Cembengan, ritual menjelang musim giling

Menjelang musim giling tebu bisa dipastikan semua pabrik gula menggelar ritual cembengan –prosesi ritual keselamatan menyambut giling tebu. Tradisi ini sebenarnya merujuk pada keramaian pasar malam yang selalu digelar pada masa panen tebu –biasanya April-Mei, di sekitar lokasi pabrik gula.

Di Karanganyar, Jawa Tengah, cembengan digelar oleh Pabrik Gula (PG) Tasik Madu selama dua hari, Jumat-Kamis (12-13/5).  Hari pertama berupa arak-arakan sesaji, antara lain tujuh kepala kerbau, jenang merah dan putih, nasi tumpeng, dan hasil bumi.

Bermacam sesaji diletakkan di dalam jolen atau joli  (semacam tandu kecil) yang dihiasi  dengan kertas warna-warni. Arak-arakan sesaji dimulai dari halaman Balai Desa Suruh menuju pabrik gula yang berjarak sekitar 5 kilometer.

Inilah ritual untuk memohon keselamatan selama proses penggilingan tebu yang akan dimulai pada keesokan harinya. Sesampai di pabrik, aneka sesaji, terutama tujuh kepala kerbau, diletakkan di bagian bawah mesin produksi. Kepala kerbau diyakini sebagai penolak bala atau bencana.

Puncak ritual cembengan adalah prosesi kirab temanten tebu atau pengatin tebu pada hari berikutnya. Sepasang tebu temanten didandani layaknya sepasang mempelai. Pengantin tebu pria bernama Bagus Mandara, sedangkan tebu pasangannya dinamakan Rara Ayu Manis Laksmi.

“Tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun. Inilah cara kami memohon keselamatan, tidak terjadi halangan selama musim giling, sehingga hasil giling tebu bermanfaat bagi petani, pabrik, karyawan, dan masyarakat,” kata Administratur PG Tasik Madu, Teguh.

Di sepanjang pinggir jalan, masyarakat menyaksikan pengantin tebu. Atraksi reog menyambut kedatangan pengantin tebu, dan kemudian mengirinya hingga di halaman pabrik gula. Begitu arak-arakan pengantin memasuki  ruang giling,  sepasang temanten tebu kemudian diletakkan di atas mesin giling, disusul kemudian 14 pasang tebu pengiringnyanya.

Mesin penggiling pun bergerak mulai menggilas dan melumat batang-batang tebu. Bergeraknya mesin giling itu  pun menandai dimulainya proses giling tebu hingga 100 hari mendatang, sekaligus  mengakhiri ritual cembengan di PG tasik Madu, Karanganyar. (Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: