Sejarah Kraton Solo (1) : Kartasura Terkoyak, Dusun Sala Terpilih

Kartasura bêdhah, kraton ngalih dhatêng Sala.

Kraton Kartasura rusak parah di pengujung 1742. Babad Giyanti yang diperkirakan digubah pujangga Yasadipura I antara tahun 1757 dan 1803 menggambarkan kerusakan parah istana dinasti Mataram Islam itu dengan diksi “bedhah” , kata yang lazim untuk menggambarkan sobek lebar apabila terjadi pada kain.

Dikisahkan Babad Tanah Jawi, Babad Kartasura Pacinan, dan Babad Giyanti, penyebab kerusakan hebat itu adalah pemberontakan orang-orang Cina yang dikenal dengan nama Geger Pacinan, Oktober 1740.  Geger Pacinan yang dalam bahasa Belanda dikenal sebagai Chinezenmoord ini dipicu pembantaian etnis Tionghoa oleh masyarakat Eropa di Batavia seizin Adriaan Valckenier, gubernur jenderal Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) kala itu.

Perang dahsyat yang berawal dari kawasan Angke di Batavia tersebut berimbas pula ke pusat pemerintahan Kesultanan Mataram di Kartasura. Orang-orang Tionghoa yang selamat dari Tragedi Angke melarikan diri ke arah timur hingga bergabung dengan komunitas mereka di Jawa Tengah.

Kekuatan mereka bertambah, Geger Pacinan pun meluas. Para pemberontak itu lalu menyerang simbol-simbol kekuasaan kompeni dan para sekutunya, termasuk merusak loji kompeni di Kartasura. Nasib apes menimpa penguasa Kraton Kartasura yang semula berjaya.

Istana yang dibangun sebagai pengganti Kraton Pleret yang rusak akibat pemberontakan Trunajaya tahun 1677 itu porak poranda. Istana dinasti Mataram Islam yang kala itu dipimpin Pakubuwono II tersebut turut menjadi sasaran amuk warga Tionghoa dan sekutu pribumi mereka yang juga anti-VOC ataupun Pakubuwono II.

Dalam babak ini Babad Pacinan juga menyebutkan tentang pemberontakan  Raden Mas Garendi yang sakit hati karena ayahandanya, Pangeran Tepasana, dihukum mati oleh Pakubuwono II. Dalam makar itu, R.M. Garendi menyatakan diri sebagai raja tandingan dengan gelar Sunan Kuning.

Baca juga  Sejarah Solo (1): Bermula Dari Intrik Antar-Raja

Sedangkan Babad Tanah Jawi mencatat  pemberontak sukses menduduki ibu kota kerajaan dan memaksa Pakubuwono II menyingkir dari kraton dengan diiringi beberapa prajurit VOC. Rombongan tersebut bahkan digambarkan keluar dari kraton dengan “ambedhah bata” atau membongkar susunan batu bata demi keselamatan mereka.

Pakubuwono II mula-mula dilarikan ke Sedahrama, dan terus mengungsi hingga Ponorogo. Dalam pelarian itu, raja mencoba mengumpulkan kembali para prajurit demi menghimpun kekuatan namun jumlahnya tak cukup signifikan.

Duta kompeni Belanda, toewan Hogendhorep—atau tepatnya mungkin Joan Andries Baron van Hohendorff, disertai seorang pegawai VOC pun pergi ke Semarang guna meminta bala bantuan. Sayangnya, VOC di Semarang juga sibuk mempertahankan diri dari para pemberontak sehingga tak lagi sempat membagi kekuatan ke Kartasura guna memenuhi permintaan bala bantuan tersebut.

Pakubuwono II lalu meminta pertolongan Cakraningrat IV di Madura. Cakraningrat IV pun sigap membantu dan pada bulan Desember 1742 pasukannya berhasil memukul mundur pemberontak serta merebut Kraton Kartasura. Pasukan Madura itu baru meninggalkan Kartasura dan menyerahkan kembali istana setelah dibujuk Belanda. Maka pada 21 Desember 1742, setelah situasi dirasa benar-benar aman, Pakubuwono II kembali masuk ke istananya.

Nagari Kartasura, menurut Babad Tanah Jawi, Babad Kartasura Pacinan, maupun Babad Giyanti, telah rusak tatkala Kangjêng Ingkang Sinuhun Pakubwana kang kaping kalih alias Pakubuwono II kembali ke singgasananya. Penerus dinasti Mataram Islam yang mengawali kekuasaan dari Kotagede, Daerah Istimewa Yogyakarta sebelum 1625 itu, dipaksa keadaan untuk melestarikan kebiasaan leluhurnya memindah-mindahkan istana.

Pakubuwono II pun mengungkap kehendak Kraton Kartasura dipindahkan karena sudah tidak layak lagi sebagai tempat raja dan pusat kerajaan. Sesuai kosmologi Jawa, seperti diungkapkan pakar sejarah Williem Remmelink, kraton yang pernah diduduki musuh diyakini telah kehilangan wahyu dan mesti dipindahkan ke tempat yang dianggap masih murni.

Baca juga  Perjanjian Giyanti Bagi Dua Wilayah Kekuasaan Mataram

Fenomena semacam ini bukan hal baru dalam tradisi dinasti Mataram Islam. Dahsyatnya pemberontak Trunajaya tahun 1674 yang menyebabkan hancurnya ibu kota kerajaan di Pleret juga diakhiri dengan langkah serupa.

Empat tokoh dilibatkan Pakubuwono II dalam menentukan lokasi keraton baru. Mereka adalah sang patih Pangeran Pringgalaya, adipati Puspanagara, Tumenggung Hanggawangsa, dan komandan pasukan Belanda J.A.B. van Hohendorff. Tiga calon lokasi diajukan kepada Pakubuwono II, yaitu Kadipala, Sala dan Sana Sewu (Bekonang).

Di pengujung pembicaraan, Pakubuwono II menjatuhkan pilihan kepada Dusun Sala. Maka, sebagaimana dicatat Yasadipura—atau kerap pula ditulis sebagai Yosodipura—dalam Babad Giyanti, “Kartasura bêdhah, kraton ngalih dhatêng Sala.”  Kraton baru penerus Dinasti Mataram mulai dibangun di Sala tahun 1745.

 

Sumber:

  • Anonimus, 1820. Babad Giyanti. Surakarta: N.V. Boedi Oetama
  • Anonimus. 1939. Babad Tanah Jawi. Betawi Sentrem: Bale Pustaka.
  • Anonimus. 1939. Pawarti Surakarta Mei 1939.
  • Kejawen. 1939. Pahargyan Surakarta: 200 Taun edisi 18 April 1939, tahun XIV. Betawi Sentrem: Bale Pustaka.
  • Kejawen. 1939. Pahargyan Mangkunagaran Tigang Windu, edisi 16 Juni 1939, tahun XIV. Betawi Sentrem: Bale Pustaka.
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
  • Wibisono, Rahmat (ed). 2014. Sejarah Masjid Agung Surakarta. Surakarta: Pengurus Masjid Agung Surakarta.
  • Yasadipura I, Raden Ngabei. 1937. Babad Giyanti. Betawi Sentrem: Bale Pustaka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here