Thiwul Instan, thiwul modern ala Wonogiri

Di wilayah pesisir selatan Jawa seperti daerah Gunungkidul (DIY), Wonogiri (Jateng) serta Pacitan (Jawa Timur) memiliki makanan khas dari singkong yang disebut thiwul. Dari tiga daerah tersebut, thiwul Wonogiri diklaim lebih pulen (kenyal) sehingga sangat disukai.

Enaknya thiwul Wonogiri menurut Stefanus Pranowo, Kepala Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Wonogiri karena tiwul Wonogiri dibuat dari singkong yang benar-benar kering serta masyarakat Wonogiri sendiri yang sudah pandai membuat nasi tiwul yang pulen.

Pada perkembangannya, thiwul Wonogiri tidak lagi dibuat sebagai pengganti nasi dengan dimasak terlebih dahulu seperti nasi. Namun saat ini, thiwul  Wonogiri sudah bisa dibuat versi cepat sajinya atau disebut dengan thiwul instan.

Sesuai dengan namanya, thiwul seperti ini tentu tidak membuat capek saat membuatnya. Pembuatan thiwul instan dilakukan Kelompok Wanita Tani Desa Semin, Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri. Thiwul instan merupakan thiwul matang yang sengaja dibuat kering. Jika ingin dimakan langsung saja dicampur dengan air matang.

Setelah itu, buliran nasi thiwul yang mongering itu akan mengembang kenyal sehingga siap dimakan. Ini persis seperti memasak mie instan. Saat ini sudah cukup banyak warung makan di Wonogiri yang menyediakan menu thiwul termasuk yang thiwul instan.

“Warung-warung makan di Wonogiri, banyak yang menyediakan menu tiwul. Bahkan sudah ada yang dibentuk kemasan instan. Jadi tinggal diolah sedikit,” kata Stefanus Pranowo.

Pembuatan thiwul menggunakan bahan baku berupa singkong (ketela pohon) yang dikupas lalu dikeringkan. Singkong yang sudah kering ini disebut dengan gaplek. Setelah itu, gaplek ditumbuk untuk dijadikan tepung.

Masyarakat Wonogiri menyebut tepung gaplek ini dengan kabluk. Dengan menggunakan tampah, kabluk kemudian diayak yang dalam bahasa Jawa disebut diinteri. Fungsi pengayakan  kabluk adalah untuk mendapatkan tepung kabluk yang halus.

Tepung yang halus hasil dari pengayakan ini kemudian diberi air lalu diaduk-aduk memakai tangan (diuleni, Jawa) untuk selanjutnya dibuat menjadi bulir-bulir kecil thiwul. Pada proses  nguleni inilah diperlukan kesabaran agar memperoleh thiwul yang terasa pulen.

Cara nguleni tepung adalah telapak tangan yang sudah memegang tepung digerakkan memutar hingga tepung yang berada di genggaman tangan bisa menjadi bulir-bulir kecil sebesar biji kacang hijau. Bulir-bulir kecil hasil putaran tangan inilah disebut thiwul.

Setelah bulir thiwul yang dibuat dirasa sudah banyak, kemudian dimasak seperti memasak nasi. Cara menanak bulir thiwul ini dengan dipasang pada dandang (diangsang, Jawa) lalu dipanasi dengan pembakaran secukupnya menggunakan kayu bakar, atau juga kompor gas. Bisa juga menggukan kompor minyak.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Thiwul instan. (Soloraya.com)

Setelah matang thiwul pun siap disajikan. Sajian nasi thiwul akan lebih special dengan pendamping sayur Lombok hijau, sambel bawang serta ikan wader. Thiwul menjadi salah satu kuliner khas di Soloraya.

Tidak hanya terkenal di Wonogiri, keberadaan thiwul juga populer di wilayah Soloraya lainnya seperti Sukoharjo, dan Karanganyar. Jadi anda tinggal pilih. Mau menikmati thiwul konvensional atau thiwul instan. Berkunjung saja ke Wonogiri.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: