Begini sejarah Pasar Jamu Nguter

Pada 1 April 2015 lalu, Kabupaten Sukoharjo menobatkan dirinya menjadi kota jamu dengan penandanya adalah keberadaan Pasar Jamu Nguter yang diresmikan sebagai sentra produk industri jamu di Sukoharjo.

Pasar Nguter memang memiliki sejarah yang kuat terhadap jamu tradisional terutama jamu racikan sendiri atau biasa juga disebut dengan jamu godogan. Semua dimulai dari lebih 80 tahun silam oleh seorang wanita bernama Yoso Hartono, wanita penjual jamu pertama di Nguter. Berikut sejarah berdirinya Pasar Jamu Nguter.

Pada sekitar tahun 1935, masyarakat Nguter berjualan berpindah-pindah dari lokasi satu ke lokasi lain. Sehingga membuat pembeli kesulitan untuk mengetahui posisi para pedagang. Kemudian pada pedagang mulai menetap di satu lokasi lahan di Dusun Nguter Rt 12 Rw 05.

Lokasi baru ini dirasa cukup nyaman oleh pedagang.Selain itu, lokasi baru ini sangat strategis, karena berada di di sisi barat jalan utama Solo-Wonogiri.Maka tahun 1940-an, mulailah para pedagang menetap di lokasi pasar Nguter.

Kemudian sekitar tahun1950, pemerintah membangun pasar yang berada di dusun Nguter tersebut dan secara resmi dinamakan Pasar Nguter dengan luas lokasi pasar sekitar setengah dari luas lahan Pasar Nguter saat ini.

Jaman dulu, Pasar Nguter masih berbentuk los-los yang terbuka.Dagangan yang diperjual belikan antara lain hasil kebun, sawah, kerajinan tangan serta ternak. Seiring perjalan waktu, pemerintah memperluas pasar ke sebelah timur dengan cara melakukantukar guling kas desa dengan sawah yang dimiliki warga yang ada di timur pasar.

Sesepuh masyarakat yang berada di lingkungan Pasar Nguter, Mbah Jogo, dulu tanah sawah yang ditukar guling itu dimiliki sejumlah petani seperti Wiryomadi,Tedu, serta Kinem. Lalu pada tahun 1970, pemerintah memperbarui pasar Nguter karena memiliki luasan tanah baru seperti luas lahan pasar saat ini.Jadi luas lahan pasar Nguter saat ini, sudah ada sejak tahun 1970.

Perbaruan pasar Nguter dilakukan dengan menambah 69 kios dengan ukuran 3×4 meter yang ada didalam Pasar Nguter.

Pasar Jamu Nguter_

Kios-kios bagian samping selatan Pasar Jamu Nguter. (Soloraya.com)

Perubahan pasar Nguter menjadi pasar Jamu

Sekitar tahun 1932, ada seorang wanita warga Purwodadi bernama Yoso Hartono yang menjadi satu-satunya penjual jamu di pasar Nguter.Namun wanita yang tinggal di Solo ini mengalami kerugian. Yoso Hartono kemudian pindah keDesa Nguter bersama empat anak yang masih hidup dari 10 anak yang ia lahirkan.

Empat anak Yoso Hartono itu adalah Eko Cahyono (Leo), Maryani, Yulianingsih (Cik Nelly) serta Rudiyanto, diajak pindah ibu mereka tahun 1937. Satu tahun kemudian,Yoso Hartono berjualan jamu beras kencur, kunir asem, jamu pahitan serta jamu hasil olahan yang siap diminum .

Pada waktu itu, satu gelas jamu buatan Yoso Hartono dijual dengan harga ½ sen. Gelas jamu Bu Yoso waktu itu berasal dari botol plastic yang dibuat menyerupai gelas.Penghasilan tiap hari dengan ide baru menjualan jamu yang diperoleh bu Yoso mencapai 15 sen.

Pedagang lain yang sering melihat cara jualan jamu Bu Yoso, lalu mulai mengikuti langkah pedagang asal Purwodadi tersebut. Pada tahun 1983, Bu Yoso mengembangkan produksi jamu tradisionalnya dengan mengembangkan racikan jamu godokan yang dibungkus dalam plastic dengan tujuan, pembeli bisa membawa pulang jamu tersebut dan membuatnya menjadi minuman jamu di rumah masing-masing.

Meski berbahan dari obat-obatan tradisional, tapi khasiat jamu godokan Bu Yoso tidak kalah dengan jamu olahan pabrik. Sementara banyak warga Nguter yang mengikuti langkah Bu Yoso masih berjualan jamu dengan cara tradisional dengan cara berjualan berkeliling membawa jamu godokan dengan menggunakan tempat khusus berupa tenggok yang digendong di punggung.

Pada tenggok ini berisi botol-botol yang berisi jamu  racikan. Orang Jawa menyebutnya dengan jamu Gendong.Hingga sekarang, penjual jamu gendong masih cukup mudah dijumpai.Seiring perjalanan waktu, kesejahteraan hidup warga Nguter membaik.Demikian pula dengan keluarga Bu Yoso Hartono.

Berdasarkan keterangan dari kantor lurah pasar Nguter disebutkan saat ini sudah ada 45 pengrajin jamu. Sementara itu perubahan juga terjadi di pasar Nguter dimana makin banyak pedagang pemilik los kios di Pasar Nguter akhirnya berpindah berjualan jamu.

Pada pedagang jamu ini melakukan inovasi  dengan membuat resep dengan merek sendiri-sendiri walaupun kegunaan/khasiatnya sama.Seiring perjalanan waktu, industri jamu di Nguter mengalami pertumbuhan yang besar.

Salah satu penanda pertumbuhan dari industri jamu di Nguter adalah munculnya koperasi jamu Indonesia atau KOJAI yang diketuai Murtejo. Ide pembentukan KOJAI dimunculkan salah satu anak Ibu Yoso Hartono, Eko Cahyono dan mendapat dukungan penuh dari Lurah Desa Nguter, Paimo serta Camat Nguter, Haryanto.

Selain Eko Cahyono, sejumlah anak Ibu Yoso Hartono juga menjadi penanda kesuksesan industri jamu di Nguter seperti Yulianingsih (Cik Nelly) yang bersama suaminya, Slamet Riyadi mendirian perusahaan pengolahan jamu yang bernama CV. Wisnu Joglo Kresna Wisnu (WJKW) yang berada di sisi timur Pasar nguter.

Ibu Yoso Hartono pun seperti  menjadi penanda sejarah munculnya industri jamu khususnya jamu racikan (godokan) di Nguter karena berkat usahanya sejak menciptakan jamu olahan sejak tahun 1973 silam. Pada tahun 1983, Yoso Hartono meninggal dunia dan pengelolaan industry jamunya diteruskan anak-anaknya.

Tonggak sejarah penting berikutnya adalah pada 1 April 2015 lalu dengan diresmikannya Pasar Nguter menjadi Pasar Jamu Nguter oleh pemerintah pusat setelah sebelumya melakukan pembaruan pasar Nguter pada Agustus 2013 dengan dana Rp 13,4 miliar.

Meski juga ditempati para pedagang non jamu seperti pedagang sembako, buah-buahan, warung makan, pakaian dll, namun mayoritas pedagang pasar jamu Nguter adalah para pedagang jamu.Termasuk tujuh produk jamu racikan yang berskala besar yang diproduksi CV WJKW yaitu Gujati, Sabdo Palon, Bisma, Anoman, Puntodewo, Narodo.

Pasar Jamu Nguter

Kios bagian depan Pasar Jamu Nguter. (Soloraya.com)

Berdasarkan data dari kantor Lurah Pasar Jamu Nguter, zona jamu mendominasi unit kios dan los yang ada di Pasar Nguter ini. Untuk kios, zona jamu memiliki 55 unit yang berada di lantai atas dan bawah.Sedang zona jamu di bagian los pasar ada 119 unit yang berada di lantai atas maupun bawah.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: