Pengakuan kelompok Egianus Kogoya dan kronologi penembakan helikopter yang evakuasi korban di Trans Papua

SOLORAYA.COM – Pihak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) akhirnya mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan pekerja proyek jembatan Kali Yigi, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua. Pengakuan tersebut diungkapkan Juru Bicara Panglima Daerah Militer Markodap III Ndugama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pimpinan Egianus Kogoya, Sebby Sambom.

Sekadar kilas balik, insiden di Kali Yigi terjadi pada Minggu (2/12) lalu. Aparat keamanan sebelumnya sudah menduga bahwa serangan ini dilakukan oleh KKB yang dipimpin oleh Egianus Kogoya. Humas Polda Papua menyebut korban yang jatuh di proyek jembatan itu adalah pekerja PT Istaka Karya (Persero). Sementara serangan di pos militer di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, berujung pada tewasnya seorang anggota TNI Yonif 755/Yalet.

Sebby seperti diberitakan CNN Indonesia juga membenarkan bahwa serangan yang terjadi di Pos Yonif 755/Yalet di Distrik Mbua juga dilakukan oleh kelompok Egianus.

Sebby menjelaskan sedari awal kelompok mereka memang menyasar proyek jembatan tersebut. Setidaknya sudah tiga bulan kelompok Egianus memantau pekerja di proyek tersebut.

“Betul, semua kami yang lakukan,” ujar Sebby.

Lebih lanjut Sebby menjelaskan bahwa serangan itu untuk mengusir pembangunan yang sedang berlangsung. Ia berkata segala macam pembangunan infrastruktur di tanah Papua merupakan bentuk lain penjajahan.

Baca juga  Astaghfirullah, Anak-anak TK Didandani ala ISIS saat HUT RI ke-73 di Probolinggo. Berikut Video nya

“Kami menolak kebijakan pembangunan jalan, jembatan, atau apapun. Kami hanya menuntut hak kemerdekaan,” tegas Sebby.

TPNPB atau KKB pimpinan Egianus Kogoya selama ini punya riwayat ‘gelap’ di Papua. Dari catatan yang ada, kelompok ini selalu melancarkan aksinya di wilayah Nduga.
Sepanjang 2018 ini, sebelum pembantaian para pekerja proyek jembatan di Distrik Yigi dan serangan ke Pos Yonif 755/Yalet, setidaknya sudah ada beberapa serangan lain yang mereka lancarkan. Di antaranya penembakan di Bandara Kenyam, Nduga pada 25 Juni, serta penyekapan dan kekerasan seksual terhadap belasan guru dan paramedis di Distrik Mapenduma, Nduga pada 3-17 Oktober.

Penembakan tiga helikopter jenazah anggota TNI

Ilustrasi. (Pixabay)

Dari perkembangan terakhir yang kami kutip dari DetikNews, tiga helikopter TNI sempat ditembaki KKB saat hendak mengevakuasi jenazah anggota Pos TNI Mbua, Serda Handoko. Baku tembak antara personel TNI-Polri dan KKB Papua pun tak terhindarkan.

Baku tembak terjadi saat tiga helikopter TNI tiba di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, Papua, Rabu (5/12/2018). Karena ditembaki KKB, Tim Nanggala, yang merupakan gabungan TNI-Polri, langsung terlibat baku tembak di wilayah Gunung Kabo, yang juga merupakan TKP pembantaian para pekerja proyek Trans Papua.

Baca juga  Tragedi penyerangan pekerja di Papua, ini daftar korban dan kabar tewasnya seorang prajurit TNI

“Begitu Tim Nanggala tiba dengan tiga unit helikopter ada tembakan dari arah puncak Kabo. Kemudian Tim Nanggala melakukan tembakan balasan dari helikopter. Satu unit helikopter jenis Bell baling-balingnya terkena tembakan dari kelompok KKB,” ujar Kapolda Papua Irjen Martuani Sormin dalam keterangannya, Rabu (5/12). Martuani melanjutkan, ketiga helikopter TNI itu sedang melakukan refueling dan mengevakuasi jenazah Serda Handoko ke Kenyam, ibu kota Kabupaten Nduga, untuk selanjutnya dibawa ke Timika. Saat ini tim gabungan TNI-Polri dikabarkan tengah melakukan penyisiran ke arah puncak Kabo.

“Menurut info yang didapat, ada satu anggota dari Tim Belukar yang terkena tembakan pada tangan, dari kelompok KKB. Dan (anggota tertembak di tangan) sudah berada di Pos TNI Mbua,” ujarnya.

“Tim Nanggala dan Tim Belukar sudah berada di sekitar Puncak Kabo dan sampai saat ini masih terjadi kontak tembak,” tambahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here