Boyolali, City of Fashion International…

Tak puas hanya dengan predikat sebagai Kota Susu, Bupati Boyolali Seno Samodro melontarkan program mewah di wilayah Kabupaten Boyolali. Dia ingin membuat City of Fashion International di Kota Susu itu. Pada akhir September 2016, dia mewakili Pemkab Boyolali akan menandatangani nota kesepakatan atau memorandum of understanding (MoU) dengan investor.

“City of Fashion International itu nantinya akan menjadi kiblat perancang busana kelas dunia,” ujar Seno saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (3/8/2016).

Lebih jauh ia menjelaskan, City Of Fashion International adalah sebuah kawasan perkotaan khusus, di mana para perancang busana dari berbagai dunia akan berkumpul di sana. Para perancang busana itu lantas membikin sayembara untuk menciptakan busana terbaik kelas dunia. Busana yang masuk nominator, kata dia, akan diproduksi secara terbatas lalu disebarkan ke penjuru dunia. “Nanti, busana yang terbaik akan menjadi percontohan lalu disebarkan ke dunia. Ini memang ide ‘gila’ dari orang-orang Swiss yang menemui saya,” jelasnya.

"Simbol" baru Boyolali

“Simbol” baru Boyolali (boyolalikab.go.id)

Seno mengaku telah memberi lampu hijau kepada para investor dari Swiss itu. Selain itu, ia juga mengaku telah menyiapkan lahan seluas 150 hektare di Boyolali untuk proyek ambisius itu. Lahan itu, kata dia, selain untuk membangun pabrik, juga untuk membangun lokasi-lokasi pameran, sayembara, dan lain-lainnya. “Jangan tanya di mana lokasinya. Sekarang lagi FS [feasibility study] Kalau, saya kasih tahu, harga tanah naik gila-gilaan. Dan studi sudah tak feasibility lagi,” akunya.

Jika tak ada aral melintang, tegas Seno, akhir bulan depan sudah dilakukan penandatanganan nota kesepakatan atau memorandum of understanding (MoU) antara Pemkab Boyolali dengan investor asal Swiss. Seno optimistis City of Fashion International akan menjadi proyek mercusuar dan akan mengangkat perekonomian warga Boyolali.

“Saya sebagai tuan rumah, selalu mempersilakan setiap investor masuk asal tak melanggar Perda RTRW,” terangnya.

Sebagai kota yang pro investasi, kata Seno, Boyolali terus mendorong pertumbuhan investasi. Tahun ini, dana investasi dari para investor sedikitnya sudah menembus Rp6 triliun. Seno mengklaim, investasi terkecil dari para investor adalah Rp100 miliar.

“Kalau saya sebutkan satu percsatu sangat banyak investor yang masuk ke Boyolali. Ada lebih 25 investor. Ada yang dari Korea, Swiss, Hongkong, dan lain-lainnya. Investasi paling kecil Rp100 miliar,” terangnya.

Seno juga memastikan saat ini Boyolali mengalami defisit tenaga kerja 16.000 orang. Hal itu, kata dia, karena pertumbuhan ekonomi melonjak lantaran banyakanya investor yang masuk.
“Saya dulu pernah bilang, jika warga Kali Jodo Jakarta yang sudah digusur bingung cari kerja, silakan datang ke Boyolali. Tapi, kami yakin mereka tak mau karena sudah telanjur nyaman dengan gaji UMK Jakarta,” bebernya. (sumber: wawancara Bupati Seno Samudra dengan wartawan solopos.com)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: