Perahu wisata Kali Pepe, ini info harga tiket dan foto-fotonya yang asyik

SOLORAYA.COM – Sejumlah acara dan wahana wisata disiapkan sejumlah kota di Indonesia untuk menyambut datangnya Tahun Baru Imlek. Salah satunya adalah di kawasan Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah.

Jika Anda melintas di Kota Solo saat menjelang Tahun Baru Imlek, tidak lengkap rasanya jika tidak mampir sejenak di kawasan Pasar Gede. Di kawasan pecinan-nya Kota Solo tersebut selalu dihias dengan 5000 lampion yang spektakuler dan neon box 12 shio, lampion Shio Babi, lampion Dewa Rezeki, dan lampion Punokawan di Jalan Koridor Jalan Jendral Sudirman, dan kawasan Pasar Gede.

Pengunjung bukan hanya dapat menikmati suasana malam yang indah untuk foto-foto ria, tapi juga dapat menikmati wisata air di kawasan yang masuk di wilayah Sudiroprajan, Jebres, Solo tersebut.

Ya, wisata air itu adalah Perahu Wisata Kali Pepe. Dengan hanya merogoh kocek Rp ribu, Anda dapat menikmati perjalanan menyusuri sungai bersejarah tersebut. Wahana ini mulai dibuka alias mulai beroperasi pada 5 Februari 2019 dari jam 18.00 WIB-22.00 WIB.

Nah, ini dia foto-foto penampakannya dari Dinas Pariwisata Kota Solo:

Sungai bersejarah

Kali Pepe adalah sebuah sungai yang berada di tengah-tengah kota Surakarta atau lebih dikenal dengan sebutan Solo. Keberadaan Kali Pepe dipercayai oleh beberapa ahli sejarah terkait erat dengan sejarah Kota Solo.

Nama Kali Pepe sudah disebut-sebut sejak zaman Kerajaan Pajang, atau sekitar pertengahan abad XVI. Bahkan diyakini pula telah ada semenjak zaman Kerajaan Majapahit, meski bukti tertulis yang menyebut nama kali tersebut tak ada. Dalam serat Sri Radya Laksana, keberadaan Kali Pepe terkait erat dengan terbentuknya Kota Solo.

Baca juga  Novelis NH Dini meninggal dunia karena kecelakaan

Cerita ini berawal dari zaman Kerajaan Pajang. Pangeran Pabelan, putra seorang tumenggung, dikenal sebagai buaya darat karena kesaktian dan ketampanannya. Putri Raja Pajang atau Putri Kedhaton pun sampai jatuh cinta pada pangeran yang derajadnya jauh di bawahnya itu.

Sayang cinta mereka dihalangi Raja karena perbedaan derajat dan kedudukan. Namun keduanya nekat berhubungan, sehingga Pangeran Pabelan dihukum mati dan tubuhnya dibuang ke sungai.

Mayat pangeran ini tersangkut di salah satu sungai yang berada di dusun Solo bernama Lepen Kali Pepe. Oleh penguasa tempat itu, Ki Gede Sala, tubuh lelaki malang itu dikuburkan di salah satu tempat yang sekarang bernama Bathangan. Nama itu berasal dari kata bathang, yang dalam bahasa Indonesia berarti mayat.

Tersangkutnya tubuh pangeran di Kali Pepe karena kesaktiannya. Rohnya meminta dirinya dikubur di dusun Sala. Dia menjanjikan, karena kesaktiannya, tempat sekitar kuburannya akan jadi kota besar. Selain itu Kali Pepe juga terkait dengan berdirinya Keraton Surakarta. Pada zaman Majapahit, di Bengawan Solo terdapat 44 bandar dari mulai Jawa Timur.

Baca juga  Pengawas BPJS TK yang terseret kasus pelecehan dipecat

Bandar terakhir berada di pertemuan dua arus sungai yang berada di daerah Semanggi .
Pertemuan ini adalah Bengawan Solo dan sungai yang kemungkinan besar adalah Kali Pepe, dan bertemu di daerah Semanggi. Kuntowijoyo 2000 menulis, bahwa pemilihan lokasi Keraton Surakarta di desa Sala pada abad XVIII didasarkan atas pertemuan Kali Pepe dengan Bengawan Semanggi yang disebut tempuran. Masyarakat Jawa percaya bahwa tempuran memiliki kekuatan magis.

Dusun Solo dipilih untuk menjadi tempat keraton, setelah Keraton Kartasura hancur. Selain Solo, ada beberapa tempat lain yang juga menjadi alternatif untuk mendirikan keraton baru setelah hancurnya Kartasura, yaitu Kadipolo dan Sonosewu, yang terletak di sebelah timur Bengawan Solo. Dari ramalan tim ahli dan ahli nujum Keraton, Kadipolo dianggap akan menjadi tempat yang gemah ripah lohjinawi tapi tidak akan lestari. Sonosewu diramalkan akan kembali ke agama Buddha. Dan terbukti sekarang di daerah itu banyak wihara. Sedangkan dusun Sala diramalkan juga gemah ripah lohjinawi, lan sinaoso kekuasaanipun namung saegaring payung, ananging tansah lestari Meski kekuasaanya hanya di dalam tembok istana, yang diumpamakan seperti di bawah payung, tapi akan tetap lestari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here