Sejarah Kraton Solo (10) : Pakubuwono Berganti-Ganti, Kraton Surakarta Hadiningrat Terus Berkembang

Kraton Solo dengan tembok benteng yang kokoh di wilayah Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon,Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng)  tak dibangun dalam semalam. Saat kali pertama digunakan sebagai pengganti Kraton Kartasura, 17 Februari 1745, tembok sekeliling Kraton Solo bahkan hanya terbuat dari bambu.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

Dalam ingatan para kerabat kraton, tembok benteng kraton selanjutnya diganti pagar batu yang kuat dengan tinggi sekitar 2 meter. Namun, setelah rusak diganti pagar batu setinggi 5 meter seperti sekarang. Benteng utama yang mengelilingi kompleks bangunan Kraton Solo itu diebut Baluwarti yang diserip dari bahasa Portugis “baluarte” yang berarti benteng pertahanan.

Daerah Baluwarti merupakan tanah adangan milik keraton yang sebagian besar diperuntukkan bagi para pangeran, sentana dalem, serta para abdi dalem Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dekat hubungannya dengan raja.  Di balik tembok kraton itu, raja-raja dari masa ke masa terus melengkapi fasilitas Kraton Solo sehingga kini tampak jauh lebih padat ketimbang awalnya.

Salah satu referensi yang bisa disimak untuk mengetahui dinamika bangunan fasilitas Kraton Solo dari masa ke masa itu adalah Pustaka Sri Radyalaksana karya Prajaduta dkk. terbitan tahun 1939. Tesis Eko Adhy Setiawan di Program Pasca Sarjana Magister Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro berjudul Konsep Simbolisme Tata Ruang Keraton Surakarta Hadiningrat melengkapinya.

Selain Kraton Solo, Susuhunan Pakubuwono II menurut Prajaduta dkk dalam Pustaka Sri Radyalaksana sempat juga membangun tugu jam buatan Inggris pada 1748. Jam yang kini berada di Museum Radya Pustaka, Sriwedari, Solo itu semula berada di Kartasura.

Dalam mengulas perkembangan bangunan fasilitas Kraton Solo, Eko Adhy Setiawan menyimak beberapa Iiteratur di Sasana Pustaka Keraton. Ia juga melakukan wawancara dengan G.P.H. Poeger dan G.P.H. DipokuSumo karena sebagian data-data di Kraton Solo hilang akibat banjir besar pada tahun 1965 dan rusak karena usia.

Diakui Eko Adhy Setiawan, tak mudah memastikan tahun berdiri suatu bangunan fasilitas Kraton Solo karena setidaknya ada tiga tarikh yang digunakan sekaligus dalam sumber-sumbernya, yakni kalender Jawa, Islam, dan Masehi. Catatan itu kerap kali juga diliputi ketidakpastian, antara waktu bangunan itu didirikan dan waktu bangunan itu diresmikan.

Atas kesulitan-kesulitan itu, Eko Adhy Setiawan memilih menguraikan perkembangan bangunan fasilitas Kraton Solo itu berdasarkan masa pemerintahan raja-raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sebagai berikut:

1. Susuhunan Pakubuwono III

Susuhunan Pakubuwono III bertakhta sejak tanggal 5 Sura 1675 sampai 25 Besar 1714 tahun Jawa atau mulai 15 Desember 1749 hingga 26 September 1788 Masehi. Selama 39 tahun memerintah, Susuhunan Pakubuwono III mendirikan:

  • Dalem Ageng Prabasuyasa atau Sasana Prabasuyasa, tanggal 14 Sapar tahun Alib 1694,
  • Dalem Ageng Prabasuyasa atau Sasana Prabasuyasa, tanggal 14 Sapar tahun Alib 1694,
  • Kori Brajanala Lor yang dibangun bersamaan dengan Kori Brajanala Kidul pada tahun Ehe 1684,
  • Pemancangan saka guru atau tiang utama Masjid Ageng, pada tahun Wawu 1689,
  • Perbaikan pendapa Kraton Solo, sedangkan pendapa lama diberikan kepada K.P.A.A. Mangkunagara, pada tahun Wawu 1697,
  • Pelaksanan pembangunan kori ageng beteng Surakarta pada tahun Jimakir 1698,
  • Mengalirkan air dari umbul Pêngging masuk keraton pada tahun Ehe 1708,
  • Panggung Sanggabuwana, pada tahun 1709 Jawa atau tahun 1782 Masehi,
  • Sitihinggil Lor bersamaan dengan Siti Hinggil Kidul, pada tahun 1701 Jawa atau 1774 Masehi,
  • Bangsal Gamelan Sekaten di halaman Masjid Ageng, pada tahun Wawu 1713,
  • Bangsal Smarakata dan Marcukunda, pada hari Senin tanggal 13 Rabiul Akhir tahun Jimawal 1741 atau tanggal 4 April 1814 Masehi,
  • Sasana Sewaka, pada tahun Wawu 1897 Jawa,
  • Sasana Para Sedya, pada tahun 1698 Jawa,
  • Kori Srimanganti Lor bersamaan dengan Kori Srimanganti Kidul, pada tahun 1685 Jawa atau 1772 Masehi,
  • Pasanggrahan di Dusun Ngrantan, timur Bacem.

2. Susuhunan Pakubuwono IV

Susuhunan Pakubuwono IV bertakhta sejak 28 Besar 1714 sampai 23 Sura 1747 tahun Jawa atau tanggal mulai 29 September 1788 hingga 1 Oktober 1820 Masehi. Selama 33 tahun, Susuhunan Pakubuwono IV  berkuasa, ia sempat melakukan:

  • Membangun Masjid Ageng pada taun Ehe 1716 sesuai kalender Jawa atau 1789 Masehi.
  • Pembaharuan atap Bangsal Pangrawit bersamaan dengan penyempurnaan bangunan Masjid Ageng, pada hari Rabu tanggal 14 Besar tahun Ehe 1716,
  • Pendirian regol Srimanganti Ler pada 1718 sesuai kalender Jawa atau 1719 Masehi.
  • Memasang tales Sitinggil Kidul pada hari Senin 2 Rabingulakir Wawu 1721 kalender Jawa atau 1719 Masehi 1794 Masehi, bersamaan dengan waktunya menanam beringin kurung kembar di Alun-Alun Kidul.
  • Penyempurnaan Sasana Prabasuyasa dan Sasana Sewaka, pada hari Kamis tanggal 29 Maulud tahun Dal 1719,
  • Pemasangan lantai Sasana Prabasuyasa dan Sasana Sewaka, pada hari Kamis tanggal 27 Jumadil awal tahun Dal 1719,
  • Pemancangan saka guru Dalem Prabasuyasa yang diangun kembali pada Jimakir 1722 sesuai kalender Jawa atau 1795 Masehi.
  • Pesanggrahan di Dusun Cêmani pada tahun Je 1734,
  • Bale Winata di Sitihinggil Lor, pada tanggal 3 Besar tahun Be 1736,
  • Kori Kamandungan Lor, pada tahun Jimakir 1746 atau tanggal 10 Oktober 1819 Masehi,
  • Kori Kamandungan Kidul, pada tanggal 13 Besar tahun Be 1736 atau tanggal 9 Januari 1810 Masehi,
  • Melanjutkan pembangunan bangsal Smarakata dan Marcukunda, pada tanggal 13 Rabiul Akhir tahun Jimawal 1741.
Baca juga  Riwayat Pakubuwono II (4): Pakubuwono II Wafat di Tengah Kecamuk Perang Perebutan Takhta

3. Susuhunan Pakubuwono V

Susuhunan Pakubuwono V bertakhta sejak tanggal 2 Sura 1748 sampai 29 Besar 1750 tahun Jawa atau mulai tanggal 10 Oktober 1820 hingga 5 September 1823 Masehi. Selama 3 tahun memerintah, Susuhunan Pakubuwono V sempat mendirikan:

  • Sasana Handrawina yang semula disebut sebagai bangsal besar bernama Pendapa Ijem, pada hari Selasa Kliwon tanggal 27 Rejeb tahun Je 1750 atau tanggal 8 April 1823 Masehi.
  • Pembuatan dua canthik perahu bernama Kyai Rajamala yang kini tersimpan di Museum Radya Pustaka, Sriwadari,
  • Meneruskan pembangunan Kori Kamandungan, namun tidak ditemukan data yang jelas mengenai tanggal dan tahun.

4. Susuhunan Paku Buwanan VI

Susuhunan Paku Buwanan VI bertakhta sejak tanggal 9 Sura 1751 sampai 18 Dulkaidah 1757 tahun Jawa atau mulai tanggal 15 September 1823 hingga 14 Juni 1830 Masehi. Selama 7 tahun masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono VI merupakan masa-masa yang penuh dengan peperangan, yaitu perlawanan terhadap Hindia Belanda.

Pakubuwono VI adalah satu-satunya Raja Surakarta yang menentang pemerintahan Hindia Belanda. Ia tercatat sebagai Raja Surakarta Hadiningrat yang banyak membantu Pangeran Diponegoro dalam perjuangan melawan penjajah Belanda.

Akhirnya beliau ditangkap dan diasingkan ke Pulau Ambon dan wafat pada tanggal 3 Juni 1849 Masehi. Dengan demikian, tidak diketemukan data mengenai bangunan-bangunan yang sempat didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono VI selama masa pemerintahannya.

Prajaduta dkk dalam Pustaka Sri Radyalaksana hanya mencatat Susuhunan Paku Buwanan VI memperbaiki mustaka Masjid Ageng yang rusak tersambar petir pada hari Jumat Wage 16 Dulkangidah Alip 1755 atau 30 Mei 1828, di samping urusan perlengkapan militer.

5. Susuhunan Paku Buwanan VII

Susuhunan Pakubuwono VII bertakhta sejak tanggal 22 Besar 1757 sampai 27 Ruwah 1786 tahun Jawa atau mulai tanggal 14 Run 1830 hingga 10 Mei 1858 Masehi. Sejauh ini, tidak diketemukan data yang jelas mengenai bangunan-bangunan yang didirikan oleh Susuhunan PakubuwonoVII selama 28 tahun pemerintahannya.

Prajaduta dkk dalam Pustaka Sri Radyalaksana hanya mencatat Susuhunan Paku Buwanan VII bersama Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat diminta Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batawi untuk bersama-sama memperbaiki Masjid Demak pada Jumadilawal, Jimakir 1770 atau 3 Juni 1842. Selebihnya, Paku Buwanan VII hanya sempat memperbaiki pagelaran dan sitiinggil.

Catatan penting semasa Paku Buwanan VII adalah didirikannya serambi Masjid Ageng pada Kamis Wage 19 Besar Be 1784 atau kaping 21 Agustus 1856. Selanjutnya, ia memasang mustaka masjid itu dengan brumbungan emas ber-panunggul gelas seharga 192 ringgit pada Sabtu Pon 10 Mulud Wawu 1785 atau 8 November 1856.

6. Susuhunan Pakubuwono VIII

Susuhunan Pakubuwono VIII bertakhta sejak tanggal 4 Muharam 1786 sampai 25 Jumadil Akhir 1790 tahun Jawa atau mulai tanggal 17 Mei 1858 hingga 28 Desember 1861 Masehi. Sejauh ini tidak diperoleh data yang jelas mengenai bangunan-bangunan yang didirikan selama 3 tahun masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono VIII.

Catatan penting terkait  Susuhunan Pakubuwono VIII oleh Prajaduta dkk dalam Pustaka Sri Radyalaksana hanya datangnya kereta Kyai Garudha Kancana seharga f. 30.000 yang dipesan Pakubuwono VII dari Belanda. Sayangnya.

7. Susuhunan Pakubuwono IX

Susuhunan Pakubuwono IX bertakhta sejak tanggal 27 Jumadil Akhir 1790 sampai 28 Rejeb 1822 tahun Jawa atau mulai tanggal 30 Desember 1861 hingga 17 Maret 1893 Masehi. Selama 32 tahun masa pemerintahannya, Susuhunan Pakubuwono IX sempat mendirikan:

  • Malige di muka Sasana Sewaka pada tahun Alib 1811.
  • Menanam pohon sawo kecik di pelataran Kedhaton (di depan Sasana Sewaka) untuk membuktikan Ramalan R. Ng. Ranggawarsita yang menyatakan pada tahun 1872 Jawa, penjajah Belanda akan meninggalkan Bumi Nusantara.

Selanjutnya, tidak diperoleh data yang jelas mengenai bangunan lain yang didirikan Susuhunan Pakubuwono IX.

8. Susuhunan Pakubuwono X

Susuhunan Pakubuwono X bertakhta sejak tanggal 12 Ruwah 1822 sampai 1 Sura 1870 tahun Jawa atau mulai tanggal 30 Maret 1893 hingga 20 Februari 1939 Masehi. Selama 46 tahun masa pemerimntahan Susuhunan Pakubuwono X, Kasunanan Surakarta Hadmerupakan masa keemasan atau kejayaan Keraton Surakarta Hadiningrat dianggap mencapai masa keemasan atau masa kejayaan. Susuhunan Pakubuwono X banyak membangun infrastruktur modern, bukan hanya di lingkungan kraton tetapi juga di seantero Kota Solo, seperti:

  • Mengawali penggunaan dilah elektris di Madusuka pada malam Sabtu, 10 Sura tahun Be 1832,
  • Mengganti lantai pandapa paningrat dengan marmer putih pada tahun Be 1832,
  • Mendirikan kori-kori butulan Baluwarti antara tahun Ehe 1836 dan Jimawal 1837,
  • Mendirikan sekolah Kasatriyan pada tahun 1910 Masehi, sekolah Pamardi Siwi pada tahun 1925 Masehi, dan sekolah Pamardi Putri pada tahun 1929 Masehi,
  • Mengganti nama dan memberi nama kantor, gedung, dan masjid di lingkungan Kraton Solo. Masjid Suranatan Panepen misalnya dinamai Pudyasana, sedangkan Masjid Suranatan Jawi dinamai Paramasana,
  • Mendirikan Dalem Prabasuyasa di makam Pakubuwono IX, Imogiri pada tahun Be 1824,
  • Renovasi atap Masjid Ageng dan pembangunan gapura bergaya Arab pada bulan Mulud tahun Dal 1831,
  • Mendirikan Masjid Pudyasana di Pengging pada tahun Je 1838 atau 1912 Masehi,
  • Mengganti mustaka Masjid Ageng dari emas dengan batu mulia warna putih bikinan Eropa pada tahun Alip 1843,
  • Membangun Bangsal Sewayana di Sitihinggil Lor pada tahun 1843 Jawa atau 1913 Masehi,
  • Membangun Pagelaran Sasana Sumewa pada tahun 1843 Jawa atau 1913 Masehi,
  • Membangun Sasana Dayinta pada tahun Jimawal 1845 Jawa.
  • Merenovasi Pendapa Ijem menjadi Sasana Handrawina pada tahun Alip 1851 atau 1919 Masehi,
  • Membuat bangunan tambahan pada Bangsal Smarakata dan Mercukunda pada 1919 Masehi.
  • Membangun Jembatan Bacem yang diresmikan tahun 1845 Jawa,
  • Mengokohkan jembatan Gladag dan melebarkan jalan menuju alun-alun pada tahun 1856 Jawa,
  • Mendirikan Prabasana atau Kraton Kilen pada tahun 1857 Jawa atau 1927 Masehi,
  • Mendirikan Griya Rad Nagari atau Sindhikara pada tahun 1841 atau 1911 Masehi,
  • Mendirikan Bansal Marcukundha pada tahun 1849 Jawa atau 1919 Masehi
  • Mendirikan Gapura Gladag lengkap dengan arca dwarapala kembar yang diambil dari Dusun Pandansimping, Klaten pada tahun 1760 Jawa atau 1930 Masehi,
  • Mendirikan Kantor Bondha Lumaksa pada tahun 1847 Jawa atau 1917 Masehi,
  • Mendirikan Kantor Radyapustaka pada 27 Sura 1829 Jawa atau 7 Juni 1899 Masehi,
  • Mendirikan Museum Radya Pustaka pada Rabo 22 Sura 1843 atau 1 Januari 1913 Masehi,
  • Mendirikan griya miskin atau wangkung pada tahun 1839 Jawa atau 1910 Masehi,
  • Mendirikan bangsal tirakatan bagi peziarah di patilasan K.G.P.A. Amangkubumi I atau Sultan Ngayogyakarta I di Kampungsewu pada tahun 1865 Jawa atau 1935 Masehi,
  • Mendirikan Gapura Gading yang bernama Gapurendra yang diresmikan pada 22 Juni 1938,
  • Mendirikan Gapura Klewer atau Gapura Ing Peken Slompretan dan Gapura Batangan yang diresmikan pada 8 Marêt 1939.
Baca juga  Sejarah Solo (3): Kemunculan Sunan Kuning

Ditambahkan G.P.H. Poeger  kepada Eko Adhy Setiawan, sekitar tahun 1904 Masehi, Pakubuwono X juga membuat miniatur Gunung Argopura yang menurut GPH Dipokusumo dibikin pada tahun 1911. G.P.H. Poeger  juga menambahkan, menambahkan, Pakubuwono X sempat pula mendirikan tugu peringatan di depan Pagelaran pada tahun 1939 Masehi, bersamaan dengan di bangunannya pintu Gerbang Kraton Kilen,

Pakubuwono X juga dicatat sumber lain sesudah masa penulisan Pustaka Sri Radyalaksana oleh Prajaduta dkk, membangun Pasar Gedhe Harjonagoro, Stasiun Solo Jebres, Stasiun Solo Kota (Sangkrah), Kebun Raja dan Stadion Sriwedari, Jembatan Jurug yang melintasi Bengawan Solo di timur kota, Taman Balekambang, gapura-gapura di batas Kota Surakarta, rumah pemotongan hewan ternak di Jagalan, dan rumah perabuan (pembakaran jenazah) bagi warga Tionghoa.

9. Susuhunan Pakubuwono XI

Susuhunan Pakubuwono XI bertakta sejak tanggal 7 Maulud 1870 sampai 21 Jumadil Awal 1876 tahun Jawa atau mulai tangal 25 April 1939 hingga 6 Juni 1945 Masehi. Sejauh ini tidak diperoleh data yang jelas mengenai bangunan-bangunan yang didirikan selama 6 tahun pemerintahan Susuhunan Pakubuwono XI.

10. Susuhunan Pakubuwono XII

Susuhunan Pakubuwono XII bertakhta sejak tanggal 2 Ruwah 1876 tahun Jawa atau Kamis Kliwon 12 Jul i 1945 Masehi hingga 11 Juni 2004. Selama 59 tahun pemerintahannya, Susuhunan Pakubuwono XII sempat mendirikan:

  • Museum keraton yang dibuka untuk umum dan diresmikan pada tahun 1963 Masehi.
  • Membangun kembali Sasana Prabasuyasa, Sasana Sewaka dan Sasana Handrawina karena pada malam hari terjadi kebakaran, hari Jumat Wage 31 Januari – 1 Februari 1985 yang memusnahkan ke tiga bangunan tersebut. Pada tanggal 17 Desember 1987 diadakan upacara syukuran, menandai pembagunan kembali Sasana Prabasuyasa, Sasana Sewaka dan Sasana Handrawina dimulai.

11. Susuhunan Pakubuwono XIII

Susuhunan Pakubuwono XIII yang ditasbihkan sebagai raja pada 31 Agustus 2004 tidak bisa berkuasa penuh karena konflik dualisme raja dengan saudaranya, Tedjowulan. Setelah Tedjowulan menjadi pepatih dalem, maka Juni 2012, barulah Pakubuwono XIII legal berkuasa. Pada kenyataannya, konflik tidak berakhir karena raja tidak sepenuhnya memiliki kuasa karena operasional Kraton Solo justru dikendalikan adik-adik, bahkan adik iparnya.

Apakah Kraton Solo bakal terus berkembang atau statis seperti kini? Hal itu bergantung keluasan hati para sentana dalem dalam mendukung Susuhunan Pakubuwono XIII yang kini berpatihkan mantan seterunya dalam memperebutkan singgasana, Tedjowulan.

 

Sumber:

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here