Mbah Loso, penjual wedangan pertama di Karanganyar

Panggilannya Mbah Loso putri. Nama aslinya adalah Mbah Wiji. Empat tahun lalu, masih bareng-bareng berjualan di Wedangan Mbah Loso bersama suaminya, Mbah Loso, atau Atmo Pawiro sebagai nama tuanya.

Namun tahun 2012 lalu, Mbah Loso kakung (putra) meninggal dunia karena gerah sepuh (sakit sementara waktu karena usia tua) pada usia sekitar 86 tahun.

Mulai saat itu, Mbah Wiji sendirian menyandang nama Mbah Loso bersama dua anak dan satu mantunya meneruskan wedangan Mbah Loso.

Boleh dibilang pasangan Atmo Pawiro dan Wiji adalah orang pertama yang mendirikan warung wedangan di Karanganyar. Pasangan suami istri tersebut, mulai membuka wedangan Mbah Loso pada tahun 1959.

Mbah Loso putri-selanjutnya disebut Mbah Loso- menceritakan, pada saat itu ia dan suaminya baru saja menikah. Mereka memutuskan untuk  mendirikan warung wedangan setelah sebelumnya bekerja sendiri-sendiri.

Atmo Pawiro yang nama kecilnya Loso, sebelumnya adalah penjual masakan nasi seperti soto, kare dan sejenisnya di Pedan, Klaten. Sementara Wiji bekerja di rumah Bupati Karanganyar pertama yang disebut Mbah Wiji dengan Pak Salim.

Pomo awake dewe dodol angkringan ngono mathuk pora, bar derek bupati isin pora, bapak taken ngetenniku,”  cerita MbahWiji memakai bahasa Jawa.

Artinya misalnya kita berdua ini jualan angkringan setuju apa tidak. Kamu kan habis bekerja ikut Bupati, malu apa tidak jualan angkringan.

Kemudian Mbah Wiji menjawab,”Kalau aku ikut orang berarti kan juga bekerja. Jadi tidak usah merasa malu yang penting kan tidak mencuri”.

Kemudian pasangan Mbah Loso memulai usaha wedangan dengan cara mereka hanya menyediakan wedang (minuman, Jawa) saja sementara untuk makanannya mengandalkan makanan titipan dari orang lain.

mbah-loso

mbah-loso

Pokoke awake dewe mung siap gula teh wae. Panganane nempel uwong-uwong,” cerita Mbah Wiji lagi. Artinya pada saat itu, wedangan Mbah Loso hanya modal minuman saja. Sementara makanannya dari orang lain yang dititipkan.

Makanan yang dijual saat itu bisa dibilang makanan sangat sederhana kala itu seperti tempe, tahu, lentho dan sejenisnya. Mereka berdua tiap hari berjualan wedangan di pasar Karanganyar serta di dekat terminal bemo.

Kalau pagi hingga agak siang, pada saat itu, wedangan Mbah Loso buka didalam pasar Karanganyar. Sedang pada siang harinya buka lapak di terminal bemo yang sekarang lokasi itu menjadi Taman Pancasila Karanganyar.

Lalu berapa harga minuman dan makanan di Wedangan Mbah Loso saat itu? Mbah Wiji mengaku tidak mematok harga khusus berapa. Semua diserahkan kesepakatan penjual dan pembeli.

Selama 57 tahun menjalankan usaha wedangan Mbah Loso, pasangan suami istri ini telah pindah lima lokasi. Pertama berada di lokasi di sisi barat terminal bemo (kawasan otonom).

Kemudian pindah lokasi ke dekat kantor TNI pada saat itu, yang berada disisi selatan jalan raya. Saat ini, tempat itu sudah menjadi tempat bagi sebuah lembaga pendidikan di Karanganyar.

Sepuluh tahun menempati di dekat kantor TNI itu, wedangan Mbah Loso pindah ke sisi barat jalan raya Karanganyar. Setelah itu\, berpindah sekitar 50 meter atau berada di dekat Lapangan 45 Karanganyar.

Terakhi, setelah 26 tahun berada di dekat lapangan 45 itu, akhirnya setahun terakhir,wedangan Mbah Loso berpindah tempat ke jalan RM. Said Karanganyar. Atau sekitar satu kilometer arah timur dari Taman Pancasila Karanganyar.

“Alasan pindah kesini karena simbok (ibu,Jawa) sudah sepuh (tua) juga. Biar lebih dekat dari rumah. Kalau pulang tidak kejauhan,” terang Ismaji, mantu dari MbahWiji.

Saat ini, Mbah Loso putri tinggal di rumahnya di Kampung,Ngloji RT 2 Rw 4 Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Karanganyar. Sementara tempat wedangan yang saat ini ditempati Mbah Loso adalah sebuah rumah milik keponakannya.

Lalu pesan apa yang disampaikan Mbah Loso kakung kepada Mbah Loso putri sebelum meninggal? Menurut Mbah Wiji, suaminya itu berpesan agar, menjaga kebersihan tempat jualan termasuk peralatan yang digunakan untuk berjualan seperti gelas dan piring.

mbah-loso-putri

Mbah Loso putri. (Soloraya.com)

Selain itu, menurut Mbah Wiji, suaminya itu berpesan untuk jadi orang yang jujur, apa adanya saja saat berjualan. “ Wedangan iki ora iso nyugihi tapi iso nguripi,” kata Mbah Wiji menirukan ucapan Mbah Loso kakung.

Ucapan itu berarti usaha wedangan yang dilakukan ini tidak bisa untuk membuat kaya tapi bisa untuk menghidupi. Dan sepertinya, Mbah Loso putri mematuhi benar pesan suaminya itu.

Mbah Loso putri tetap semangat bekerja dengan cara bekerja dan tempat dan menu jualan yang sederhana dan seadanya. Meski demikian, pelanggan wedangan Mbah Loso selalu datang dan pergi. Memberi rejeki atas keikhlasan Mbah Loso menikmati anugerah Yang Maha Kuasa.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: