Detik-detik mencekam pembunuhan pekerja di Trans Papua

SOLORAYA.COM – Lima orang korban penyerangan di Kali Yigi-Kali Auruk, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua berhasil melarikan diri dan selamat dari penyerangan tersebut. Mereka juga menceritakan detik-detik mencekam saat pembantaian itu terjadi.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kelima orang itu adalah Martinus Sampe karyawan PT Istaka Karya dengan kondisi luka tembak di kaki kiri, Jefrianton karyawan PT Istaka Karya mendapat luka tembak di pelipis kiri, Irawan karyawan Telkomsel, John petugas puskesmas, dan Jimmy Aritonang.

Empat orang selain Jimmy, telah ditemukan oleh aparat gabungan TNI-Polri. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Komisaris Besar Ahmad Musthofa Kamal melalui keterangan resmi, Selasa, 4 Desember 2018 mengatakan, keempat orang yang selamat itu telah dievakuasi ke Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya. “Tim medis dari Wamena telah menunggu evakuasi di lokasi Danau Habema,” terang Kamal seperti diberitakan Tempo.

Berdasarkan keterangan dari empat orang tersebut, diketahui bahwa pos TNI yang berada di Distrik Mbuma hancur akibat diserang oleh kelompok bersenjata. Adapun satu anggota TNI meninggal dalam peristiwa ini. Sedangkan nasib 31 pekerja proyek lainnya belum diketahui.

Sementara itu, kata Kamal, dalang pembunuhan 31 pekerja PT Istaka Karya diduga merupakan kelompok bersenjata pimpinan Egianus Kogoya. Diketahui, kelompok Egianus sendiri dikenal kerap melakukan serangkaian serangan penembakan di wilayah Papua. Egianus pernah menyandera belasan guru dan tenaga kesehatan di wilayah Mapenduma, Nduga pada bulan Oktober 2018 kemarin.

Penembakan dilakukan oleh kelompok bersenjata terhadap para pekerja proyek PT Istaka Karya pada 2 Desember 2018 sekitar pukul 15.30 WIT. Penembakan tersebut terjadi di Kali Yigi dan Kali Aura Distrik Yigi Kabupaten Nduga, Papua.

Sampai saat ini, pihak kepolisian bersama dengan TNI sedang memastikan keberadaan para korban di dua tempat tersebut yaitu Kali Yigi dan Kali Aura. Berdasarkan informasi yang dihimpun korban tewas diduga sebanyak 31 orang.

Kamal menjelaskan tim gabungan TNI/Polri sebanyak 153 personel berangkat dari Wamena menggunakan tiga unit kendaraan. Mereka telah tiba di Distrik Mbua, yang merupakan distrik terdekat dengan TKP di Distrik Yigi.

Baca juga  Harimau Gunung Lawu teror warga Jatiyoso

“Untuk mencapai TKP di Distrik Yigi, tim harus berjalan dua jam lagi dari Distrik Mbua,” kata Kamal.

Lebih jauh Kamal menjelaskan, dari keterangan empat orang yang ditemukan, pos TNI Yonif 755/Yalet/Kostrad di Distrik Mbua telah hancur diserang KKB pimpinan Egianus Kogoya dan seorang anggota TNI meninggal dunia.

“Kelompok KKB saat melakukan penyerangan terhadap pos TNI didukung masyarakat kurang-lebih 250 orang. Membuat anggota lari menyelamatkan diri pos Mbua hanya membawa senjata, tidak membawa barang-barang lain,” tambah Kamal.

Pengakuan Jimmy Aritonang
Selain empat orang yang disebutkan di atas, ada satu lagi orang yang selamat dari peristiwa tersebut. Adalah Jimmy Aritonang, karyawan PT Istaka Karya.

Jimmy menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada anggota TNI yang mengevakuasi para korban penembakan. Cerita Jimmy kemudian disampaikan oleh Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi.

Aidi mengungkapkan awalnya semua karyawan PT Istaka Karya memutuskan tidak bekerja pada 1 Desember yang merupakan Hari Kemerdekaan KKSB.

“Bahwa pada tanggal 1 Desember 2018 seluruh karyawan PT Istaka Karya memutuskan tidak bekerja karena pada hari itu ada upacara peringatan 1 Desember yang diklaim sebagai hari kemerdekaan KKSB dan dimeriahkan dengan upacara bakar batu bersama masyarakat,” ujar Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, kepada detikcom, Rabu (5/12/2018).

Setelah itu, KKSB tiba-tiba mendatangi tempat kemah atau kamp karyawan PT Istaka dan memaksa para pekerja keluar menuju Kali Karunggame. Saat berjalan keluar, para pekerja diikat tangannya dengan dikawal anggota KKSB yang memakai senjata.

“Sekitar pukul 15.00 WIT, kelompok KKSB mendatangi Kamp PT Istaka Karya dan memaksa seluruh karyawan, yang berjumlah 25 orang, keluar. Selanjutnya digiring menuju Kali Karunggame dalam kondisi tangan terikat dikawal sekitar 50 orang KKSB bersenjata campuran standar militer,” tutur Aidi sebagaimana dilansir DetikNews.

Berbaris berjalan jongkok

Baca juga  Risma Siap Jadi Tim Sukses Jokowi-Ma'ruf Amin

Pada Minggu (2/12/2018), semua pekerja diminta berbaris berjalan jongkok dengan tangan terikat menuju bukit puncak Kabo. Akhirnya, mereka ditembaki anggota KKSB yang menari-nari sambil berteriak suara hutan khas pendalaman Papua. Namun ada beberapa karyawan yang pura-pura meninggal.

“Tidak lama kemudian, para anggota KKSB dengan kegirangan menari-nari sambil meneriakkan suara hutan khas pedalaman Papua, mereka secara sadis menembaki para pekerja. Sebagian pekerja tertembak mati di tempat. Sebagian lagi pura-pura mati terkapar di tanah,” jelas dia.

Sebelas karyawan yang pura-pura meninggal disebut meninggalkan lokasi setelah KKSB melanjutkan perjalanannya ke Puncak Kabo. Saat karyawan melarikan diri, ada anggota KKSB yang melihat dan langsung menembaki mereka, termasuk Jimmy.

“Setelah itu, KKSB meninggalkan para korban dan melanjutkan perjalanan menuju bukit Puncak Kabo. Sebelas orang karyawan yang pura-pura mati berusaha bangkit kembali dan melarikan diri. Namun malangnya aksi mereka terlihat oleh anggota KKSB sehingga mereka dikejar. Lima orang tertangkap dan digorok oleh KKSB (meninggal di tempat), 6 orang berhasil melarikan diri ke arah Mbua, 2 orang di antaranya belum ditemukan, sedangkan 4 orang (di antaranya saksi Jimmy Aritonang) selamat setelah diamankan oleh anggota TNI di Pos Yonif 755/Yalet di Mbua,” tutur dia.

Menurut Aidi, berdasarkan kesaksian Jimmy korban meninggal dunia ada 19 orang pekerja. “Menurut keterangan saudara JA (Jimmy Aritonang) jumlah korban yang dipastikan meninggal dunia dibantai oleh KKSB di lereng bukit puncak Kabo adalah 19 orang,” kata Aidi.

Aldi menambahkan, Satgas gabungan TNI-Polri sudah berhasil menguasai Mbua dan melaksanakan evakuasi korban.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here