Isu Ahoker Golput di Pilpres 2019 Dianggap Permainan Opini Untuk Mengadu Domba Antara Pendukung Jokowi dan Pendukung Ahok

Presiden Joko Widodo alias Jokowi dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin memberikan keterangan pers tentang menjaga keutuhan bangsa dalam bingkai NKRI di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 16 Mei 2017. Jokowi secara resmi mendeklarasikan Maruf sebagai calon wakil presiden pendampingnya di Jakarta, Kamis malam, 9 Agustus 2018. TEMPO/Subekti
Jakarta – Peneliti dari Saiful Mujani Research Center (SMRC) Sirajuddin Abbas mengatakan isu yang santer tersiar bahwa pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada Pilkada DKI tidak akan memberikan suara hak pilihnya pada pilpres 2019 hanyalah opini yang dimainkan oleh beberapa pihak.
“Menurut saya (isu) golput memang dimainkan untuk mengadu domba antara pendukung Jokowi dan pendukung Ahok. Bisa juga tujuannya untuk membuat pendukung Jokowi menjadi ragu terhadap pilihan Jokowi karena pak Ma’ruf Amin,” kata Abbas di Jakarta, Kamis 16 Agustus 2018.

Jokowi telah memilih ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presidennya di pilpres 2019 nanti. Ma’ruf merupakan ulama yang mengeluarkan fatwa bahwa pernyataan Ahok yang menyitir surat Al Maidah menistakan agama. Tak lama setelah fatwa tersebut dikeluarkan, Ahok akhirnya dijebloskan ke dalam penjara.
Abbas juga mengatakan isu Ahoker, sebutan untuk pendukung Ahok, akan golput belum menjadi opini publik secara nasional, tapi hanya opini-opini yang disebarkan kepada masyarakat lewat berbagai media sosial. Tujuan penyebaran opini tersebut, kata Abbas, untuk membuat pendukung Jokowi menjadi ragu-ragu terhadap pilihan cawapres Jokowi.
“Apakah pendukung pak Ahok demikian? Belum tentu. Ini bagian perang psikologis, psy war, yang sudah mulai berlangsung,” ujarnya.
Lebih lanjut Abbas mengatakan pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin harus menunjukkan sikap serta komitmen mereka yang jelas terhadap pluralisme, perlindungan etnis dan kelompok agama minoritas, memperkuat Islam yang lebih moderat dan mendukung pluralisme. Menurutnya, hal ini dapat dilakukan pasangan Jokowi dan Ma’ruf untuk mendapatkan dukungan dari pendukung Ahok.
“Karena pendukung Ahok itu bukan dalam pengertian pendukung Ahok secara pribadi, tapi juga dalam pengertian pendukung minoritas, kelompok agama yang berbeda, dan juga pluralisme,” kata Abbas.
Sumber : TEMPO.CO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here