Alakatak, makanan khas nan sederhana dari Weru, Sukoharjo

Setiap daerah, kebanyakan memiliki ciri khas dalam banyak hal, termasuk juga dalam hal kuliner atau makanan. Demikian halnya dengan Weru, salah satu kecamatan dari 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Sukoharjo.

Salah satu kecamatan yang berada di wilayah selatan Sukoharjo ini memiliki makanan khas berupa Alakatak. Selain di Weru, sangat sulit menemukan alakatak di Sukoharjo. Namun alakatak juga bisa ditemukan di Kecamatan Candi, Gunung Kidul.

Keberadaan ala katak sebagai makanan khas Weru bisa cukup mudah dijumpai terutama di pasar-pasar tradisional yang ada di Weru. Seperti pasar Karang Tengah atau juga pasar Cakruk, Weru. Ala Katak bisa bilang sebagai kuliner sederhana baik dalam hal bahan makanan maupun cara masaknya.

Alakatak adalah makanan tradisional yang terbuat dari dua bahan makanan yaitu tempe dan mie atau orang juga sering menyebutnya bakmi. Mie yang dipakai pada Alakatak sering disebut dengan mie penthil.

alakathak

Alakathak. (Soloraya.com)

Tempe yang digunakan untuk bahan Alakatak menggunakan bahan baku bengok yang dimasak dengan bahan membuat tempe. Karena menggunakan bengok, orang-orang sering menamainya dengan tempe bengok.

Saat berada di lidah, bengok yang keras jadi lembut dan terasa enak dimakan setelah diolah jadi tempe. Sedang untuk bahan mie penthil dibuat dari bahan tepung singkong. Ada dua warna mie pada makanan alakatak ini yaitu warna putih dan kuning.

Nah, warna kuning ini berasal dari kunir sebagai salah satu bagian dari jejamuan. Mie seperti ini, bila digigit terasa kenyal. Perpaduan tempe bengok dan mie penthil  yang dibungkus dengan daun jati yang menghasilkan makanan alakatak ini dijual sangat murah, hanya Rp 500.00 saja di pasar-pasar tradisional di Weru.

Soal rasanya, alakathak tetap menghasilkan rasa tempe bengok dan mie penthil. Jika ingin memperoleh rasa yang lebih “nendabg” bisa ditambahi dengan sambal dengan lombok yang masih mentah. Tentu akan menghadirkan alakathak yang pedas.

Ada ungkapan pada masyarakat Weru yang sebagian besar diantaranya bekerja di luar kota sebagai kaum boro, jika pulang kampung (mudik) belum terasa lengkap jika belum menikmati alakatak. Ungkapan ini tentu memperlihatkan betapa populernya menu alakatak ini di Weru.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: