Puluhan jenazah korban tsunami Aceh ditemukan setelah 14 tahun terkubur

SOLORAYA.COM – Kabar mengejutkan datang dari Dusun Lamseunong Lama, Gampong (Desa) Kahju, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Rabu (19/12/2018). Sebanyak 45 jenazah korban tsunami Aceh ditemukan setelah 14 tahun terkubur.

Kisah penemuan puluhan jenazah itu berawal saat tukang bangunan menggali tanah di sekitar perumahan tersebut untuk membuat pembuangan air, Selasa (18/12/2018) sore. Tanpa diduga-duga, ia menemukan jenazah yang terbalut plastik hitam.

penemuan jenazah korban tsunami Aceh 2004. (Serambi Indonesia)

Seorang warga, Muhammad Yahya (73) mengatakan, lokasi penemuan jenazah tersebut awalnya adalah kebun kosong yang telah ditinggal oleh pemiliknya.

Yahya tidak menyangka, jumlah jenazah yang ditemukan terus bertambah. “Saya tidak menyangka akan banyak sekali, awalnya cuma dua mayat,” ujarnya sebagaimana dilansir VivaNews.

Sebelumnya, pemilik rumah sedang menggali tanah untuk memperbaiki saluran air. Namun, ia kaget saat menggali menemukan jenazah yang terbungkus plastik hitam.

Dia lantas meminta rekannya menutup kembali galian tersebut agar keesokannya bisa digali lagi bersama warga untuk difardhukifayahkan dan kebumikan dengan layak.

Warga kemudian bersama aparat kepolisian dan TNI melanjutkan menggali dan menemukan lebih dari satu jenazah. Akhirnya alat berat (becho) dikerahkan ke lokasi untuk membantu penggalian.

Kepala Dusun Lamseunong Lama, Nisam mengatakan bahwa jenazah tersebut sudah sulit dikenali karena hanya tinggal tulang belulang.

Namun, warga kemudian mengafani jenazah-jenazah itu lalu menyalatinya secara berjamaah sebelum dikuburkan kembali di lokasi lain, karena lokasi semula dipakai untuk pembangunan.

“Kita akan kuburkan kembali di desa kita, ini kan mayatnya sudah tinggal tulang, jadi sulit kita kenali,” ujar Nisam sebagaimana dilansir OkeZone.

Setelah penguburan, warga setempat akan menggelar doa bersama. Sementara alat berat masih bekerja di lokasi untuk mencari kemungkinan adanya jenazah lain.

Lebih lanjut Nisam menyebutkan, selama ini tidak ada tanda-tanda bahwa lokasi tersebut merupakan kuburan massal.

Warga yang teridentifikasi
Dari 45 jenazah yang ditemukan, 24 di antaranya diyakini sebagai laki-laki, 16 perempuan dan lima bayi serta balita.

Baca juga  Ngeriii....2 harimau Kebun Binatang Mangkang Semarang lepas dari kandangnya...

Kemudian, petugas juga menemukan Surat Izin Mengemudi di kantong jenazah atas nama Sri Yunida. Sementara dua orang lainnya diketahui dari kartu mahasiswa yang masih melekat di pakaian atas nama Faizal Reza dan Burhanuddin.

Hingga magrib, baru empat jenazah yang teridentifikasi yakni Mariam Husin asal Ulee Jurong Baroh, Simpang Tiga, Kabupaten Pidie (berdasarkan KTP Merah Putih); Sri Yunida SH, perempuan warga Perum Pola Blok F Kahju; Faizal Reza asal Idi, Aceh Timur; Burhanuddin warga Lambada Lhok, Baitusalam, Aceh Besar.

Gampong Kahu yang berada di pesisir Selat Malaka merupakan salah satu desa terparah dilanda tsunami pada 2004 lalu. Masih banyak warga yang hilang pascatsunami dan belum ditemukan jenazahnya.

Kepala Badan Penanggulang Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek mengatakan saat tsunami 14 tahun silam, hampir 85 persen warga Desa Kahju menjadi korban.

“Lokasi ini kemungkinan kuburan massal yang dibuat oleh para relawan pada masa darurat tsunami lalu,” ujar Dadek.

“Sekitar 85 persen jadi korban, karena daerah tersebut merupakan salah satu daerah terparah dampak gempa dan tsunami. Hanya sekitar 15 persen warga yang tersisa dan mengungsi ke daerah lain,” katanya.

Sejarah lengkap tsunami Aceh 2004
Sekadar untuk diketahui, gelombang raksasa tsunami menghancurkan Aceh 26 Desember 2004. 26 Desember 2004: Pukul 7.59 waktu setempat, gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 skala Richter mengguncang dasar laut di barat daya Sumatra, sekitar 20 sampai 25 kilometer lepas pantai. Hanya dalam beberapa jam saja, gelombang tsunami dari gempa itu mencapai daratan Afrika.

27 Desember: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan tsunami di Aceh sebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi. Bantuan internasional mulai digerakkan menuju kawasan bencana. Kawasan terparah yang dilanda tsunami adalah Aceh, Khao Lak di Thailand dan sebagian Sri Lanka dan India.

Baca juga  Disebut mobilnya hasil suap, Mahfud MD laporkan akun KakekKampret ke Polres Klaten

30 Desember: Sekretaris Jendral PBB saat itu, Khofi Annan, menyebut jumlah korban sedikitnya 115.000 orang tewas. Jerman mengirim pesawat militer yang berfungsi sebagai klinik darurat ke kawasan bencana. Dikutip dari DWNews, Militer Jerman Bundeswehr dikerahkan untuk membantu korban bencana.

31 Desember: Indonesia dinyatakan sebagai kawasan bencana tsunami terparah. Pemerintah Indonesia menyebut korban tewas akan melebihi 100.000 orang.

1 Januari 2005: Kapal induk Amerika Serikat “USS Abraham Lincoln” tiba di perairan Sumatra untuk membantu evakuasi korban dan penyaluran bahan bantuan. Helikopter Amerika Serikat dikerahkan dari kapal induk untuk membagikan bahan bantuan terpenting ke kawasan bencana di Aceh.
2. Januari 2005: Masyarakat internasional menjanjikan bantuan untuk kawasan bencana tsunami senilai 2 miliar US$.

4 Januari 2005: PBB menyatakan jumlah korban lebih banyak dari perkiraan semula, sedikitnya 200.000 orang tewas.

5 Januari 2005: Eropa memperingati korban tsunami dengan aksi mengheningkan cipta di berbagai kota besar dan dalam sidang parlemen. Jerman menyatakan sekitar 1.000 warganya yang sedang berwisata di Asia Tenggara hilang. Pemerintah Jerman memutuskan bantuan senilai 500 juta Euro untuk bantuan kemanusaiaan dan pembangunan kembali di kawasan bencana.
14 Maret 2005: Indonesia dan Jerman mulai membangun sistem peringatan dini tsunami. Perangkat teknisnya merupakan sumbangan Jerman kepada Indonesia, senilai 40 juta Euro. Sistem itu dikenal sebagai GITEWS (German Indonesian Tsunami Early Warning System). Tahun 2008 dikembangkan menjadi InaTews (Indonesia Tsunami Early Warning System).

19 Maret 2005: Sekitar 380 tentara Jerman yang bertugas di kawasan bencana kembali ke pangkalannya. Selama bertugas, mereka merawat sekitar 3.000 pasien korban bencana. Masyarakat Jerman mengumpulkan sumbangan bencana Tsunami senilai 670 juta Euro.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here