Pethot, makanan sederhana, penggemarnya luar biasa

Mengapa banyak pengunjung mendatangi hick wedangan Gashebo kepunyaan Teguh di pusat kota Karanganyar? Kalau dihubungkan dengan menu makanan yang ada di warung makan satu ini, jawabannya adalah nasi tumpang dan pethot.

Itulah dua menu andalan Teguh sehingga mampu menjalankan warung lesehan miliknya itu hingga dua tahun terakhir. Pethot dan nasi tumpang merupakan menu yang tidak terlalu sulit dibuat. Apalagi pethot, jelas terlalu mudah untuk dibuat.

Semua bahan pethot tinggal digoreng matang dan kering saja. Setelah itu tinggal santap saja didampingi sambel bawang yang dikombinasi dengan kecap yang tingkat pedasnya bisa disesuaikan keinginan pembeli.

Nama makanan pethot sebenarnya adalah akronim dari tempe dan gathot. Sebenarnya pethot tidak hanya berisi tempe dan gathot saja. Tapi juga dikombinasikan dengan tahu pong atau tahu tanpa isi.

Cara memasak pethot,seperti ditulis diatas begitu mudah: tempe, gathot serta tahu yang sudah disiapkan tinggal digoreng matang-matang hingga kering (garing,Jawa).

Bedanya dengan gorengan tempe dan tahu yang dibuat lebar-lebar, tempe dan tahu yang digoreng untuk pethot ini dibuat dalam bentuk kotak dan kecil.

pethot_pethot_

pethot_

Ukurannya bisa seperempat dari ukuran tempe atau tahu goreng yang umum ada di warung-warung makan itu.Demikian pula dengan gathot yang juga digoreng hingga kering dengan ukuran yang juga kecil-kecil dan membentuk segitiga.

Cara penyajian pethot diterangkan Teguh, dilakukan pada saat ada permintaan dari pengunjung warung makannya. “Jadi dibuat langsung setelah ada permintaan dari pelanggan,” kata Teguh kepada Soloraya.com, Senin (19/9).

Soal rasa dari menu pethot ini, didominasi rasa pedas dari sambal bawang-kecap yang dibuat pedas. Sedang rasa tempe, tahu dan gathotnya biasa-biasa saja karena memang Teguh tidak memberi tambahan bahan pada tiga bahan utama dari pethot itu.

Untuk satu porsi pethot yang dibuat Teguh dihargai Rp 5.000,00. Sementara untuk sambal bawang plus kecapnya dihargai Rp 1.500,00. Jadi semuanya satu piring pethot dan sambalnya menjadiRp 6.500,00. Untuk kadar pedas dari sambal bawang kecapnya, disesuaikan keinginan pembeli, bisa sangat pedas, setegah pedas atau biasa saja.

Diakui Teguh, sebenarnya pethot merupakan makanan yang biasa saja. Karena semua yang bisa memasak, bisa membuat pethot ini. Namun begitu, jangan merendahkan pethot racikan Teguh. Mengapa? Karena pelanggan pethot milik Teguh datang dari orang-orang yang secara ekonomis berkecukupan (orang-orang kaya).

“Orang-orang  kaya dari Solo kesini ya nyarinya pethot ini. Tak hanya satu porsi tapi bisa dua atau tiga porsi,” aku Teguh.

Teguh mengakui, makanan pethot ini tidak ada lagi yang membuatnya karena hanya dia yang membuat pethot. Agak mengherankan memang pengakuan Teguh. Karena sudah dua tahun ini, Teguh mengandalkan pethot untuk menarik perhatian pengunjung, dengan bahan membuat pethot yang mudah dibuat, ternyata menurut Teguh, tak ada yang menjadi follower pembuat pethot.

“Berapa piring pethot tiap malamnya disajikan kepada pembeli, saya jarang menghitungnya,” kata Teguh.

Untuk membuat pethot tiap harinya, Teguh menghabiskan 100 ribu untuk membeli tempe mentah, 2-4 tal tahu yang harganya sekitar Rp 40 ribu serta 50 ribu gathot yang ia pesan dari Jamus, Karanganyar.

Pethot bikinan Teguh membuktikan bahwa untuk membuat makanan yang disukai banyak orang tidak harus banyak bahan dan jlimet dibikinnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: