Gerhana bulan darah serigala di awal 2019, ini fakta-fakta dan ramalannya

SOLORAYA.COM – Tahun 2019 yang tak lama lagi datang bakal terjadi peristiwa alam yang langka dan tergambar mengerikan, yakni munculnya penampakan gerhana bulan darah serigala super. Wah, gerhana bulan darah saja sudah ngeri, apalagi ditambah serigala dan super. Oke, begini penjelasan lengkap tentang fakta-fakta kemunculan penampakan rembulan tersebut, berikut fakta-fakta mitos yang diyakini sebagian orang.


Disaksikan di seluruh benua Amerika
Peristiwa astronomi yang disebut dengan Super wolf blood moon akan dimulai dari sore hari 20 Januari dan berakhir larut malam 21 Januari 2019.

Gerhana bulan merah. (Pixabay)

Orang-orang di seluruh benua Amerika akan dapat menyaksikannya pada tanggal tersebut, dengan tampilan bulat klimaks berona kemerahan atau oranye. Begitu juga dengan mereka yang ada di Eropa Barat dan Afrika.

Berlangsung 3,5 jam
Seluruh proses transformasi gerhana bulan tersebut akan berlangsung selama 3,5 jam. Ahli menyarankan mulai mengamati pada pukul 21:36 (EST).

Sayangnya di Indonesia waktu itu sedang pagi hari yaitu 09.36 WIB (21 Januari 2019), jadi kemungkinan gerhana tersebut tidak akan terlihat.

Menurut Brian Murphy, direktur Holcomb Observatory & Planetarium dan profesor Butler University, “Dalam cuaca yang cerah, separuh bumi bisa melihatnya.”

Baca juga  Polantas tertabrak saat kawal konvoi komunitas Fortuner

“Pada saat itu, Anda akan melihat bintang-bintang jauh lebih terlihat karena bulan menjadi lebih redup,” ujarnya.

Jika Anda kebetulan berada di daerah dengan zona waktu tersebut, Murphy merekomendasikan supaya pergi ke halaman belakang rumah, menjauh dari lampu jalan, terutama cahaya biru. Ia berharap langit akan cerah sehingga gerhana lebih jelas terlihat.

Gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara matahari dan bulan, menyebabkan bayangan cahaya matahari menimpa ke arah bulan, sehingga menimbulkan rona kemerahan.

Sekali di tahun 2019
Gerhana bulan darah super ini akan menjadi satu-satunya gerhana bulan yang terjadi di tahun 2019, dan akan terjadi lagi pada Mei 2021.

Dikaitkan dengan akhir dunia
Fenomena alam tersebut dikaitkan dengan tanda akhir zaman dan peringatan dua tahun dilantiknya Presiden Trump.

Pendeta Paul Begley, dari Indiana, Amerika Serikat mengungkapkan tentang tanda-tanda akhir zaman tersebut awal Desember lalu. Ia merupakan pastor yang sering berpidato tentang tanda-tanda kiamat.

Konspirasi Begley tentang gerhana Bulan dan Trump merujuk pada beberapa bagian dalam Alkitab yang menyebutkan Bulan berubah merah, yaitu Yoel 2:31. Bunyinya: “Matahari akan berubah menjadi kegelapan, dan Bulan menjadi darah, sebelum hari Tuhan yang besar dan mengerikan datang.”

Baca juga  Kejadian langka, seorang nelayan tewas diserang ikan Caroang

Lantas apa hubungannya dengan Trump? Bregley sebagaimana dilansir The Sun, mengatakan begini, “Gerhana bulan total ini langsung terjadi di atas Amerika Serikat pada peringatan tahun kedua Trump menjabat sebagai presiden AS.”

“Ini akan menjadi tanda nubuat tanpa diragukan lagi,” ujarnya menambahkan.

Referensi gerhana bulan lainnya juga ditemukan dalam Kitab Wahyu yang menggambarkan Bulan menjadi seperti merah darah, tepat sebelum akhir dunia.

Begley lantas berkata, “Apakah ini pertanda? Ya, jelas ini merupakan pertanda akhir zaman dan Amerika memainkan peran kunci di akhir zaman.”

Begley seperti ditulis VivaNews juga menekankan bahwa gerhana bulan yang akan terjadi pada Januari 2019 itu akan menjadi momen penting bagi sejarah AS dan dunia.

Tak perlu ditakuti
Namun, terlepas dari ramalan tentang akhir dunia, menurut sains, gerhana bulan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here