Update jumlah korban tsunami Selat Sunda, 430 orang meninggal dunia

SOLORAYA.COM – Hingga Rabu (26/12) per pukul 13.00 WIB, jumlah korban meninggal tsunami Selat Sunda di Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12/2018) lalu mencapai 430 orang. Data terbaru tersebut diungkapkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.


“Sampai hari keempat, tercatat 430 meninggal dunia, 1.495 korban luka, dan 159 orang masih hilang,” ujar Sutupo saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu siang.

Ilustrasi tsunami. (Pixabay)

Adapun jumlah korban yang masih mengungsi mencapai 21 ribu orang. Sutopo mengakui jumlah pengungsi terus mengalami kenaikan.

“Tambahan pengungsi karena adanya titik evakuasi yang berhasil ditata dan dilaporkan,” kata Sutopo sebagaimana dilansir CNN Indonesiaq.

Sejauh ini Kabupaten Pandeglang di Banten jadi wilayah yang paling parah terdampak tsunami. Wilayah lain yang terdampak adalah Kabupaten Serang, Lampung Selatan, Tanggamus dan Pesawaran.

Tsunami di Selat Sunda diyakini dipicu oleh longsor oleh bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang ada di tengah laut. Tsunami datang tanpa peringatan dini dan tanda-tanda alam seperti surutnya air laut di pantai.

Baca juga  Aa Jimmy Teamlo jadi korban meninggal tsunami di Tanjung Lesung

Sampai saat ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika masih mengimbau warga untuk tidak beraktivitas di kawasan pesisir terutama di Selat Sunda.

Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG) kemarin memastikan tsunami yang menyapu Banten dan Lampung Selatan karena erupsi Anak Gunung Krakatau (AGK). Gempa bumi di dekat gunung berapi Anak Krakatau pada Sabtu 22 Desember 2018 malam diduga kuat berkontribusi terhadap tsunami dahsyat di Selat Sunda. Namun BMKG sebelumnya menyatakan tidak mendeteksi ada gempa sebelum tsunami di Selat Sunda.

Terdeteksi di Jerman?

Guncangan gempa sebelum tsunami dilaporkan terdeteksi oleh Pusat Penelitian Geosains Jerman (GFZ). Lembaga tersebut mendeteksi ada lindu bermagnitudo 5,1 sekitar 25 kilometer sebelah timur Anak Krakatau pada Sabtu 22 Desember pukul 20.55 waktu setempat.

Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi letusan dari gunung berapi pada pukul 21.03, dan stasiun pengukur pasang surut di Banten dan Lampung mendeteksi tsunami antara pukul 21.27 hingga 21.53 malam.

Baca juga  Warga Sibolga dan Tapanuli panik berlarian ke bukit-bukit gara-gara isu tsunami

Menurut artikel Selasa pekan lalu yang dikutip Merdeka dari www.gfz-potsdam.de yang dikutip Senin (24/12/2018), ditemukan ada bukti bahwa gempa bumi besar dapat memicu atau meredam aktivitas gunung berapi.

Sebuah rilis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga menyebutkan bahwa lindu kemungkinan memperkuat letusan Anak Krakatau.

Kendati demikian, baik pihak PVMBG maupun BMKG menyatakan masih butuh penyelidikan lapangan terkait penyebab tsunami Selat Sunda.

Dalam hitungan menit, pesisir pantai di Selat Sunda menjadi tempat tragedi pascaterjangan ombak yang meninggalkan meninggalkan jejak kehancuran di jalurnya. Bencana menyisakan ratusan rumah hancur dan sejumlah orang hilang.

Korban tewas akibat tsunami Anyer, kata pihak berwenang, diperkirakan akan meningkat.
Sejumlah ahli merujuk aktivitas gunung berapi yang terletak di antara dua pulau di sepanjang Selat Sunda yang jadi awal mulanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here