Sejarah Keraton Solo (8) : Tak Sempurna Kraton Solo Kala Diresmikan Pakubuwono II

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, Jawa Tengah bisa dibilang sebagai wujud sempurna istana raja Jawa. Kompleks Kraton Solo itu berfasilitas lengkap dan tertata rapi, bahkan sejak luar tembok kraton.

Arsitek Belanda yang juga guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Vincent van Romont bahkan menyebut Kota Solo sebagai salah satu karya arsitektur, lansekap, dan perencanaan kota yang otentik Indonesia, di samping Yogyakarta dan Bali. Sejak masa berkuasanya Pakubuwono X, wilayah Solo dibatasi gapura batas kota yang bukan hanya didirikan di akses darat menuju kota, namun juga di tepian sungai yang waktu itu menjadi dermaga dan tempat penyeberangan menuju kota.

Di pusat kota, tak jauh dari titik nol kilometer Solo, hingga kini juga masih bisa ditemukan tugu pemandengan raja. Tugu ini berfungsi sebagai titik fokus pandangan Sri Sunan Pakubuwono saat lenggah sinewaka di tempat yang ditinggikan di Bangsal Pagelaran. Bangsal untuk tampilnya raja di depan rakyatnya itu didirikan di sisi selatan alun-alun utara kraton, sementara di bagian barat alun-alun itu didirikan masjid agung kraton. Tepat di tengah alun-alun ditanam dua pohon beringin kembar. Alun-alun dengan beringin serupa juga ada di bagian belakang atau selatan kompleks kraton.

Di selatan atau di balik Bangsal Pagelaran, menyeberang jalan supit urang, terdapat gerbang kayu Kori Brajanala Lor atau Kori Gapit yang merupakan salah satu pintu dari tembok yang mengitari bagian inti istana. Tembok benteng Kraton Solo yang tingginya 3 m hingga 6 m itu membatasi lahan yang luasnya sekitar 1 km x 1,8 km. Di wilayah Kelurahan Baluwarti yang dikelilingi tembok kraton itu didirikan rumah-rumah para bangsawan mendampingi istana raja.

Baca juga  Sejarah Solo (4): Keraton Porak Poranda

Namun, wujud istana penerus dinasti Mataram tersebut sesungguhnya belum sesempurna itu kala diresmikan Kanjeng Ingkang Sinuhun Pakubuwono II pada 17 Februari 1745. Hanya dalam delapan bulan pembangunan, Dusun Sala yang semula berawa-rawa belumlah rata permukaan lahannya. Bahkan meskipun telah diuruk tanah dari Kadipala, Sana Sewu, dan Talawangi yang juga pernah masuk nominasi lokasi kraton bersama Dusun Sala.

Kompleks kraton itu juga baru dikelilingi pagar bambu, bukan tembok kokoh seperti sekarang. Terkesan seadanya. Eko Adhy Setiawan dalam tesis Program Pasca Sarjana Magister Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro berjudul Konsep Simbolisme Tata Ruang Keraton Surakarta Hadiningrat bahkan menyebut megaproyek kraton pengganti Kraton Kartasura itu tampak tergesa-gesa. “Sirnaning Resi Rasa Tunggal (1670) menandai saat pengerjaan Karaton selesai, meskipun nampak tergesa-gesa,” tulisnya.

Situasi di seputaran Desa Sala, kala itu, juga belum aman benar. “Wekdal pindhahipun karaton punika, ing Surakarta dereng tentrem. Ing pundi-pundi taksih kathah gegeran utawi kraman [Saat kepindahan kraton tersebut, Surakarta belum tenteram, di mana-mana masih kerap terjadi keributan atau pertengkaran],” tulis Komite Yasadipuran I dalam Penget Lan Lelampahanipun Swargi R. Ng. Jasadipura I atau Tus Pajang.

Kendati R.M. Garendi alias Sunan Kuning yang sempat menguasai Kraton Kartasura sudah ditundukkan pasukan Cakraningrat IV sesudah menduduki Kraton Kartasura, pada saat itu masih berkeliaran beberapa pangeran yang terlibat dalam pemberontakan. Di antara mereka adalah Mas Said yang kelak menjadi Pangeran Mangkunagara I. Ada pula Pangeran Mangkubumi yang lebih berpengaruh dan kelak menjadi Sultan Hamengkubuwono I. Bahkan, arah pergerakan Mangkubumi tampak sulit sekali terdeteksi, karena kadang-kadang memberontak, tetapi kadang-kadang aktif membangun kraton.

Baca juga  Sejarah Solo (6): Mataram Pecah menjadi Dua

Nyatanya, dibandingkan dengan Kraton Kartasura yang pernah diduduki musuh, kraton baru dinasti Mataram Islam di Desa Sala itu lebih menyimpan optimisme akan masa depan yang lebih baik. Babad Giyanti bahkan menyebut kondisi Kraton Solo kala itu satata amamangun atau telah tertata baik sesuai harapan. Walaupun permukaan tanah tidak rata, para pembesar kraton bergegas samya atata wisma atau membangun kediaman mereka yang baru dengan teratur.

 

Sumber:

  • Anonimus, 1820. Babad Giyanti. Surakarta: N.V. Boedi Oetama
  • Anonimus. 1939. Pawarti Surakarta Mei 1939.
  • Prasetyo, Dwi. 2008. [Sejarah] Karaton Surakarta Hadiningrat dalam blog Abdi Dalem. www.blogger.com/feeds/3419156376648513505/posts/default.
  • Sasrasumarta, R. et al.. 1939. Tus Pajang. Surakarta: N.V. Boedi Oetomo.
  • Wibisono, Rahmat (ed). 2014. Sejarah Masjid Agung Surakarta. Surakarta: Pengurus Masjid Agung Surakarta.
  • Yasadipura I, Raden Ngabei. 1937. Babad Giyanti. Betawi Sentrem: Bale Pustaka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here