Sejarah Keraton Solo (9) : Penataan Kraton Wariskan Nama-Nama Kampung di Kota Solo

Keberadaan Kraton Solo tempat Sampean-dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhan (SISKS) Pakubuwono bertahta tak dapat dipisahkan dari rakyat jelata yang tinggal di permukiman seputar istana. Keberadaan mereka bahkan telah diperhitungkan saat kraton itu hendak dibangun, pada 1743.

Kraton Solo dibangun setelah kraton sebelumnya, Kraton Kartasura, dianggap telah kehilangan wahyu setelah diduduki musuh. Pakubuwono II yang berkuasa saat itu telah memperhitungkan keberadaan permukiman penduduk di Semanggi, Baturana, dan Babudan, di samping pertimbangan sakral-magis dan prospek sosial, ekonomi, politik, dan militer yang menjadi keunggulan Dusun Sala ketimbang dua nomine lain lokasi kraton barunya, Kadipala dan Sana Sewu.

Warga di seputaran Semanggi diandalkan Pakubuwono II sebagai tenaga kerja pembangunan kraton baru penerus dinasti Mataram Islam tersebut. Puluhan ribu pekerja dilibatkan membangun kraton yang akhirnya diresmikan keberadaannya pada hari Rabu, 17 Sura Je 1670 atau 17 Februari 1745. Selesai masa bujana handrawina atau pesta perayaan kepindahan kraton, mulailah diadakan pengaturan tempat tinggal keluarga dan pegawai kerajaan, bahkan orang asing yang merupakan pejabat Kompeni Belanda, misionaris dan zending.

Sebagaimana dimuat Pawarti Surakarta edisi tahun 1939 dan dipublikasikan kembali oleh Panitia Hari Jadi Surakarta pada 1973, di pusat istana bertempat tinggal raja beserta keluarganya dan beberapa priyatun dalem, pembantu mereka. Di kompleks istana, yaitu di dalam Baluwarti, ditempatkan para pangeran putra dan abdi kerajaan yang dekat dan selalu berhubungan dengan kebutuhan harian istana, misalnya abdi dalem gandarasa (tukang masak), carangan (penari), dan priyaga pinter istana atau brajanala, lengkap dengan perlengkapan istana, seperti gedhong dan lumbung.

Sedangkan di luar tembok istana ditempatkan kerabat raja (Hadiwijaya, Suryahamijaya), dan perlengkapan putra-putri raja (karatonan, tulisan, kuplukan, dan sebagainya). Abdi dalem keparak kiwa dan tengen juga ditempatkan di luar istana. Begitu pula benteng Belanda, beserta rumah para pembesar kompeni itu. Sedangkan para prajurit ditempatkan pada batas kota (Sarageni, Mertalulut, Singanegara, Jayataka, Miji Pinilih, dan sebagainya).

Baca juga  Sejarah Kraton Solo (10) : Pakubuwono Berganti-Ganti, Kraton Surakarta Hadiningrat Terus Berkembang

Penampatan mereka dilakukan sesuai golongan atau kelompok masing-masing. Maka terciptalah nama-nama kampung yang didasarkan pada nama kelompok abdi dalem, seperti Kalangan, Jagalan, Metalulutan, Saragenen, Gandekan Kiwa, Baluwarti, dan lain-lain. Selain sebagai identitas kampung, penamaan sesuai profesi penghuninya itu juga untuk memudahkan mengingat.

Bersamaan dengan pengaturan tempat tinggal para sentana, abdi dan kawula dalem, diatur pula lokasi tempat tinggal bagi para pejabat Pemerintah Kompeni Hindia Belanda, orang-orang asing, para petugas misionaris dan zending. Mulai dibangun pula pasar-pasar, seperti Pasar Harjanagara (Pasar Besar), Pasar Kliwon, Pasar Legi, Pasar Pahing (Pasar Nangka), Pasar Wage (Pasar Jongke), Pasar Nglorengan atau Slompretan—yang belakangan lebih kondang sebagai Pasar Klewer, dan lain-lain.

Keberadaan pusat perdagangan itu memacu kota raja baru cepat berkembang. Pembangunan Jembatan Jurug dan Jembatan Bacem mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi, sosial dan biudaya Kota Solo. Kemudahan transportasi darat itu membuat banyak pedagang dari luar kota berdatangan untuk berniaga di Kota Solo.

Pada masa Pakubuwono IV ( 1788 – 1820), situasi Kota Solo sudah hampir sama dengan Kota Solo pada zaman Pakubuwono X (1893 – 1939) yang dicatat pelbagai sumber sejarah sebagai masa keemasan Kasunanan Surakarta Hadiningrat karena bukan hanya bijaksana, tetapi juga kondang di seantero Nusantara, serta meninggalkan banyak bangunan penting yang bertahan hingga kini.

Baca juga  Pustaka Sri Radyalaksana Karya Prajaduta Terbit 1939

Lambang kebesaran Pakubuwono X, Sri Radya Laksana, terpampang sejak gapura batas kota hingga jauh di dalam tembok kraton. Gapura-gapura yang menyambut tetamu Kota Solo itu dibangun dengan dua ukuran berbeda. Gapura besar kemungkinan dibangun di jalur jalan yang kala itu lebih ramai lalu lintas, seperti di Grogol, Kerten, dan Jurug. Sedangkan gapura lebih kecil bisa dilihat di daerah Kandang Sapi, jalur jalan arah Baki di Solo Baru, dan Makamhaji. Gapura bukan hanya dibangun Pakubuwono X di akses darat ke Kota Solo, tetapi juga di tepian sungai yang kala itu menjadi dermaga dan tempat penyeberangan menuju Kota Solo, seperti di Mojo atau Silir

Sejak zaman Pakubuwono X  yang dijuluki Sinuhun Wicaksana itu tidak banyak perkembangan aset Kraton Solo. Nama-nama tempat yang diwariskan raja-raja penerus Pakubuwono II itu juga bertahan hingga kini, berpadu dengan nama tokoh lebih muda yang pernah tinggal atau ditempatkan di lokasi tertentu. Nama-nama itu dapat dijumpai tersebar di seputaran Kota Solo. Bahkan meskipun fungsinya tak lagi sama seperti semula.

 

Sumber:

  • Anonimus. 1939. Pawarti Surakarta Mei 1939.
  • Atmowiloto, Arswendo. 2009. Kitab Solo . Surakarta: Badan Informasi dan Komunikasi Pemerintah Kota Surakarta.
  • Prasetyo, Dwi. 2008. [Sejarah] Karaton Surakarta Hadiningrat dalam blog Abdi Dalem. www.blogger.com/feeds/3419156376648513505/posts/default.
  • Sajid, Raden Mas. 1984. Babad Solo. Sala: Rekso Pustoko Istana Mangkunegara.
  • Wibisono, Rahmat (ed). 2014. Sejarah Masjid Agung Surakarta. Surakarta: Pengurus Masjid Agung Surakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here