Pengakuan dan pernyataan keras kelompok Egianus Kogoya terkait pembunuhan pekerja Trans Papua

SOLORAYA.COM – Juru bicara kelompok yang menamakan diri Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) ini akhirnya angkat bicara terkait alasannya melakukan penembakan brutal terhadap para pekerja pembangunan jalan Trans Papua.

Ingin pisah dari Indonesia

Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom mengatakan, jauh sebelum penembakan mengerikan di Nduga tersebut, mereka telah memperingatkan agar pembangunan jalan Trans Papua tidak dilanjutkan.

Ilustrasi. (YouTube)

“Jadi di Yigi itu bukan pembantaian, bukan eksekusi mati seperti yang dikatakan TNI-Polri. Itu penyerangan,” kata Sebby Sambom, Kamis (6/12/2018).

Tahun lalu, TPNPB telah menyerang TNI dan memberi peringatan agar pembangunan jalan Trans Papua tidak dilanjutkan. Tapi proyek jalan terus sehingga mereka marah dan melakukan penyerangan.

Saat disinggung pembangunan jalan itu untuk kesejahteraan warga Papua, Sebby mengatakan pihaknya tidak butuh pembangunan yang disetir pemerintah Indonesia. Sebby menekankan masalah yang terjadi di Papua bukan soal kesejahteraan, tapi masalah politik. Maka kelompok yang dipimpin Egianus Kogoya ini menolak semua bentuk pembangunan.
Mereka juga tidak mau berkompromi terhadap penawaran apapun. Mereka hanya punya satu tuntutan yang mengancam keutuhan bangsa Indonesia, yakni ingin memisahkan diri dari republik ini. “Berikan kesempatan untuk kami merdeka sendiri,” ucapnya seperti diberitakan DetikNews.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebelumnya menyebut jumlah kekuatan kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya tak lebih dari 50 orang. Jumlah senjata yang dimiliki kelompok tersebut sekitar 20 pucuk senjata api.

“Saat ini kita kirim tim gabungan Polri-TNI, dipimpin langsung oleh Kapolda dan Pangdam bergerak ke sana. Kekuatan mereka tidak banyak, lebih-kurang 30-50 orang dengan 20 pucuk,” kata Tito di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (5/12).

Sementara, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menyebut 154 personel gabungan dari TNI dan Polri telah dikirim untuk mengamankan lokasi penembakan pekerja proyek jembatan di jalur Trans Papua. Moeldoko ingin masyarakat setempat merasa aman.

“154 TNI-Polri dikirim untuk pemulihan. Kita tidak ingin masyarakat di sana merasa situasi tidak menentu. Merasa tidak aman dan nyaman,” ucap Moeldoko kepada wartawan di kantornya, Jalan Veteran, Jakarta, Rabu (5/12).

Pantau 3 bulan

Sementara itu, akun Facebook Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) memuat tulisan berikut ini :

“Pemne Kogeya Komandan Operasi KODAP III Nduga menyatakan kami serang bukan warga sipil mereka adalah TNI,” bunyi awalan tulisan itu seperti dilihat detikcom pada Kamis (6/12).

Baca juga  Ini foto-foto ketampanan Jojo tampil formal saat ikut seleksi CPNS 2018

Disebutkan, operasi di Kali Aworak, Kali Yigi dengan sasaran operasi Anggota SIPUR Jembatan Kali Aworak, Kali Yigi Pos TNI Distrik Mbua, dilakukan sejak 2 Desember di bawah pimpinan komandan operasi Pemne Kogeya. Sebanyak 24 orang disebutkan tewas dalam serangan itu.

Masih dalam tulisan di akun Facebook itu, TPNPB KODAP III Ndugama mengaku telah lama mengidentifikasi pekerja jalan sebelum serangan terjadi. Lebih dari tiga bulan mereka memantau.

“Lebih dari tiga bulan kami lakukan pemantauan dan patroli terhadap pekerja Jembatan Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos Mbua, kami sudah secara lengkap mempelajari pekerja di Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos TNI Distrik Mbua adalah satu kesatuan. Pos Mbua adalah pos resmi sebagai pos kontrol dan yang bekerja di Kali Aworak dan Kali Yigi adalah murni anggota TNI (SIPUR)” jelas Pemne Kogeya.

Pemne menyebut mereka tidak salah sasaran. Mereka mengaku bisa membedakan antara pekerja sipil dan TNI.

“Sasaran serangan kami tidak salah. Kami tahu mana pekerja sipil atau tukang biasa dan mana pekerja anggota TNI (SIPUR). Walaupun mereka berpakaian sipil atau preman. Kami juga siap bertanggung jawab terhadap penyerangan Pos TNI Distrik Mbua,” sebut Pemne.

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII Cenderawasih Kolonel M Aidi, saat dimintai konfirmasi soal kebenaran akun Facebook itu, menepis anggapan bahwa korban bukan sipil. Aidi menjelaskan dua alasan.

“Yang korban itu kan sebagian meninggal, sebagian hidup. Kalau memang dia mengatakan bahwa itu TNI, ya silakan aja diperiksa, ada yang hidup di situ, jelas datanya, TNI kan jelas datanya, silakan diperiksa. Kemudian itu disebutkan karyawan Istaka Karya, cek aja ke Istaka Karya, kenapa menduga-duga gitu lo. Orangnya kan masih hidup. Itu logika pertama,” ujarnya.

Aidi juga berbicara soal alasan kelompok bersenjata menyerang di jalur Trans Papua.

“Logika kedua, kan disebutkan di situ bahwa karena dia tahu yang mengerjakan jalan Trans Papua adalah TNI, logikanya kalau TNI mengerjakan jalan, apa pantas dibantai? Padahal untuk menyejahterakan mereka,” ujarnya.

Ancam usir warga non Papua
Kelompok Egianus Kogoya juga mengancam akan mengusir semua warga non Papua yang tinggal di bumi Cenderawasih tersebut. TNI dan Polri menjamin kondisi Papua akan aman, dan kelompok Egianus bisa segera dilumpuhkan.

Baca juga  Pengakuan kelompok Egianus Kogoya dan kronologi penembakan helikopter yang evakuasi korban di Trans Papua

“Kepada warga Indonesia untuk tinggalkan Papua tiga bulan sebelum perang dimulai,” kata juru bicara kelompok Egianus, Sebby Sambom saat dihubungi detikcom, Kamis (6/12/2018). Kelompok Egianus menamakan diri Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

Menurut Sebby, Indonesia telah menjajah Papua dan mengeruk kekayaan alamnya. Kelompok ini membantah menyerang warga sipil di jalur Trans Papua. Menurutnya, yang mengerjakan proyek di Papua itu adalah TNI.

“Kami punya data intelijen, kami punya pemantauan yang melaksanakan proyek Papua adalah TNI dari Denzipur Jayapura. Kalau ada sipil yang jadi korban, itu tanggung jawab TNI,” kata Sebby.

Sebby membantah kelompoknya didukung negara asing. Dia mempersilakan tuduhan itu dibuktikan. Soal sumber senjata standar militer yang mereka memiliki, Sebby menyebut mereka peroleh dengan merebut senjata milik TNI-Polri.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebelumnya mengatakan jumlah yang tewas dalam penembakan sadis tersebut 20 orang. Dari 20 orang itu, 19 merupakan pekerja, sementara satu orang lagi anggota TNI.

“Sebanyak 19 orang merupakan pekerja dan 1 anggota TNI yang gugur,” kata Tito saat jumpa pers di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Rabu (5/12).

Tito menyebut jumlah kekuatan kelompok pimpinan Egianus Kogoya itu tidak lebih dari 50 orang. Jumlah senjata yang dimiliki kelompok tersebut sekitar 20 pucuk senjata api.

“Saat ini kita kirim tim gabungan Polri-TNI, dipimpin langsung oleh Kapolda dan Pangdam bergerak ke sana,” kata Tito.

Sementara, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menyebut 154 personel gabungan dari TNI dan Polri telah dikirim untuk mengamankan lokasi penembakan pekerja proyek jembatan di jalur Trans Papua. Moeldoko ingin masyarakat setempat merasa aman.

“154 TNI-Polri dikirim untuk pemulihan. Kita tidak ingin masyarakat di sana merasa situasi tidak menentu. Merasa tidak aman dan nyaman,” ucap Moeldoko kepada wartawan di kantornya, Jalan Veteran, Jakarta, Rabu (5/12).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here