Sri Radya Laksana, Identitas Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Kraton Surakarta Hadiningrat, salah satu kerajaan Jawa yang masih terjaga eksistensinya hingga kini, menyimpan berbagai peninggalan yang dijadikan pusaka, salah satunya adalah Radya Laksana. Banyak referensi mengartikan “radya” sebagai “kerajaan” atau “negara”, sedangkan “laksana” berarti “karakter”, “identitas”, atau “lambang”, yang jika digabungkan bermakna “lambang kerajaan”.

Wujud fisik lambang kerajaan itu berbentuk dasar garis oval warna emas yang mengitari gambar matahari, bintang, bulan, serta bumi berpaku yang menggelayut di angkasa biru. Wujud oval itu dilengkapi mahkota berwarna merah dengan garis-garis keemasan, dan berlandaskan kapas dan padi yang berbulir keemasan pula. Pita merah-putih berjuntai indah menguntai pangkal kapas dan padi itu.

Sri Radya Laksana itu terpampang sebagai relief sejumlah aset Kasunanan Hadiningrat yang tersebar di Kota Solo. Radya Laksana dalam bentuk Iencana kerap dikenakan para kerabat Kasunanan Surakarta di sisi kiri baju, menjadi motif batik, atau dipasang sebagai vandel di rumah. Radya Laksana sejak mulanya merupakan penanda kerabat Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang terdiri atas:

1. Sampeyan-dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana, raja Kraton Solo,

2. putra-putri dalem atau putra dan putri raja,

3. wayah dalem atau cucu raja,

4. sentana dalem atau kerabat raja,

5. tedak turun dalem atau keturunan keluarga kerajaan,

6. abdi dalem atau pegawai kerajaan, dan

7. kawula hangedhep atau masyarakat yang berkiblat ke Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Sri Hartatiningtyas dalam buku Gelar dan Ageman Pisowan Surakarta Hadiningrat, tak hanya memaknai lambang kerajaan, karena “laksana” menurut dia bermakna “perjalanan yang tulus lahir dan batin”. Dengan demikian, makna dari lambang kraton tersebut menurutnya lebih merupakan tuntunan hidup dengan tatanan budaya Jawa.

Lebih terperinci, Eko Adhy Setiawan dalam tesis Program Pasca Sarjana Magister Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro berjudul Konsep Simbolisme Tata Ruang Keraton Surakarta Hadiningrat memaparkan istilah Radya Laksana terdiri atas dua kata bahasa bahasa Sansekerta atau Kawi. “Radya” berasal dari kata “radian” yang bermakna “krajan” atau “kerajaan. Sedangkan, “laksana” bisa dimaknai:

1. Ifiri, pratanda, ngalamat, atau ciri, tanda, pertanda,

2. Kabegjan atau keberuntungan,

3. Laku atau jalan, perilaku.

Untuk itu, sambung Eko Adhy Setiawan dalam tesis yang dibikin tahun 2000 itu, Radya Laksana bisa diurai dalam makna simbolis dan filosofis. Makna simbolis terkait dengan nilai historis asal-usul raja, mulai dari Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana I. Menurut dia, sejarah raja merupakan silsilah yang tercermin dalam lingkaran bulat telur. Gambar paku dan bumi menunjukkan nama Paku Buwana, yaitu Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono yang selanjutnya terus dipakai sebagai nama raja-raja yang memerintah di Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Gambar surya atau matahari, menurut Eko Adhy Setiawan, mengisyaratkan nama R.M.G. Surya atau Sunan Hamengkurat Jawa. Gambar candra atau sasangka atau bulan mengisyaratkan nama R.M.G. Sasangka yang bernama Panembahan Purbaya. Gambar kartika atau sudama atau bintang mengisyaratkan nama R.M.G. Sudama yang juga bernama Pangeran Blitar.

A.M. Hadisiswaya dalam bukunya, Pergolakan Raja Mataram, lebih gamblang menguraikan hubungan ketiga tokoh yang perlambangnya termuat dalam Radya Laksana tersebut dengan Sunan Pakubuwono X sebagai penciptanya. Menurutnya, ketiga putra Pakubuwono I selaku pendiri Kraton Kartasura adalah leluhur yang sama bagi Pakubuwono X dan permaisurinya.  Menurut catatan sejarah, ia berpermaisurikan putri K.G.P.A.A. Mangkunagara IV bergelar Gusti Kanjeng Ratu Pakubuwana dan putri Sri Sultan Hamengku Buwono VII bergelar Gusti Kanjeng Ratu Emas.

Lambang Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sri Radya Laksana. (Kratonsolo.com)
Lambang Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sri Radya Laksana. (Kratonsolo.com)

Sedangkan makna filosofis yang merupakan tuntunan hidup bernegara dan berperikehidupan (tuntunaning ngagesang) didasarkan Eko Adhy Setiawan pada setiap bentuk benda yang tergambar pada lambang tersebut. Format penjelasan yang sama disampaikan sejarawan Purwadi dan arkeolog Djoko Dwiyanto dalam buku mereka, Kraton Surakarta, yang diterbitkan delapan tahun setelah tesis Eko Adhy Setiawan.  Nama ada Eko Adhy Setiawan dalam daftar pustaka buku 903 halaman yang disebut penerbit Panji Pustaka sebagai karya Purwadi dan Djoko Dwiyanto itu.

1. Makutha atau mahkota merupakan simbol raja dan sebagai simbol kebudayaan Jawa. Oleh karena itu, siapa saja yang memakai atau menerima gambar mahkota selayaknya berjiwa budaya Jawa. Dalam arti jiwa budaya Jawa mestinya memberi tuntunan, budaya sebagai uwoh pangolahing budi secara lahir dan batin berdasarkan budi luhur dan keutamaan. Pakarti lahir harus seiring dengan pakarti batin, hal yang demikian mencerminkan adanya sifat keharmonisan dalam budaya Jawa,

Baca juga  Tedak Siten, ketika anak kali pertama menginjak tanah

2. Wama merah dan kuning pada mahkota dalam budaya Jawa merupakan simbol kasepuhan (yang dianggap tua). Sifat kasepuhan ini terlihat dalam bentuk lahir dan batin yang mencerminkan sabar, tidak terburu nafsu dan sejenisnya. Hal ini memiliki makna filosofis bahwa seseorang raja harus memiliki jiwa kasepuhan,

3. Warna biru muda yang menjadi warna dasar bentuk oval pada lambang itu adalah perpaduan antara warna biru dan putih. Warna biru dan putih membawa watak menolak perbuatan yang tidak baik. Wama biru muda merupakan simbol angkasa atau langit yang mencerminkan watak orang berwawasan luas dan pemberi maaf,

4. Surya atau matahari merupakan sumber kekuatan dan sumber penerang dan hidup yang akan menjadikan dunia tegak penuh dengan sinar penerang dan hidup. Hal ini merupakan simbol bahwa orang yang berjiwa budaya Jawa harus dapat menanamkan kekuatan dan dapat memancarkan sinar kehidupan dengan tidak mengharapkan imbalan. Surya menjadi sarana bagi kehidupan di bumi.

5. Candrasasangka atau bulan menjadi sumber penerang pada malam hari tanpa menimbulkan panas, tetapi teduh memberi cahaya kepada siapapun dan apapun tanpa kecuali. Hal yang demikian makna bahwa jiwa budaya Jawa harus didasari watak pemberi dan memancarkan penerang yang tidak menyebabkan silau tetapi memancarkan kelembutan dan kedamaian. Candra menjadi sarana daya rasa (batin) bagi kehidupan di planet Bumi.

6. Kartika atau bintang memiliki sifat memancarkan sinar, hanya kelihatan gemerlap di sela-sela kegelapan malam. Hal ini memiliki ajaran bahwa raja atau seseorang agar dapat memberikan penerang kepada siapapun yang sedang dalam kegelapan. Makna itu juga mengingatkan kepada manusia bahwa masalah gelap dan terang dalam kehidupan ini silih berganti. Kartika menjadi sarana dan daya menambah teduhnya kehidupan di planet Bumi.

7. Bumi secara lahiriah merupakan tempat kehidupan dan juga tempat berakhirnya kehidupan. Bumi atau jagat juga mengingatkan manusia sebagai mikrokosmos juga memiliki jagad besar atau malcrokosmos. Lambang Bumi ini sekaligus menjadi pasemon atau kiasan adanya kesatuan jagad kecil dan jagad besar. Bumi atau jagat manusia berada dalam hati. Oleh karena itu manusia agar dapat menguasai keadaan harus dapat menyatukan diri dengan dunia besar. Dalam Kejawen, sikap semacam itu disebut Manunggaling Kawula lan Gusti. Sifat bumi adalah momot dan kamet atau dapat menampung dan menerima yang gumelar (ada). Bumi sebagai lambang welas asih, dapat anyrambahi sakabehe.

8. Paku sebagai kiasan atau pasemon agar selalu kuat. Hal ini mengandung ajaran bahwa agar kehidupan di Bumi bisa kuat dan sentosa maka harus didasari jiwa yang kuat. Tidak mudah goyah atas dasar satu kekuatan yang maha besar dari Tuhan YME yang menjadi pegangan bagi manusia yang hidup di Bumi.

9. Kapas dan padi melambangkan sandang pangan, yakni kebutuhan lahir dalam kehidupan manusia. Sandang dinomorsatukan atau didahulukan, sedangkan pangan dinomorduakan atau dikemudiankan. Hal yang demikian mengandung ajaran bahwa sandang berhubungan dengan kesusilaan dan diutamakan, sedangkan pangan berhubungan dengan lahiriah dinomorduakan. Oleh karena itu, manusia hendaknya mengutamakan kesusilaan daripada masalah pangan. Kehidupan manusia dibumi tidak lepas dari kebutuhan-kebutuhan duniawi.

10. Pita merah putih sebagai kiasan bahwa manusia terjadi dengan perantara ibu-bapak (ibu bumi bapa kuasa). Merah melambangkan ibu, sedangkan putih melambangkan bapak. Oleh karena itu, manusia hendaknya selalu ingat kepada ibu-bapak, yang tercermin dalam ungkapan Mikul Dhuwur Mendhern Jero yang maksudnya sebagai anak harus dapat mengharumkan nama orang tua dan dapat menghapuskan kejelekan nama orang tua. Pita merah putih juga dapat diartikan laki-laki dan perempuan sebagai lambang persatuan. Untuk mencapai tujuan harus dilandasi semangat persatuan (antara gusti dan kawula).

Baca juga  Riwayat Pakubuwono IV (1): Tak Gentar Pakepung, Namun Terkungkung VOC

Maka, jelaslah Radya laksana merupakan tuntunan hidup, bagi yang memakai lambang tersebut, dimana pun mereka berada akan menjalankan watak-watak yang terlukis dalam lambang (tindakna, watak wantun kang tinemu ing lambang).

Lalu dari mana Pakubuwono X beroleh gagasan membuat Radya Laksana yang kaya perlambang bermakna simbolis dan filosofis itu? Purwadi selaku dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta dalam Jurnal Seni dan Budaya Tradisi terbitan Asosiasi Pendidik Seni Indonesia (APSI) Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan bahwa Pakubuwono X membuat Radya Laksana berdasarkan, “relief gambar kuno yang yang merupakan lambang kerajaan Jawa kuno yang terdapat di atas Regol atau Kori Sri Manganti.”

Jika dugaan Purwadi bahwa lambang yang ada regol atau kori Sri Manganti itu benar  lambang kerajaan, sejatinya tidak tepat benar lambang di bagian atas kosen regol atau Kori Sri Manganti itu disebut lambang “kerajaan Jawa kuno”. Berdasarkan data yang dihimpun Eko Adhy Setiawan, regol atau Kori Sri Manganti—baik lor maupun kidul—dibangun Pakubuwono III ( 1749-1788) pada tahun 1772. Sedangkan, tim penulis Pustaka Sri Radyalaksana terbitan 1939, mencatat Kori Sri Manganti Wetan diperbaiki 1814, pada masa berkuasanya Pakubuwono IV (1788 -1820). Maka lambang di bagian atas kosen regol atau Kori Sri Manganti itu lebih mungkin lambang Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebelum diperkenalkannya Sri Radya Laksana ciptaan Pakubuwono X.

Sarjana Sastra pendidik Kesenian yang bekerja di Universitas Negeri Yogyakarta dan sejumlah perguruan tinggi lainnya itu mestinya mengerti benar bahwa Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dipimpin Pakubuwono III ataupun Pakubuwono IV bukan tergolong “kerajaan Jawa kuno”. Bahkan meskipun karya kedua raja itu lebih usang ketimbang karya-karya Pakubuwono X. Pada dasarnya sejak Pakubuwono II hingga Pakubuwono XIII, kerajaan itu mestinya dipandang dalam satu kesatuan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Sri Radya laksana dilengkapi inisial Pakubuwono X dengan sejata semburan di sekitarnya yang terdapat di atas kosen depan Kraton Solo. (Kratonsolo.com)
Sri Radya laksana dilengkapi inisial Pakubuwono X dengan senjata semburan di sekitarnya yang terdapat di atas kosen depan Kraton Solo. (Kratonsolo.com)

Kalaupun Sri Radya Laksana lebih kondang sebagai lambang Kasunanan Surakarta Hadiningrat, maka tak semestinya lambang mirip lambang Kesultanan Otoman—dengan banyak wujud senjata semburat dari wujud dasar lambangnya—yang hingga kini masih bisa ditemui di bagian atas kosen regol atau Kori Sri Manganti itu disebut lambang “kerajaan Jawa kuno”.

Ketenaran Sri Radya Laksana itu tidak bisa dipisahkan dari masa keemasan selama Sampeyan-dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ing Ngalogo Ngabdulrahman Sayiddin Panotogomo Ingkang kaping X sebagai pembuat lambang baru Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu berkuasa, 1893-1939. Lambang Kasunana Surakarta Hadiningrat bikinan Pakubuwono X itu tersebar ke seantero Pulau Jawa, bahkan luar negeri.

Setiap kali melakukan kunjungan kenegaraan ataupun menerima tamu negara, ia gemar membagikan buah tangan yang mencantumkan lambang tersebut. Itupun tak selalu dalam wujud Sri Radya Laksana karena pada kenyataannya Pakubuwono X bukan hanya memperkenalkan dan menggunakan satu jenis lambang. Hingga kini, berbagai varian lambang Pakubuwono X itu masih bisa dilihat di kereta-kereta kencana atau bagian atas bangunan-bangunan yasan-dalem atau hasil karyanya di seputaran Kraton Solo maupun Kota Solo.

 

Sumber:

  • Hadisiswaya, A.M.. 2011. Pergolakan Raja Mataram. Yogyakarta: Interprebook.
  • Hartatiningtyas, Sri. 2010. Gelar, dan Ageman Pisowan Surakarta Hadiningrat. Surakarta: Intermedia Paramadina.
  • Prajaduta, Mas Ngabei. Et. Al. 1939. Pustaka Sri Radyalaksana. Surakarta: N.V. Boedi Oetomo.
  • Purwadi. 2008. Kraton Surakarta: Sejarah, Pemerintaha, Konstitusi, Kesusastraan, dan Kebudayaan. Yogyakarta: Panji Pustaka.
  • Purwadi. 2010. Makna Lambang Kraton Surakarta dalam Perspektif Hermeneutik dalam Jurnal Seni dan Budaya Tradisi. Yogyakarta: Asosiasi Pendidik Seni Indonesia (APSI) Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • Setiawan, Eko Adhy. 2000. Konsep Simbolisme Tata Ruang Keraton Surakarta Hadiningrat. Semarang: Tesis Program Pasca Sarjana Magister Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here