Es Buto Ijo, enak, lumer dengan rasa herbal yang kuat

Sudah setahun terakhir, khasanah kuliner Karanganyar diramaikan dengan keberadaan minuman franchise yang dikenal dengan nama es Buto Ijo.

Minuman franschise ini awalnya dari Kediri dan kini sudah menjadi barang franchise di banyak wilayah di tanah air. Wawan adalah salah satu pemilik merek dagang es Buto Ijo di Karanganyar.

Diakui Wawan, ia pembeli kedua dari merek dagang es Buto Ijo itu. Ia membeli merek dagang es Buto Ijo itu dari orang Sragen sekitar satu tahun lalu.

Dalam perjalanannya, Wawan memiliki empat outlet es Buto Ijo dengan satu outlet es Buto Ijo ia beli dengan nilai Rp 12,5 juta. Kini empat outlet tersebut sudah ia alih kelolakan kepada orang lain termasuk saudaranya.

“Terakhir saya melepas satu outlet senilai Rp 15 juta. Kalau kepada saudara sendiri sebelumnya saya lepas Rp 10 juta. Ngga papa. Saudara sendiri,” kata Wawan.

Es Buto Ijo

Es Buto Ijo. (Soloraya.com)

Es Buto Ijo dibuat melalui kombinasi sejumlah bahan baku minuman es pada umumnya seperti pemanis berupa cairan gula putih, mutiara, nata de coco, puding, jelly, serta buah dan telasih. Serta tentu saja susu dan es batu.

Oleh Wawan, cairan gula putih didapat dari gula putih (gula pasir) yang dimasak matang-matang  kurang lebih satu jam.Biasanya Wawan memasak cairan gula putih ini 12-15 liter untuk satu hari.

Sedang untuk bahan seperti mutiara, nata de coco, puding, serta jelly juga dimasak hingga matang kurang lebih  selama 20 menit. Bahan yang tidak dimasak adalah cairan telasih serta melon.

Mengapa dipilih buah melon, bukan buah nanas atau yang lainnya? Wawan mengatakan karena buah melon menjadi buah yang paling mudah  didapat dan praktis untuk digunakan sebagai campuran es.

“Belinya gampang, tinggal dibersihkan saja, sudah. Praktis,” kata Wawan kepada Soloraya.com mengenai pilihannya menggunakan buah melon.

Dalam sehari Wawan bisa menghabiskan 20 buah melon ukuran sedang. Keistimewaan es Buto Ijo adalah penggunaan sirup herbal setelah semua bahan seperti mutiara, puding, nata de coco juga jelly, telasih,susu dan pemanis gula dimasukkan dalam mangkok.

Ini yang membedakan es Buto Ijo dengan yang lainnya,” kata Wawan.Rasa es Buto Ijo dengan sirup herbal ini lebih didominasi rasa khas herbal.

Namun rasa lezat, dan es yang lumer juga mash bisa dirasakan. Sirup herbal ini diakui dibuat dari sejumlah tumbuhan herbal. “Namanya asing semua tumbuhannya,” kata Wawan.

Setiap hari, sekitar 100 mangkok es Buto Ijo racikan Wawan bisa terjual kepada pembeli yang datang dari berbagai kalangan. Keuntungan yang didapat Wawan pun lebih dari lumayan dengan harga satu porsi es Buto Ijo mencapai Rp 5000,00.

Mengenai nama es Buto Ijo sendiri, Wawan mengaku, tak ada arti atau pemaknaan  khusus. Nama es Buto Ijo hanya merupakan bran atau merek dagang saja.  Wawan bisa dibilang sebagai pelaku usaha es Buto Ijo yang berhasil.

es Buto Ijo_outlet

Outlet es Buto Ijo milik Wawan. (Soloraya.com)

Buktinya, ia sebenarnya sudah siap untuk membuka dua outlet es Buto Ijo lagi di Karanganyar.Namun karena outlet es Buto Ijo di yang berada di jalan Grompol-Jamus kilometer 8 ini belum memiliki karyawan, maka Wawan belum punya waktu untuk meresmikan dua outlet es Buto Ijo seperti yang ia rencanakan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: