Sejarah Keraton Solo (7) : Ini Pesan Pakubuwono II untuk Surakarta Hadiningrat…

Berakhirnya delapan bulan pelaksanaan megaproyek pembangunan kraton dirayakan Kanjeng Ingkang Sinuhun Pakubuwono II dengan upacara akbar pemindahan kerajaan, 17 Februari 1745. Kirab agung yang diikuti 50.000 orang menandai perpindahan ibu kota pemerintahan dari Kraton Kartasura ke kraton baru di Desa Sala.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

Singgasana, berbagai pusaka peninggalan leluhur, bahkan batu-batu yang biasa digunakan untuk ritual sang raja dibawa barisan abdi dalem dan pasukan yang berbaris beriringan ke arah timur. Abdi dalem lain menghela gajah dan kuda tunggangan kesayangan sang raja, juga hewan ternak lainnya. Ada pula abdi dalem yang memikul joli berisi putri-putri dan anak-anak, lengkap dengan isi keputren.

Pendukung lain keseharian istana mengusung peranti masing-masing, dari sapu hingga entong. Para profesional berbaris dalam kelompok masing-masing, mulai dari pande emas hingga pembatik. Rakyat jelata mengikuti di belakang.  Berjam-jam berjalan kaki, mereka istirahat sejenak di seputar alun-alun sebelum mengikuti kelanjutan rangkaian acara.

Raden Koesoemadi dalam artikel Soerakarta Adiningrat 200 Jaar di Majalah Djawa, Mei 1939, mengisahkan bangsal pengrawit yang dibawa abdi dalem di barisan paling depan dalam arak-arakan kirab agung itu segera dipasang. Setelah bangsal pengrawit tertata rapi di bagian Tatag Rambat—atau Pagelaran sekarang—yang sengaja telah ditinggilkan permukaan tanahnya, Pakubuwono II menuju singgasana.

Panglima serta para perwira berdiri di sebelah kanannya, sedangkan para serdadu berbaris di alun-alun dalam deretan yang memanjang. Selanjutnya, para pandherek atau pengiring raja yang sudah sempat beristirahat beberapa saat mengikuti pasewakan agung atau upacara menghadap raja. Itu adaah pasewakan agung yang untuk kali pertama dilaksanakan di Keraton Solo.

Dalam pasewakan agung itu, sebagaimana dikutip Pawarti Surakarta terbitan 1939 dari Yasadipura I, bersabdalah Kanjeng Ingkang Sinuhun Pakubuwono II kepada segenap hadirin, “Heh kawulaningsun, kabeh padha ana miyarsakna pangandikaningsun! Ingsun karsa ing mengko wiwit dina iki, desa ing Sala ingsun pundhut jenenge, ingsun tetepake dadi negaraningsun, ingsun parigi jeneng Negara Surakarta Hadiningrat. Sira padha angertekna sakawulaningsun satalatah ing Nusa Jawa kabeh (Hai hambaku, dengarkan semuanya sabda saya. Saya berkeinginan sejak hari ini, desa di Sala saya ambil namanya, saya tetapkan menjadi negara saya, saya beri nama negara Surakarta Hadiningrat. Kalian siarkanlah ke seluruh rakyatku di seluruh wilayah Tanah Jawa seluruhnya).”

Selanjutnya doa syukur dipanjatkan, dan pohon beringin kembar ditanam di alun-alun muka, utara kraton, dengan dipimpin oleh Patih Pringgalaya dan Patih Sindureja. Beringin di sebelah Timur diberi nama Kyai Jayandaru, sedangkan yang di sebelah Barat diberi nama Kyai Dewandaru. Pohon beringin kembar lainnya ditanam di alun-alun pungkuran di selatan kraton oleh bupati mancanegara.

Seusai digelarnya selamatan, selesailah pula upacara perpindahan pusat kerajaan dari Kartasura ke Dusun Sala yang telah diwisuda dengan nama Surakarta Hadiningrat. Namun, selama lebih kurang satu bulan, warga kota baru itu diperkenankan mengadakan bujana handrawina, berpesta pora di rumah masing-masing atau bersama-sama dengan para lurah—pemimpin—mereka.

Baca juga  Sejarah Keraton Solo (5) : Nama Surakarta Dipilih Demi Tenteram Mataram Islam

Bersamaan dengan itu, Pakubuwono II tentu tetap menggelar resepsi sebagai rangkaian upacara perpindahan kratonnya. Pelaksanaan rangkaian kegiatan kirab agung oleh Pakubuwono II itu didasarkan pada tradisi raja-raja sebelumnya, sehingga prosesi lengkap perpindahan kraton dari Kartasura ke Dusun Sala mestinya juga tak berbeda dengan langkah raja-raja terdahulu.

Aneka Sesajen
Dicatat Titimangsa Adeging Karaton Jawi yang anonim dan tanpa angka tahun penyusunan, sesaat setelah menerima laporan bahwa proyek pembangunan kraton yang telah berlangsung selama delapan bulan akhirnya selesai, Pakubuwono II bertanya kepada Raden Tumenggung Tirtawiguna tentang persyaratan perpindahan pusat istana. Tirtawiguna pun memaparkan langkah para raja terdahulu saat memindahkan istana mereka:

  1. Ketika Raja Parasara memindahkan kerajaannya ke Hastinapura, disiapkan sesajen pala kirna, pala kesimpar, pala gumantung, pala kependhem, pala andheng atau bunga-bungaan yang harum baunya untuk diletakkan di tengah istana. Para pendeta berdoa sehari semalam. Barulah perpindahan dilakukan.
  2. Prabu Aji Pamosa dari Kediri memindahkan pusat kerajaan dari Kediri ke Witaradya. Sesajennya sama dengan Prabu Yudayaka (Parasara) di Hastina, dengan ditambah tumpeng rajegan atau tumpeng seribu buah, diberi daging binatang berkaki empat, ikan darat, ikan kali, daging jenis unggas, dan jajan pasar.
  3. Prabu Dewata Cengkar di Medang Kamulang tatkala pindah ke Medang Kamulan Timur menyiapkan sesajen yang sama seperti Prabu Aji Pamosa dengan ditambah gecok mentah yang dipasang di setiap sudut istana dan setiap perempatan besar maupun kecil.
  4. Pabu Banjaran Sari di Kerajaan Pajajaran pindah ke Galuh dengan sesajen yang sama dengan Prabu Dewata Cengkar, namun ditambah raja dan ratu berpakaian wligasan atau pakaian pengantin, menghias jalan-jalan, para abdi dalem berbusana sarimbit dengan pakaian pengantin kepangeranan, lazimnya pakaian pengantin sesudah upacara kirab Kanarendran.

Seluruh kegiatan perpindahan tersebut selalu diakhiri dengan bujana handrawina, alias pesta atau resepsi. Dalam kesempatan itu, raja menerima seluruh sesajen, ditambah dengan bumbu-bumbu masak atau racikan atau rerajungan.

Tumenggung Tirtawiguna menyebutkan pula barang-barang yang mestinya dipindahkan terlebih dulu dalam prosesi itu adalah:

  1. beras dan padi,
  2. perlengkapan dapur dengan segala macam bumbu masak,
  3. sato iwen, yakni ayam, itik, dan sejenisnya,
  4. raja kaya, yakni hewan ternak berkaki empat, dan
  5. perlengkapan-perlengkapan lain.

Pawarti Surakarta edisi tahun 1939 mencatat pula jenis sajen yang diadakan dalam proses perpindahan kraton menurut Tumenggung Tirtawiguna sebagaimana dicatat ialah gecok kelapa, bekakak ikan, bumbu sekapur peyon atau robyongan, yakni bunga sirih lengkap, rokok boreh. Sementara Jenis tumpeng dalam prosesi perpindahan kraton adalah megana, urubing damar, tatrah, rabah, rerajungan, rukini, kelut, litut, gicing.

Di samping itu, perlu pula ada sayuran, ikan, daging, dan segala macam jenang yang meliputi jenang abang, putih, selaka, mangkur, kiringan, ngongrong, dodol, alot, bakmi, bandeng, lemu kaleh, kalong, jada, wajik, pudhak pondhoh, ketan manca warna atau pala kirna, pala gumantung, pala kesimpar, pala kependhem, dan pala andheng. Disertakan pula berbagai macam telur, ayam, itik, burung, ikan dan sebagainya. Perlu pula disertakan berbagai macam benang, kain batik, selendang, kain kerik dan masih banyak lagi jenis sajian lainnya. Kemudian, perlu juga ada tiga jenis emas, perak, dan binatang hidup.

Baca juga  Riwayat Pakubuwono V : Sunan Sugih Lama Belajar, Singkat Menjabat

Berbagai jenis sesaji itu tentu telah ditunaikan sang raja dan pengikutnya, sebagaimana sebelumnya raja telah menyandingkan secara harmonis rasionalitas dengan persyaratan nujum dalam pemilihan lahan. Pada babak sebelumnya, sejarawan Purwadi dan arkeolog Djoko Dwiyanto dalam buku mereka, Kraton Surakarta, berkesimpulan bahwa persyaratan nujum bahkan lebih penting daripada topografi tanah yang dianggap rusak parah. Di samping itu, istana yang merupakan bagian utama dalam tata ruang kraton diprioritaskan pembangunannya.

“Kita juga diberitahu bahwa pemberkatan tanah itu hanya dapat dilakukan dengan bantuan pelbagai benda keramat yang dialihkan dari Karaton terdahulu, yaitu keempat pohon waringin, bangsal pangrawit-yang sangat keramat karena mengandung bongkah batu yang dianggap bekas singgasana Hayam Wuruk [hal ini menjamin keterkaitannya dengan Majapahit]- seperti juga berbagai pusaka yang merupakan jaminan bahwa wahyu benar-benar ada pada raja yang sedang memerintah,” sambung Purwadi dan Djoko Dwiyanto dalam buku Kraton Surakarta.

Masjid Agung
Buku Sejarah Masjid Agung Surakarta yang diterbitkan pengurus masjid setempat menambahkan catatan bahwa berdasarkan memori kolektif sebagian warga Kartasura dan Surakarta sebagaimana dikutip arkeolog Inajati Adrisijanti, bahan bangunan Masjid Agung Kartasura ikut dibawa pindah ke Dusun Sala dalam rangkaian momentum istimewa tersebut. Sesuai tradisi Islam, andil setiap orang dalam pembangunan masjid memang tak boleh diabaikan, bahkan meskipun masjid itu dipindahkan.

Kendati dalam arak-arakan kirab agung yang dicatat pujangga kraton hanya tercatat batu-batu pasalatan, padasan, mimbar, dan beduk Masjid Besar Kyai Rembeg yang dibawa serta, pada kenyataannya Masjid Agung Keraton Kartasura kini tidak lagi dapat dijumpai. Lahan bekas Masjid Agung Kartasura di sebelah barat alun-alun tinggal dikenal penduduk sekitar melalui toponimi atau nama tempat yang tersisa dalam tradisi lisan warga setempat.

Keberadaan masjid di barat alun-alun merupakan pelengkap harmoni istana kerajaan Islam di Nusantara, sebagaimana sanggar pamujaan di timur alun-alun kraton kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara pada masa sebelumnya. Keberadaannya setara dengan persyaratan nujum yang harus ditunaikan raja dalam membangun istana, keduanya bermuara sama, yakni harapan bakal tercapainya ketenteraman dan kejayaan pada masa selanjutnya.

 

Sumber:

  • Anonimus. 1939. Pawarti Surakarta Mei 1939.
  • Prasetyo, Dwi. 2008. [Sejarah] Karaton Surakarta Hadiningrat dalam blog Abdi Dalem. www.blogger.com/feeds/3419156376648513505/posts/default.
  • Purwadi. 2008. Kraton Surakarta: Sejarah, Pemerintaha, Konstitusi, Kesusastraan, dan Kebudayaan. Yogyakarta: Panji Pustaka.
  • Wibisono, Rahmat (ed). 2014. Sejarah Masjid Agung Surakarta. Surakarta: Pengurus Masjid Agung Surakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here