Topeng Panji Polokarto yang kian terlupakan

Topeng Panji adalah topeng yang biasa dikenakan para penari dalam pentas tari yang mengambil kisah-kisah dalam Cerita Panji –cerita fiksi asli Indonesia yang perlahan mulai terlupakan. Cerita Panji memang tak sepopuler kisah Mahabarata dan Ramayana yang nota bene diadopsi dari India.

Bisa jadi karena pertunjukan tari topeng Panji tak lagi banyak digelar, kini kebutuhan topeng Panji hanya sebatas untuk koleksi, hiasan dinding, juga untuk kebutuhan akademis perguruan tinggi seni. Jumlah perajin topeng Panji pun tak banyak. Mereka memilih beralih profesi menjadi petani atau pedagang yang dirasa lebih menjanjikan.

Narimo adalah satu-satunya perajin topeng yang masih bertahan di wilayah Jawa Tengah. Di Galeri Panji miliknya di Jetis, Polokarto, Sukoharjo, Narimo terus berlarya membuat  topeng Panji dengan tokoh-tokoh  seperti Panji Asmara Bangun (Inu Kertapati), Dewi Sekartaji (Galuh Candra Kirana), Klana Swandana, Dewi Kili Suci, Batara Indra, Penthul Tembem dan seterusnya.

Selama lebih dari 30 tahun Narimo menggeluti kerajinan ini. Ratusan topeng karyanya  sudah tersebar ke berbagai tempat. Seluruh Institus Seni Indnesia (ISI) bahkan  menggunakan topeng karya Narimo untuk keperluan akademis dan pentas.

Selain perguruan tinggi seni Indonesia, topeng karya Narimo juga banyak digunakan oleh perguruan tinggi seni dari berbagai negara, antara lain Jepang, Amerika, China, Korea Selatan, Jerman, dan India. Topeng Panji karya Narimo juga banyak dikoleksi olek kolektor asing.

“Harga paling murah 350 ribu sampai jutaan. Saya pernah menjual satu topeng Klana Sewandana Rp 20 juta karena pakai prada (cat) emas,” ujar Narimo.

Dengan harga sebesar itu, konsumen topeng Panji ini memang sangat terbatas. Untuk menyambung hidup, Narimo mensiasatinya dengan membuattopeng souvenir yang ukurannya lebih kecil. Topeng-topeng tersebut banyak dipesan oleh pengelola tempat wisata dengan harga Rp 10 ribu per topeng.

Narimo sendiri adalah prototipe orang desa yang ulet. Sejak lulus Sekolah Dasar di tempat kelahirannya di pinggiran Klaten, dia telah memulai membuat wayang kulit. Empat tahun kemudian, Narimo memutuskan hijrah ke Surakarta untuk belajar membuat topeng pada seniman topeng dan juga dosen STSI (sekarang ISI Surakarta) jurusan Pedalangan., Bambang Suwarno.

Karya topengnya pertama kali muncul dalam sebuah pameran di ISI Surakarta tahun 1989. Sejak itu, topeng-topeng karya Narimo banyak dikenal dan digunakan dalam berbagai pertunjukan tari topeng dan dijadikan koleksi.(Ganug Nugroho Adi)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: