Teh ‘ginasthel’ Mbah Loso, teh legendaris sejak lebih dari setengah abad silam

Minuman teh yang satu ini tak lekang oleh perubahan jaman. Sejak kehadirannya untuk pertama kali, pada tahun 1959 silam, teh ini tetap eksis sampai sekarang.Nama the ini adalah the Mbah Loso.

Berarti, hingga saat ini, tahun 2016, usia teh Mbah Loso sudah mencapai sekitar 57 tahun. Teh Mbah Loso ini dibuat oleh pasangan suami istri Atmo Pawiro danWiji. Atmo Pawiro adalah nama tua dari Loso.

Meski demikian, nama Loso akhirnya lebih populer di telinga orang-orang sehingga muncul nama Wedangan Mbah Loso. Pada saat itu, seperti diceritakanMbah Wiji atau Mbah Loso putri, baru ia dan suaminya yang menjual teh di warung sederhana yang saat ini disebut dengan warung hik.

Pada saat itu, ia dan suaminya berjualan minuman teh panas dan es teh di area terminal bemo atau orang kerap menyebutnya daerah otonom yang sekarang menjadi Taman Pancasila Karanganyar.

DiterangkanIsmaji, suami dari anak pertama AtmoPawiro-Wiji, Surati, mengenai cara pembuatn teh MbahLoso. Ada tiga merek teh yang digunakan untuk membuat teh Mbah Loso pada waktu itu yaitu teh cap Pak Djenggot, teh cap Balap serta teh cap Nyapu.

“Istilahnya jadi teh Pak Djenggo Balapan Nyapu,” kata Ismaji kepada Soloraya.com yang mengunjungi Wedangan Mbah Loso di Jalan RM. Said Karanganyar,Rabu (12/10).

img_20161012_210853

Mbah Wiji, Mbah Loso putri, menuangkan teh mbah Loso. (Soloraya.com)

Jadi, tiga macam teh tersebut dijadikan satu dalam sebuah tempat lalu diaduk sehingga bercampur sama rata. Komposisinya satu bungkus satu untuk masing-masing teh tersebut.

Awalnya tempat untuk mencampur tiga macam teh tersebut berasal dari bathok kelapa. Namun sejak tahun 1970 hingga saat ini, bathok kelapa itu diganti dengankaleng cat ukuransedang.

“Kalau pakai bathok kelapa, kalau ditaruh itu maunya jatuh terus,” kata Ismaji. Kalau kebetulan salah satu dari tiga teh tersebut tidak ada, bisa diganti dengan teh.cap Gardoe. “Sejauh ini tidak ada komplen kalau tiga teh yang biasanya dipakai itu diganti salah satunya dengan teh merek yang lain,” ungkap Ismaji.

Lalu saat akan diseduh jadi teh panas, adonan tiga teh tadi diambil  secukupnya dimasukkan kecangkir ukuran cukup maksi, baru kemudian adonan teh didalam cangkir tersebut dimasuki air panas yang sudah matang.

Setelah itu, tidak menunggu lama, minuman teh dalam cangkir besar tadi sudah berpindah ke gelas-gelas kaca ukuran sedang dan siap disajikan kepada pelanggan teh Mbah Loso yang kebanyakan memang berasal dari kalangan muda menuju tua atau generasi tua.

img_20161012_203117

Teh ginasthel Mbah Loso. (Soloraya.com)

Rasa teh Mbah Loso ini menurut Ismaji adalah ‘ginasthel’, yang merupakan singkatan dari legi (manis) panas dan kenthel (kental). Rasa yang ‘ginasthel’ ini selain dari campuran tiga teh tadi itu, juga karena pemberian gula pasir yang ia istilahkan dengan ‘over’.

Maksudnya gula pasir yang digunakan sangat banyak. Jika biasanya minuman teh hanya diberikan gula pasir 1-2 sendok, untuk teh Mbah Loso ini, gula pasirnya sampai tiga sendok.

“Kalau yang masih awam, mungkin akan merasa terlalu manis. Tapi bagi pelanggan yang sudah sangat menyukai teh Mbah Loso atau dalam bahasa Jawanya disebut gathok, rasa manis teh Mbah Loso sudah biasa,” kata Ismaji.

“Dengan air yang masih panas, gelas yang kurang bersih, bisa hilang baunya.Jadi memang minum teh Mbah Loso paling mantap saat masih panas,” kata Ismaji lagi.

Ismaji menambahkan, anglo yang digunakan untuk memasak air untuk teh yang akan dibua tMbah Losoputri, harus selalu penuh api  yang dihasilkan dari pembakaran arang.

Hal ini dilakukan agar air yang ada didalam porong selalu panas sebelum dimasukkan kedalam cangkir besar yang sudah berisi adonan tiga teh tadi. “Harga teh panas Mbah Loso untuk satu porsi mencapai Rp 2.000,00. Sedang untu kharga es tehnyaRp 3.000.00,” jelas Ismaji.

teh-mbah-loso

Peralatan meracik teh Mbah Loso. (Soloraya.com)

Ada hal berbeda saat memberikan pesanan es teh kepada pelanggan.Dijelaskan Ismaji, Mbah Loso akan memasukkan es batu kedalam teh yang masih panas. Hal ini tentu berbeda dengan penyajian es teh umumnya, yang memasukkan es batu pada saat teh didalam gelas tidak begitu panas lagi.

Selain itu, Mbah Loso akan memberi “bonus” kepada pembeli es teh buatannya, yaitu bonus teh panas manis pada gelas ukuran kecil. Jadi selain dapat es teh juga dapat teh panas.

Teh legendaris. Begitu pula dengan pembuatnya, Mbah Loso putri, yang saat ini usianya sudah sekitar 80 tahun. Anda penikmat teh, rasanya belum lengkap jika belum menikmati teh Mbah Loso seperti halnya ratusan pelanggan teh Mbah Loso lainnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: