Longsor di Cikadongdong, empat kereta Jakarta-Bandung tertahan

SOLORAYA.COM – Longsor terjadi di Cikadongdong, tepatnya di pijakan Jembatan Cikadongdong, Bandung Barat. Akibatnya empat kereta Argo Parahyangan jurusan Jakarta-Bandung dan Bandung-Jakarta tertahan.


Saat ini, pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah memastikan keamanan jembatan tersebut untuk dilalui kereta. Hal tersebut diungkapkan Manajer Humas Daop 2 KAI Joni Martinus.

Argoparahyangan. (Instagram)

Martinus mengatakan, saat ini pihaknya menemukan gejala longsor di Jembatan Cikadongdong, Bandung Barat yang berada di KM 133. Lokasi longsor, menurut dia, tepat berada dibawah pijakan jembatan sehingga pihaknya harus memastikan keamanan jembatan sebelum dilalui kereta api.

“Tanah longsornya itu ada di pijakan pilar, tiang jembatan, persis di bawah jembatan. Petugas kami sedang memastikan apakah kondisi itu berbahaya atau tidak,” tutur, Sabtu (15/12).

Saat ini, menurut Joni, terdapat empat kereta Argoparahyangan yang tertahan di sejumlah stasiun. Ia menyebut, dua kereta dari Jakarta pukul 10.30 WIB dan 11.30. Sedangkan dua kereta lainnya yang tengah tertahan berangkan dari Bandung pukul 11.35 WIB dan 12.45 WIB.

“Ada yang tertahan di Stasiun Cikadongdong, Rendeh, Kleret, dan Maswati. Petugas membutuhkan waktu sekitar 2 jam terhitung sekitar pukul 14.45 WIB untuk mengecek kondisi jembatan. Mudah-mudahan kondisinya aman, sehingga dapat segera dilalui kereta,” jelas Joni sebagaimana dilansir CNN Indonesia.

Lebih lanjut Joni menjelaskan pihaknya tak akan menunda keberangkatan kereta yang sudah tersedia di Jakarta maupun Bandung yang memang sudah tersedia di stasiun. Kereta-kereta yang diberangkatkan tersebut, menurut dia, kemungkinan akan ditahan di stasiun sebelum lokasi longsor.

Ia pun mengaku belum bisa memastikan bagaimana nasib kereta-kereta tersebut jika ternyata kondisi jembatan tak layak untuk dilalui.

“Setelah pemeriksaan, kami akan lihat sikon (situasi dan kondisi), kan ada skenario operasional, kami harapkan kondisinya (jembatan) baik dan bisa segera dilewati,” pungkas Joni.

Tentang kereta ArgoParahyangan

Kereta api Argo Parahyangan (Gopar) merupakan kereta api penumpang yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) di Jawa dengan relasi Jakarta (GMR/PSE) – Bandung (BD/KAC) dan sebaliknya serta menjadi satu-satunya kereta api yang melayani rute ini.

Kereta api Argo Parahyangan ini menawarkan alternatif perjalanan Pada Pagi hingga Sore Hari untuk kedua arah, baik Bandung-Gambir maupun Gambir-Bandung. Dalam perjalanan Bandung-Gambir Maupun Gambir-Bandung pada pagi hingga sore hari penumpang dapat menikmati indahnya panorama Bumi Parahyangan dan melewati Jembatan-Jembatan, Terowongan dan Tikungan Besar (Tiber) ada di wilayah Bandung Barat dan Sekitarnya.

Kereta api ini juga terkenal sebagai kereta api yang sering meminjam rangkaian dari rangkaian kereta api lain yang sedang menganggur seperti rangkaian kereta api Harina (campuran eksekutif plus dan premium plus), Sembrani (eksekutif), Turangga (eksekutif plus new image), maupun yang lainnya.
Kereta api ini merupakan gabungan nama dari kereta Argo Gede dan Parahyangan. Meskipun menyandang kata “Argo”, namun kereta ini justru merupakan kereta api kelas campuran, tidak full eksekutif sebagaimana seharusnya kereta api kelas Argo. meskipun pada beberapa perjalanan/nomor Gapeka menggunakan rangkaian full eksekutif atau bahkan full ekonomi (biasanya premium). Pada masa awal beroperasinya sejak tahun 2010, kereta api Argo Parahyangan juga menjadi kereta Argo pertama yang memiliki kelas selain kelas eksekutif.

Kereta api ini menjadi satu-satunya kereta api kelas “Argo” yang kelas rangkainannya sering berganti antara eksekutif (baik Argo/kaca lebar, Satwa/kaca model pesawat, ataupun yang terbaru (K1 2016 dan 2018 JAKK/K1 2018 SDT) dengan model kaca panorama duplex), bisnis, ekonomi AC (baik PSO, plus (biasanya K3 2016 BD maupun Premium K3 2017 BD), atau kombinasi dari ketiganya (kelas campuran K1+K2+K3 BD).
Kereta api ini merupakan kereta api hasil peleburan KA Argo Gede dan Parahyangan, yang telah dihentikan pengoperasiannya sejak terakhir kali beroperasi pada 26 April 2010. KA Argo Parahyangan pertama kali dioperasikan pada Selasa, 27 April 2010 pada pukul 05.30 di Stasiun Bandung dan pukul 05.45 di Stasiun Gambir.

Baca juga  10 Foto banjir di Semarang yang viral di media sosial

Kereta api Argo Parahyangan merupakan hasil respons PT KAI atas kekecewaan masyarakat karena diberhentikannya pengoperasian kereta api Parahyangan.[1] Sehingga, PT KAI menggabungkan kereta api Parahyangan bersama rangkaian kereta api Argo Gede. Jadi, beberapa kereta bisnis bekas kereta api Parahyangan disambungkan dengan kereta eksekutif dari kereta api Argo Gede.

Tetapi masyarakat tidak mau nama Parahyangan itu ditiadakan. Akhirnya, PT KAI menggabungkan nama Argo Gede dan Parahyangan menjadi Argo Parahyangan. KA Argo Parahyangan menyediakan layanan kelas eksekutif argo yang memiliki pendingin udara (AC) dengan menggunakan kereta eksekutif bekas kereta api Argo Gede dan kelas bisnis tanpa pendingin udara dengan menggunakan rangkaian kereta bekas kereta api Parahyangan. Pada awal kereta api ini beroperasi, biasanya kereta ini terdiri dari tiga sampai empat kereta kelas eksekutif dan dua sampai tiga kereta kelas bisnis.

Akan tetapi, semenjak tahun 2010-an, kereta api ini menggunakan trainset campuran (saat ini campuran eksekutif Argo – ekonomi AC new image untuk perjalanan reguler) baik dari daop 2 Bandung maupun menggunakan rangkaian kereta api lainnya yang sedang tidak digunakan.
Mengingat permintaan kelas eksekutif lebih tinggi dari kelas bisnis, sejak tanggal 30 Desember 2011 kereta kelas bisnisnya diganti dengan kereta kelas eksekutif sehingga kereta api Argo Parahyangan menjadi kereta api eksekutif seluruhnya (meskipun di beberapa perjalanannya masih ditambah gerbong bisnis). Jumlah perjalanan KA Argo Parahyangan semakin meningkat mengingat okupansi yang bagus, dan juga karena jalan tol yang macet membuat masyarakat beralih ke kereta api.

Saat ini, KA Argo Parahyangan beroperasi setiap harinya sekitar 8 kali pergi-pulang (termasuk tambahan) mengingat okupansi yang bagus. Perjalanan Jakarta-Bandung sepanjang ±166 km menelusuri alam pegunungan Priangan barat ditempuh kereta api ini dengan waktu tempuh rata-rata 3 jam sampai 3 jam 15 menit.

Berdasarkan jadwal baru pada Gapeka 2017, kereta api Argo Parahyangan berjalan 8 kali pergi-pulang reguler dan belum termasuk 4 kali pergi-pulang tambahan. Saat ini, tiga rangkaian tambahan Argo Parahyangan merupakan optimalisasi rangkaian KA yang menganggur. Antara lain KA 31 dan 32 yang menggunakan rangkaian KA Harina, KA 33 dan KA 34 yang menggunakan rangkaian KA Turangga, dan KA Tambahan 7051 dan 7052 yang menggunakan rangkaian KA Sembrani.

KA 19-30, 33 dan 34 berjalan setiap hari, sedangkan untuk KA 35F dan 36F, kereta tersebut hanya berjalan pada hari Jumat sampai dengan Minggu, karena merupakan KA tambahan (fakultatif). Tersedia juga KA Argo Parahyangan tambahan, dengan keberangkatan dari Bandung jam 04.00 (KA 37F) dan dari Gambir jam 07.15 (KA 38F) menggantikan KA 31-32 yang beroperasi di luar hari Senin.
KA Argo Parahyangan menggunakan KA Eksekutif kelas Argo berkapasitas 50 penumpang dengan televisi, meja makan (kadangkala), lampu baca, stopkontak, AC, toilet, dan kursi yang dapat diputar balik (reclining seat), sementara kelas bisnis, berkapasitas 64 penumpang dan cukup nyaman dengan harga yang lebih terjangkau dengan fasilitas: AC split, toilet, stopkontak, dan kursi yang dapat diputar balik.

KA Argo Parahyangan menggunakan KA eksekutif Argo bekas Argo Gede buatan tahun 1995 dan 2002, dan terkadang menggunakan KA milik Argo Wilis yang dibuat pada 1998, atau menggunakan KA eksekutif biasa (buatan 1995 ke bawah) yang dicat striping Argo. KA Bisnis menggunakan KA eks-Parahyangan.

Baca juga  Longsor terjang pemandian air panas, 7 mahasiswa meninggal dunia

Mulai 25 Oktober 2016, perjalanan KA Argo Parahyangan yang menggunakan kereta bisnis akhirnya menggunakan kereta ekonomi Mutiara Selatan yang mengalami masalah kenyamanan.
Mulai 9 Juni 2017, Sudah tersedia pula KA Argo Parahyangan Tambahan dengan Kelas Ekonomi Premium K3 2017 dan relasi Bandung-Gambir.

Mulai 21 s. d 30 Juni 2017, Sudah tersedia pula KA Argo Parahyangan Tambahan dengan Kelas Ekonomi Premium K3 2017 dan relasi baru Bandung-Pasar Senen. Saat ini Kereta api Argo Parahyangan Tambahan Menggunakan Rangkaian (idle) Kereta api Mantab Premium (Madiun-Pasar Senen) yang sedang tidak operasikan pada siang hari.

Mulai 8 Agustus 2017, dijalankan rangkaian Ekonomi Premium 2 kali PP dengan relasi sama seperti Argo Parahyangan reguler.

Mulai 1 Maret 2018, Kereta api KLB Argo Parahyangan Tambahan sudah resmi beroperasi dengan Kelas Eksekutif Plus yang berbody Stainless Steel. KLB Argo Parahyangan Tambahan dengan Relasi Gambir-Bandung maupun Gambir-Kiaracondong. Perjalanan KLB Argo Parahyangan Tambahan sebanyak 2 kali pulang pergi yaitu GMR-BD dan GMR-KAC.

Mulai 9 Maret 2018, KA Argo Parahyangan Priority sudah resmi beroperasi dengan kelas Eksekutif yang berbody warna coklat, garis warna keemasan dengan bertulisan Priority’. Perjalanan KA Argo Parahyangan Priority sebanyak 2 kali pulang Pergi. Rangkaian KA Argo Parahyangan Priority dengan rangkaian reguler di No KA 19P dan 25P (dari Bandung) sedangkan No KA 22P dan 28P (dari Gambir).
Lokomotif yang pernah menjadi andalan kereta api Argo Parahyangan sejak awal beroperasinya adalah CC201, CC203, danCC204, Sejak tahun 2013, lokomotif CC206 pun mulai menarik kereta api Argo Parahyangan. Namun, sejak tahun 2014, kereta api Argo Parahyangan akan selalu ditarik oleh lokomotif CC206.

Lokomotif penarik kereta api Argo Parahyangan biasanya berasal dari Dipo Bandung, namun, sejak lokomotif CC206 menjadi lokomotif tetap untuk kereta api ini, lokomotif dari dipo lainnya terkadang digunakan juga.
Pada masa awal beroperasinya sekitar tahun 2010-2011, biasanya ada dua tipe stamformasi rangkaian yang digunakan untuk Argo Parahyangan (reguler), yakni sebagai berikut:

1 kereta pembangkit (P), 4 kereta eksekutif (K1), 1 kereta makan (M1), dan 2 kereta bisnis (K2)
1 kereta pembangkit (P), 3 kereta eksekutif (K1), 1 kereta makan (M1), dan 3 kereta bisnis (K2)
Sejak tanggal 30 Desember 2011, pada beberapa rangkaian kereta kelas bisnisnya diganti dengan kereta kelas eksekutif sehingga kereta api Argo Parahyangan menjadi kereta api eksekutif seluruhnya. Pada masa dioperasikannya kereta api aling-aling, 1 unit kereta kelas bisnis dari dua tipe rangkaian diatas dirubah menjadi kereta bagasi aling-aling (B/K2) membuat formasi Argo Parahyangan pada tahun 2012-2016 menjadi seperti berikut:

1 kereta pembangkit (P), 5 kereta eksekutif (K1), 1 kereta makan (M1), dan kereta aling-aling (B/K2)
1 kereta pembangkit (P), 3 kereta eksekutif (K1), 1 kereta makan (M1), 2 kereta bisnis (K2), dan kereta aling-aling (B/K2)
Sejak dihapusnya kereta aling-aling pada pertengahan Agustus 2016, aling-aling kelas bisnis (K2) pun akhirnya difungsikan juga untuk mengangkut penumpang.

Mulai 25 Oktober 2016, kereta Argo Parahyangan kelas bisnis digantikan dengan Rangkaian Ekonomi AC Plus (K3 2016) dari KA Mutiara Selatan karena alasan kenyamanan dimana kereta ekonomi AC keluaran tahun 2016 tersebut terlalu sempit untuk jarak jauh. Mulai awal Januari 2017, Kereta api Argo Parahyangan (reguler) sudah tidak menggunakan lagi Kereta Pembangkit (P) dan Kereta Makan (KM1/M1) digantikan oleh Kereta Makan dan Pembangkit (MP3) dari rangkaian Ekonomi AC terbaru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here