Adu Macan di Jawa : Rampog Macan di Kraton Kartasura Berlanjut ke Kraton Solo…

Memperadukan atau menyabung binatang adalah perilaku yang lazim dilakukan masyarakat Nusantara. Adu jago atau sabung ayam yang paling umum ditemui, bahkan menjadi syarat sah upacara religi di Bali, adu domba sampai-sampai menjadi perumpamaan jahat dalam bahasa Indonesia, adu kerbau hingga kini tetap menjadi tontonan menarik di Tana Toraja. Namun, adu macan atau rampogan adalah tradisi yang banyak dilupakan orang.

Rampogan atau rampog macan yang kerap pula ditulis rampok macan adalah kebiasaan kuno masyarakat Nusantara yang kerap juga digelar di tanah Jawa. Penelusuran sejarawan Belanda Peter Boomgaard yang dituangkan dalam artikel berjudul Tijgerstekerijen en tijger-buffelgevechten op Java, 1620-1906 dan dimuat jurnal Indische Letteren. Jaargang 21 menyimpulkan tradisi adu macan atau harimau yang disebutnya itu .

Kabar paling dini tentang adanya tijgerrampok di Pulau Jawa, menurut Peter Boomgaard, datang dari orang-orang Belanda yang ikut dalam pelayaran Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Pada tahun 1620, mereka dipenjara pangeran Mataram di Pabean dan Taji, Jawa Tengah. Keleluasaan menulis dan mengirim surat ke markas VOC di Batavia itu menunjukkan betapa mereka sebenarnya cukup bebas kendati berstatus sebagai tawanan.

Jika ditilik dari tahun kejadian, maka dapat disimpulkan bahwa saat itu Kerajaan Mataram dipimpin sultan ketiga, Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma yang bertakhta 1613-1645. Pada tahun 1620 itu, pasukan VOC baru setahun merebut Jayakarta yang belum ditaklukkan Mataram dan mengganti namanya menjadi Batavia. Sedangkan pangerannya adalah Raden Mas Sayidin yang setelah menjabat adipati anom bergelar Pangeran Arya Prabu Adi Mataram dan kelak menjadi Susuhunan Amangkurat I, raja arogan hingga dihajar Trunojoyo.

Dalam salah satu surat, orang-orang Belanda yang ditawan Mataram itu mengabarkan bahwa orang-orang raja Mataram menangkap hidup-hidup 200 harimau dalam kurun waktu tiga bulan saja. Ratusan harimau atau macan tersebut dipersiapkan, penguasa muda Mataram itu untuk pertunjukan mengadu hewan buas dengan manusia, dan hewan buas dengan hewan lain.

Referensi terkait pertarungan manusia dengan harimau itu hanya muncul dari tradisi berburu harimau di Kerajaan Mughal, India. Referensi lain terkait tijgerrampok itu diperoleh Boomgaard dari Kesultanan Banten. Pada tahun tahun 1605, Pangeran Jakarta yang merupakan bawahan Sultan Banten melakukan pertunjukan adu harimau dalam sangkar. Selanjutnya, ada pula laporan lain dari Aceh yang menyebutkan bahwa pada tahun 1613, seorang sultan Aceh mempertunjukkan pertarungan seekor harimau yang diikat di tiang melawan empat ekor gajah.

Sketsa situasi rampogan di Alun-alun Kraton Surakarta, 1865. (Koleksi F. Jagor)
Sketsa situasi rampogan di Alun-alun Kraton Surakarta, 1865. (Koleksi F. Jagor)

Referensi lain tentang sabung harimau atau macan itu datang dari buku Oud en Nieuw Oost-Indiën karya penginjil François Valentine yang terbit antara tahun 1724 dan 1726. François Valentine memaparkan bahwa pada tahun 1700 raja meminta para pangeran dan pejabat kerajaannya turut membiayai pergelaran besar-besaran adu macan untuk menghibur rakyat. Pertunjukan adu macan terbesar dari yang pernah ada.

Jika ditilik dari tahunnya, maka kala rampogan sima itu digelar, bertakhtalah Sri Susuhunan Amangkurat II, pendiri sekaligus raja pertama di Kraton Kartasura sebagai kelanjutan Kraton Kesultanan Mataram di Pleret, Bantul, kini Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dianggap telah kehilangan wahyu gara-gara diduduki Trunojoyo pada tahun 1677. Ia memerintah tahun 1677-1703.

Deskripsi jalannya pertunjukan hiburan untuk rakyat itu dipaparkan Thomas Stamford Raffles dalam History of Java yang diterbitkan pada tahun 1817. Paparan yang sangat mirip, atau bahkan plagiarisme dipublikasikan pula oleh Johannes Olivier Jz. melalui Tafereelen en merkwaardigheden uit Oost-Indië (1836). Pendeta dan politikus W.R. van Hoëvell juga melaporkan jalannya pertunjukan adu macan di Solo melalui Tijdschrift voor Neêrland’s Indië (1840).

Seiring dengan perpindahan kraton penerus dinasti Mataram dari Kartasura ke Dusun Sala, 1745, pertunjukan adu macan itu memang berlanjut ke kraton baru yang dinamai Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningat itu. Sejumlah sketsa dan foto bikinan orang Belanda terkait pertunjukan adu macan di Alun-Alun Utara Kraton Solo itu masih lestari dipubikasikan penulis buku dan pengelola laman Internet hingga kini.

Buku-buku yang terbit belakangan, sepertinya mengutip kesaksian Valentine, catatan Raffles, dan kesaksian van Hoëvell. Pada umumnya, dipaparkan pada awal abad ke-17, hanya dikenal adu macan (sima) dengan kerbau (maesa). Sima-maesa itu digelar di alun-alun kraton dengan ditonton rakyat dan dihadiri pula oleh kerabat kraton.

Raja biasanya juga mempersilakan orangpara pejabat pemerintah kolonial Belanda di Hindia Timur hingga tingkat gubernur jenderal turut menonton pertunjukan tersebut. Sebagian penulis bahkan ada yang berani menyebut pertunjukan rampog macan itu memang digelar untuk menyambut para tamu agung, para orang asing itu.

Baca juga  Kontrak 11 Desember 1749 Serahkan Kedaulatan Mataram kepada VOC

Pertarungan Hidup-Mati
Dalam penyelenggaraan adu macan tersebut secara khusus dibangun kandang macan di sebelah selatan bangsal petalon, alun-alun utara kraton. Macan yang disiapkan untuk diadu bukan hanya satu jenis, di samping macan gembong atau harimau loreng Jawa (Panthera Tigris Sundaica), ada juga leopard atau macan tutul dan macan kumbang (Panthera pardus melas).  Sedangkan kerbau sebagai lawannya, adalah kerbau air Asia (Bubalus bubalis)  yang masih liar.

Bagi raja dan tamu kehormatan dibangunkan panggung khusus sehingga leluasa melihat pertarungan macan dan kerbau dalam grogol atau kandang berupa pagar besi. Rakyat jelata harus puas melihat pertarungan itu dari tepian alun-alun.

Acara dimulai dengan beberapa abdi gandhek berpangkat bupati muda dengan memakai busana kampuhan basahan berjalan seirama gending menuju kandang macan. Salah seorang dari abdi gandhek itu kemudian meloncat ke atas kandang macan mencabut pedang lalu memutus tali pengunci kandang sampai putus.

Ada kalanya harimau atau macan yang dilepas dari kandangnya itu tidak masuk ke pegrogolan tempat kerbau lawan tarungnya menanti, melainkan justru mengejar abdi gandhek yang berjalan kembali ke tempatnya semula sambil berjoget atau bertayungan. Karena risiko itu, maka gandhek itu merupakan abdi dalem pilihan yang terunggul di antara lainnya.

Meski demikian, jika abdi gandhek tadi sampai terancam jiwanya oleh macan liar yang sedang marah karena sebelumnya terkurung rapat, maka telah bersiaga para prajurit yang berbaris rapat mengelilingi alun-alun. Mereka siap dengan tombak masing-masing dan bakal menghujani macan tersebut dengan tombak sampai macan itu mati.

Sebaliknya, jika macan atau kerbau dianggap kurang agresif setelah berhadapan di pegrogolan, maka  hewan-hewan liar itu akan diganggu hingga marah. Disiapkan tongkat besi runcing yang kadang kala telah dipanaskan untuk mengganggu si macan. Sedangkan bagi sang kerbau disiapkan cemeti dedaunan dan air cabai yang menyebabkannya kulinya gatal-gatal atau kepanasan. Dengan cara itu, dipastikan pertarungan berlangsung seru.

Jika kerbau yang bakal dipertarungkan dengan macan itu tak seberapa besar tubuhnya, maka demi seimbangnya pertandingan maka dalam pegrogolan itu dimasukkan beberapa kerbau sekaligus untuk mengeroyok sang raja rimba. Pertarungan sima dan maesa itu baru selesai bila salah satu hewan liar tersebut mati.

Kerap kali kerbau memenangi pertarungan, namun ada kalanya macan yang menang meskipun dengan luka di sekujur tubuhnya akibat tertusuk tanduk kerbau yang sebelum laga telah diuncingkan oleh para abdi dalem. Jika harimau atau macan itu menang, maka hewan liar itu tetap mati karena bakal dirampog atau dijadikan rayahan atau rebutan ujung tombak para prajurit.

Memasuki abad ke-18, adu macan itu diyakini sebagian akademisi bertambah ronde. Macan bukan hanya diadu dengan kerbau tetapi ada pula ronde kedua yang mempertarungkan macan dengan manusia. Di kala wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat telah terpecah dengan munculnya Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat itu, rampogan macan pun dihelat di alun-alun utara kedua kraton.

Sketsa situasi sima-maesa (kiri) dan rampog macan (kanan) di Cilacap, Banyumas, 1858. (Koleksi F. Jagor, 1866)
Sketsa situasi sima-maesa (kiri) dan rampog macan (kanan) di Cilacap, Banyumas, 1858. (Koleksi F. Jagor, 1866)

Theodoor Gautier Thomas Pigeaud, ahli sastra Jawa kuno asal Belanda, menyebut tradisi mengadu macan dengan manusia di Jawa sudah ada sejak dini. Namun hal itu dibantah antropolog Northern Illinois University Amerika Serikat Robert Wessing dan sejarawan Selandia Baru Antony Reid yang sama-sama banyak melakukan penelitian tentang Asia Tenggara.  “Tidak ada tradisi adu macan dan manusia pada abad ke-17 atau sebelumnya,” tegas Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450 – 1680: Jilid I: Tanah di Bawah Angin.

Dalam pertarungan antara macan dan prajurit bersenjata itu, macan-macan dilepaskan di tengah alun-alun. Para prajurit berjaga rapat di sekeliling alun-alun lengkap dengan tombak tajam di tangan masing-masing. Bisa tiga lapis prajurit tebalnya pagar betis itu.

Jika macan yang bertingkah liar setelah dikurung dalam kandang sempit itu bergerak keluar alun-alun, para prajurit sigap menodongkan tombak. Macan yang panik karena harus berhadapan dengan ratusan manusia bertombak biasanya bertingkah semakin liar untuk lepas dari kepungan dan semakin cepat pula menemui ajalnya.

Ada kalanya macan yang lincah berhasil melompati barisan prajurit bertombak itu. Bahkan sempat ada yang mencoba kabur sehingga masuk kraton. Para prajurit itu segera saja memburu dan membunuhanya sebelum melukai seseorang.

Rampogan macan atau rampogan sima itu tampaknya dianggap sebagai tontonan menarik di masa itu. Bahkan sejak 1860 hingga abad berganti, di samping rutin digelar di Kraton Solo dan Kraton Yogya, acara itu juga digelar di Keresidenan Kediri, Blitar, dan Tumapel. Demi memenuhi kebutuhan pertunjukan itu, sampai-sampai ada orang-orang yang mengkhususkan diri menjadi pemburu untuk menangkap hidup-hidup harimau atau macan tersebut.

Baca juga  Sejarah Solo (6): Mataram Pecah menjadi Dua

Susutkan Populasi Macan
Franz Wilhelm Junghuhn, geolog dan ahli botani asal Jerman yang merintis kebun kina di Pulau Jawa mengaku pernah menyaksikan rampogan di Surakarta pada Agustus-September 1844 dan sempat mencatatkan pengalamannya itu di antara banyak karya tulis ilmiahnya. Dia menyaksikan rampogan itu sejak pagi hingga siang hari. Ketika beberapa kandang sudah habis terbakar dan dua abdi membuka kandang keempat atau kelima, matahari biasanya telah tepat di atas kepala. Setiap kali acara itu digelar, memang bisa tujuh hingga delapan macan mati terbantai.

Di awal abad ke-20 rampogan tampaknya mulai kehilangan peminat hingga tidak lagi diselenggarakan. Patut diduga hilangnya prosesi ritual rampog macan atau rampog sima itu dipicu semakin berkurangnya populasi macan di tanah Jawa. Bahkan pada 1905, Pemerintah Hindia Belanda melarang penyelenggaraan upacara ritual rampogan.

Catatan lain menyebutkan rampogan atau rampog macan itu biasanya digelar pada 1 Syawal yang oleh kaum muslimin diperingati sebagai Hari Idul Fitri. Ada pula yang menyebut acara itu sebagai perayaan ritual akhir bulan ke-9 dalam kalender Islam atau untuk melakukan Ramadan.  Karena itulah, kendati tidak ada referensi pasti yang mengaitkan adu macan itu dengan dengan tradisi Islam, sebagian orang menyebutnya sebagai aktivitas ritual religius.

Meski demikian, sebagian orang lain tetap bersikukuh bahwa rampog macan atau rampok macan itu sekadar pertunjukan hiburan yang disajikan juga kepada para tamu agung pimpinan pemerintah kolonial. Kalaupun ada fungsi lain maka itu terkait pembuktian keampuhan persenjataan dan keberanian para prajurit di hadapan raja dan tamu kehormatan.

Menurut Peter Boomgaard dalam artikel Tijgerstekerijen en tijger-buffelgevechten op Java, 1620-1906, sangat mungkin kerajaan di Jawa dalam melaksanakan prosesi adu harimau atau macan dengan orang-orang bersenjata itu mengadopsi tradisi kerajaan yang lebih besar dan lebih tua, seperti Aceh dan Mughal. Meski demikian, Boomgaard tak menutup kemungkinan tijgerrampok yang dalam bahasa setempat disebut sebagai rampogan macan itu adalah pertunjukan asli Jawa sebagai tiruan suasana berburu harimau atau macan di alam liar.

Pada kenyataannya, prosesi adu macan yang telah digelar di Mataram sejak abad ke-17 itu secara folisofi mempunyai arti mendalam bagi orang Jawa. Ann Kumar dalam bukunya Prajurit Perempuan Jawa: Kesaksian Ihwal Istana dan Politik Jawa Akhir Abad Ke-18 menganggap kerbau atau maesa merupakan metafora dari rakyat Jawa, sedangkan macan (simo) perlambang orang asing.

Tapi bagi Robert Wessing, antropolog Universitas Illinois, identifikasi orang Jawa terhadap macan jauh lebih kompleks, bahkan sangat ambigu. Diakuinya, macan kerap dicitrakan serupa dengan niat jahat atau nafsu buruk yang harus ditaklukkan. “[Namun] orang Jawa juga melihat macan sebagai perwujudan leluhur sehingga mereka kerap memanggilnya kyai. Tetapi kemudian macan dapat menjadi bencana atau pengganggu keselarasan sehingga harus disingkirkan,” tulis Wessing dalam A Tiger in The Heart: The Javanese Rampok Macan.

Sumber:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here