Begini kronologi kecelakaan yang menewaskan NH Dini

SOLORAYA.COM – Novelis asal Kota Semarang Nurhayati Sri Hardini atau yang lebih dikenal dengan nama pena NH Dini meninggal dunia akibat kecelakaan di tol Semarang. Mendiang mengembuskan nafas terakhirnya usai mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Elisabeth Semarang. Begini kronologi peristiwa tersebut!

Peristiwa terjadi siang tadi pukul 11.15 WIB di ruas jalan tol KM 10. Saat itu ada truk Nopol AD-1536-JU yang mengalami kendala mesin dan mundur mengenai Toyota avanza Nopol H-1362-GG yang ditumpangi Sri Hardini atau Nh. Dini.

“Diduga light truk mengalami kerusakan (berhenti sesaat di jalur utama) saat pengemudi akan melanjutkan perjalanan tidak bisa dikendalikan sehingga berjalan mundur kemudian terjadi laka dengan Kbm Toyota Avanza Nopol H-1362-GG yang melaju searah di belakangnya,” kata Kasat Lantas Polrestabes Semarang, AKBP Yuswanto Ardi kepada wartawan, Selasa (4/12/2018).

NH Dini. (YouTube)

Pengemudi Avanza, Suparjo dan NH Dini kemudian dibawa ke rumah sakit. Namun sastrawan senior tersebut tidak tertolong dan meninggal di RS Elisabeth Semarang.

“Telah berpulang NH Dini jam 16.30 di RSE saat disemayamkan di kamar jenazah RSE,” kata Humas RS Elisabeth Semarang, Probowati Tjondronegoro.

Untuk diketahui, NH Dini juga merupakan ibunda Pierre Coffin, sang kreator Despicable Me yang mentenarkan tokoh lucu Minions.

NH Dini dilahirkan dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara, ulang tahunnya dirayakan empat tahun sekali. Masa kecilnya penuh larangan. Konon ia masih berdarah Bugis, sehingga jika keras kepalanya muncul, ibunya acap berujar, “Nah, darah Bugisnya muncul”.

Baca juga  Begini cara Google berantas hoaks menjelang Pilpres 2019

NH Dini mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Ia sendiri mengakui bahwa tulisan itu semacam pelampiasan hati. Ibu Dini adalah pembatik yang selalu bercerita padanya tentang apa yang diketahui dan dibacanya dari bacaan Panji Wulung, Penyebar Semangat, Tembang-tembang Jawa dengan Aksara Jawa dan sebagainya. Baginya, sang ibu mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk watak dan pemahamannya akan lingkungan.

Sekalipun sejak kecil kebiasaan bercerita sudah ditanamkan, sebagaimana yang dilakukan ibunya kepadanya, ternyata Dini tidak ingin jadi tukang cerita. la malah bercita-cita jadi sopir lokomotif atau masinis. Tapi ia tak kesampaian mewujudkan obsesinya itu hanya karena tidak menemukan sekolah bagi calon masinis kereta api.

Kalau pada akhirnya ia menjadi penulis, itu karena ia memang suka cerita, suka membaca dan kadang-kadang ingin tahu kemampuannya. Misalnya sehabis membaca sebuah karya, biasanya dia berpikir jika hanya begini saya pun mampu membuatnya. Dan dalam kenyataannya ia memang mampu dengan dukungan teknik menulis yang dikuasainya.

Dini ditinggal wafat ayahnya semasih duduk di bangku SMP, sedangkan ibunya hidup tanpa penghasilan tetap. Mungkin karena itu, ia jadi suka melamun. Bakatnya menulis fiksi semakin terasah di sekolah menengah. Waktu itu, ia sudah mengisi majalah dinding sekolah dengan sajak dan cerita pendek. Dini menulis sajak dan prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang ketika usianya 15 tahun. Sejak itu ia rajin mengirim sajak-sajak ke siaran nasional di RRI Semarang dalam acara Tunas Mekar.

Baca juga  Anies Beberkan Kenapa Tak Tersorot Media Saat Pembukaan Asian Games 2018

Produktif dan meraih penghargaan

Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand ini sudah telanjur dicap sebagai sastrawan di Indonesia, padahal ia sendiri mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya. Ia digelari pengarang sastra feminis. Pendiri Pondok Baca NH Dini di Sekayu, Semarang ini sudah melahirkan puluhan karya.

Beberapa karya Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin yang dikenal dengan nama NH Dini, ini yang terkenal, di antaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), belum termasuk karya-karyanya dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan. Budi Darma menyebutnya sebagai pengarang sastra feminis yang terus menyuarakan kemarahan kepada kaum laki-laki. Terlepas dari apa pendapat orang lain, ia mengatakan bahwa ia akan marah bila mendapati ketidakadilan khususnya ketidakadilan gender yang sering kali merugikan kaum perempuan. Dalam karyanya yang terbaru berjudul Dari Parangakik ke Kamboja (2003), ia mengangkat kisah tentang bagaimana perilaku seorang suami terhadap isterinya. Ia seorang pengarang yang menulis dengan telaten dan produktif, seperti komentar Putu Wijaya; ‘kebawelan yang panjang.’

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here