jameela. (Instagram)

Pada awal 2017, melalui akun Twitter-nya, Ahmad Dhani membuat sejumlah twit kontroversial yang dinilai memuat ujaran kebencian. Setidaknya terdapat tiga twit yang kemudian diperkarakan terhadap pentolan grup band Dewa 19 ini hingga harus berurusan dengan hukum.

Atas twit-twit yang dinilai memuat ujaran kebencian tersebut, Ahmad Dhani dilaporkan oleh pendiri BTP Network, kelompok pendukung Ahok-Djarot, Jack Boyd Lapian. Ia dilaporkan atas dugaan pelanggaran terhadap Pasal 28 Ayat (2) juncto Pasal 45 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Laporan itu diserahkan ke kepolisian pada 9 Maret 2017, selang dua hari setelah twit kontroversial diunggah Dhani. Menurut Jack, apa yang dituliskan Dhani ini bersifat menghasut dan menyulut kebencian.

Adapun laporan yang ia buat ditujukan agar muncul efek jera bagi para pelaku penyebaran ujaran kebencian. Dari keterangan yang diberikan oleh Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto, terdapat lima alat bukti yang diserahkan untuk perkara ini. Bukti-bukti itu berupa tangkapan layar atas twit yang dilaporkan, satu unit ponsel, sebuah SIM card, sebuah akun e-mail beserta kata kuncinya, dan akun Twitter Ahmad Dhani.

Atas kasus yang menjeratnya, Ahmad Dhani akhirnya ditetapkan menjadi tersangka kasus ujaran kebencian. Berdasarkan pengakuan kuasa hukumnya, Ali Lubis, pada 23 November 2017 kliennya menerima surat panggilan pemeriksaan sebagai tersangka.

Pemeriksaan itu akan dilakukan sepekan kemudian, 30 November 2017 di Polres Jakarta Selatan. “Kalau penetapan kapannya saya kurang tahu persisnya. Namun, surat panggilan tertanggal 23 November 2017,” kata Ali.

Dhani sebagaimana dilansir Kompas, menjalani sidang perdana untuk kasus ujaran kebencian yang dialamatkan padanya pada 16 April 2018 di PN Jaksel dengan agenda pembacaan dakwaan. Ia dituntut penjara 2 tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan yang digelar 26 November 2018 di PN Jaksel.

“Menuntut atau meminta supaya majelis hakim memutuskan menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Ahmad Dhani Prasetyo dengan hukuman penjara selama dua tahun,” ucap JPU.
Ia diduga melanggar diduga melanggar Pasal 45A Ayat 2 juncto Pasal 28 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 55 Ayat 1 KUHP.

Baca juga  Gubernur Anies Bentuk Banyak Tim, Ketua DPRD DKI: Ya Pemborosan

Atas tuntutan yang diterima, Ahmad Dhani dan tim kuasa hukumnya menyusun pleidoi atau nota pembelaan untuk meringankan tuntutan JPU. Pembelaan itu dibacakan langsung oleh Dhani pada sidang pembelaan 10 Desember 2018. “Pledoi ada dua, ada dari tim penasehat hukum saya dan satu lagi dari saya,” kata Dhani.

Akan tetapi, tim JPU menolak semua pledoi yang diajukan Ahmad Dhani dan tim kuasa hukumnya. Jaksa Dwijayanti membacakan penolakan tersebut pada sidang yang digelar 7 Januari lalu. Menurut dia, pledoi yang diajukan Dhani tidak akan melemahkan tuntutan jaksa yang diberikan pada Dhani.

Atas kasusnya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengeluarkan surat permohonan pencegahan terhadap Ahmad Dhani per April 2018. Ia dilarang untuk meninggalkan Indonesia untuk keperluan apa pun.

Dhani tidak mengetahui apa alasan pencegahan terhadap dirinya. Akibat pencegahan itu, Dhani yang dijadwalkan akan naik panggung bersama Dewa 19 di Malaysia, terancam tidak dapat memenuhi undangan. Pun dengan ajakan melaksanakan ibadah umrah dari sang anak, Dul, dan ia tidak bisa memenuhinya.

Dan, pada sidang putusan, Senin (28/1/2019) kemarin, Majelis Hakim PN Jaksel menjatuhkan vonis penjara 2 tahun penjara kepada Ahmad Dhani. “Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa Dhani Ahmad Prasetyo dengan hukuman penjara selama satu tahun enam bulan,” ujar Hakim Ketua Ratmoho. Ia menilai Dhani terbukti melanggar tindak pidana dengan sengaja menyebarkan informasi yang menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan melalui twit-twitnya.

Setelah vonis dibacakan dan sidang selesai dilakukan, Dhani langsung dibawa masuk ke mobil tahanan menuju LP Cipinang untuk mulai menjalani hukuman. Di dalam mobil tersebut juga terdapat pengacaranya, Ali Lubis, si bungsu Abdul Qodir Jaelani, dan seorang polisi perwakilan dari JPU.

Meskipun sudah hukuman sudah dijatuhkan, Dhani masih bersikeras dirinya tak lakukan ujaran kebencian sebagaimana dituduhkan. Ia dan tim kuasa hukumnya pun berencana akan mengajukan banding.

Pendukung bacakan petisi

Penahanan pentolan band Dewa 19 tersebut kontan menuai protes keras, utamanya dari para pendukungnya di dunia politik yang beberapa tahun ini digeluti oleh Ahmad Dhani. Salah satunya adalah pendukung partai Gerindra, yang menjadi kendaraan politik Dhani untuk maju pemilihan calon legislatif (caleg) tahun ini.

Pada Rabu 30 Januari 2019, para pendukung Dhani membacakan petisi untuk menolak kriminalisasi terhadap bos Republik Cinta Management tersebut. Sebut saja Neno Warisman, Gus Alam, Buni Yani, Fadli Zon, Ustaz Derry Maulana, dan juga istrinya yang cantik jelita, Mulan Jameela. Petisi tersebut mulai dibacakan dengan diikuti oleh seluruh pendukung partai Gerindra.

Dipimpin oleh pembawa acara, berikut isi lengkap petisi yang dinaungkan dalam gedung DPP Partai Gerindra, kawasan Ragunan, Jakarta Selatan.

“Kami Solidaritas Ahmad Dhani Memberikan Dukungan dan Menandatangani Petisi Penolakan Kriminalisasi Terhadap Ahmad Dhani:

1. Penahanan Ahmad Dhani setelah dijatuhkan vonis selama 1 tahun enam bulan penjara adalah lonceng kematian demokrasi di Indonesia. Ini potret kelam sekaligus kemunduran tidak hanya terhadap kebebasan berpendapat di Indonesia, tapi juga proses penegakan hukum di Indonesia.

2. Hukum tak lagi menjadi teater keadilan, melainkan sudah berubah bentuk menjadi teater kekuasaan. Kasus Ahmad Dhani ini mewakili kegelisahan banyak orang tentang bagaimana hukum. Pada hari ini tidak lagi tunduk kepada rasa keadilan publik tapi tunduk kepada selera kekuasaan.

3. Kami solidaritas Ahmad Dhani mendesak pemerintah untuk menghentikan segala bentuk kriminalisasi terhadap oposisi dan menegakkan jaminan kebebasan berpendapat

4. Kami solidaritas Ahmad Dhani mendesak institusi penegak hukum untuk tidak diskriminatif dan profesional dalam menjalankan proses hukum. Apa yang terjadi saat ini, institusi penegak hukum terkesan tajam terhadap lawan politik pemerintah, namun bersahabat pada pihak yang sejalan dengan pemerintah.

Petisi ini sebagaimana dilansir VivaNews, sekaligus meminta Pemerintah untuk menghapus aturan tersebut. Gus Alam pun mengatakan jika yang dituliskan Dhani dalam Twitternya sebagai hal yang wajar dalam kebebasan berpendapat.

Baca juga  Disita polisi, ini isi surat Ahmad Dhani untuk El

Keberatan dipindah ke Surabaya
Kuasa hukum Ahmad Dhani, Hendarsam Marantoko, mengatakan bahwa pihak keluarga keberatan dengan rencana pemindahan penahanan Dhani dari Rutan Cipinang, Jakarta Timur, ke rutan di Surabaya, Jawa Timur.

Kejaksaan Negeri Surabaya sebelumnya meminta kepada tim jaksa Jakarta Selatan untuk memindahkan penahanan Dhani ke Surabaya, agar dia bisa hadir dalam sidang perkara “vlog idiot” di Pengadilan Negeri Surabaya.

Sekadar kilas balik, pada Oktober 2018 lalu, Dhani ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jawa Timur. Dia dilaporkan Koalisi Bela NKRI karena dalam vlog itu Dhani diduga menyebut kelompok penolak deklarasi 2019 Ganti Presiden di Surabaya pada 26 Agustus lalu dengan kata “idiot”.

Kata tersebut diduga diucapkan Dhani saat nge-vlog di lobi Hotel Majapahit, Surabaya. Video itu lalu viral, memicu aksi dari massa penolak deklarasi 2019 Ganti Presiden, hingga membuat Dhani terpaksa bertahan di hotel. Akibatnya ketika itu, Dhani tidak bisa bergabung dengan kelompok pendeklarasi 2019 Ganti Presiden di sekitaran Monumen Tugu Pahlawan Surabaya.

“Dari sudut pandang kami, dalam hal ini keluarganya cukup menyulitkan. Kalau ditahan di sana, keluarga akan kesulitan bertemu Dhani,” ujar Hendarsam di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra di Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (30/1/2019).
Hendarsam berujar bahwa cukup Dhani saja yang terkenal hukuman, jangan sampai keluarganya juga terkena dampaknya.

“Jadi cukup Dhani aja, kalau keluarga akan kesulitan untuk berinteraksi. Jaksa lakukan hal lain, Jaksa harus jemput ke Jakarta. Jangan mau enaknya aja,” kata dia. “Namun apabila Kejaksaan Negeri Surabaya memindahkan untuk memudahkan, itu resiko buat kejaksaan. Biaya (transportasi) dari Jakarta ke Surabaya akan ada beban. ”

Dhani saat ini ditahan di Lembaga Permasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur, setelah divonis 1,5 tahun hukuman penjara karena kasus ujaran kebencian.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here