Sejarah Keraton Solo (6) : Megahnya Kirab Agung Perpindahan Kraton dari Kartasura ke Sala…

Kirab atau perjalanan bersama-sama dalam suatu rangkaian upacara merupakan tradisi yang melekat dalam keseharian warga Surakarta. Maka tak mengherankan jika warga Kota Surakarta atau Kota Solo hingga kini menerapkan tradisi tersebut.

Kirab menurut catatan sejarah bahkan telah dilakukan Pakubuwono II saat memindahkan kraton pusat kekuasaannya dari Kartasura ke Dusun Sala pada 17 Februari 1745. Berbagai sumber sejarah menggambarkan prosesi kirab agung pemindahan ibu kota kerajaan dinasti Mataram Islam yang kini berada di Kota Solo itu bahkan berlangsung sangat megah.

Tercatat dalam Pawarti Surakarta terbitan 1939 yang mengutip Yasadipura II, Rabu pagi itu, Pakubuwono II dan permaisuri yang diiring para perempuan penari Bedhaya Serimpi  beserta para pengikutnya tampil di sitihinggil Kraton Kartasura. Mereka disambut tembakan meriam, bunyi  gamelan, dan tiupan terompet.

Mereka lalu mulai berjalan dan sang pujangga pun mendiskripsikan dengan teliti urut-urutan panjang kirab agung tersebut. Iring-iringan yang mengarah ke tenggara itu diawali dengan abdi dalem dari desa-desa yang pembawa sepasang pohon beringin muda untuk ditanam sebagai beringin kurung di alun-alun utara kraton. Kini kedua pohon itu berdiri kokoh di Alun-Alun Utara Kraton Solo dan dikenal sebagai Dewandaru dan Jayandaru.

Selanjutnya adalah abdi dalem prajurit Kalang, gowong, undhagi, dan selakerti yang membawa bangsal pengrawit, yakni bangunan yang digunakan raja dalam peristiwa khusus, atau apabila dia tampil di depan rakyatnya. Berikutnya, berturut-turut adalah:

  1. Gajah tunggangan Sunan lengkap dengan busananya yang diapit oleh abdi dalem srati.
  2. Kuda tunggangan Sunan yang diiringi oleh abdi dalem gamel atau penjaga kandang,
  3. Para abdi dalem bupati nayaka jawi kiwa dan tengen, yang berasal dari Panumping, Panekar, Sewu Numbak Anyar, Siti Ageng Kiwo dan Tengen, Bumi, dan Bumija. Mereka diikuti oleh abdi dalem kliwon, panewu, dan mantri. Semua naik kuda dan berpayung,
  4. Abdi dalem bupati anom anon-anon beserta panewu dan mantrinya, yang terdiri atas abdi dalem kemasan, abdi dalem greji, abdi dalem pandhe, abdi dalem sayang, abdi dalem gemblak (gembleg), abdi dalem puntu, abdi dalem samak, tukang laras, tukang warangka, tukang ukir, jlagra, slembar, gupyuh, tukang cekathak, tukang pasppor, tukang landheyan (tempat tombak), undhagi, bubut, kendhi, niyaga, badhut, dhalang, tukang sungging, tukang natah wayang, tukang cat, tukang prada, tledhel, kebon dharat. Mereka mengiringi gamelan-gamelan yang terdiri atas Kyai Surak, Kyai Sekar Delima, Kyai Sekar Gadhung, lengkap dengan payung kuning sebagai naungan,
  5. Tukang song-song (payung), tukang pasar, tukang tulup, tukang jemparing (panah), tukang jungkat (sisir), teluk, gebyar, tukang musik, pembatik,
  6. Patih Raden Adipati Pringgalaya dan Patih Raden Adipati Sindureja disertai benda-benda upacara kepatihan,
  7. Lima kompi prajurit Kompeni berkuda.
  8. Benda-benda upacara Kadipaten Anom diiringi oleh para abdi dalem punakawan, emban, cethi, dan nyai,
  9. Raden Adipati Anom naik kuda, berpayung dan melangkah berjajar dengan Mayor Hagendrop—atau tepatnya mungkin Hohendorff—yang diiringi oleh abdi dalem Kadipaten Anom, diiringi Pepatih dan Wedana Kadipaten Raden Tumenggung Wirapraja.
  10. Abdi dalem prajurit sarageni dan sarantaka,
  11. Bedug yang diiringi abdi dalem merbot, penghulu, katib, ulama, dan pradikan yang berkuda dan berpayung,
  12. Para abdi dalem kebayan membawa cekal Kyai Baladewa,
  13. Para sentana, panji, riya pangeran, putra yang juga berkuda dan berpayung, ditutup oleh abdi dalem suranata, juru, beserta anak buah masing-masing.
  14. Para punakawan, hurdenas, ponylompret Belanda,
  15. Abdi dalem gandhek mantri anom berpayung kuning membawa tombak milik Sunan. Mereka berbaris di kiri dan kanan mengapit benda-benda upacara kerajaan seperti Banyak Dhalang Sawung Galing.
  16. Benda-benda pusaka kerajaan, seperti bendhe (canang) Kyai Bicak. Pembawanya naik kuda berpayung kuning.
  17. Abdi Dalem Gajah Mati membawa carak Kyai Nakula Sadewa, dan cemeti milik raja Kyai Pecut,
  18. Raja diiringi oleh abdi dalem keparak kiwa tengen dengan membawa benda-benda upacara kerajaan.
  19. Prajurut Tamtama, kiri kanan masing-masing dua ratus orang prajurit.
  20. Abdi Dalem Prajurit Mertalulut dan Singanagara mengawal pusaka yang dibawa oleh abdi dalem keparak kiwa dan tengen berjumlah empat pulih orang, berkuda diiringi benda-benda upacara Kabupaten.
  1. Abdi dalem keputren dengan Nyai Tumenggung atau Nyai Lurah Keparak Jawi dan Lebet naik tandu/kremun atau tandu kajang dan ada juga yang berkuda. Mereka diiringi anak buah masing-masing,
  2. Para wedana, panewu, mantri, kliwon beserta anak buah masing-masing.
  3. Istri Patih Pringgalaya dan istri Patih Danurejo.
  4. Abdi Dalem Bedaya Srimpi Manggung Ketanggung atau pembawa benda-benda upacara, para ratu serta para emban dan para nyai.
  5. Permaisuri Sunan diiringi empat abdi dalem gedhong kiwa tengen, serta para abdi dalem kliwon, panewu, dan mantri jajar.
  6. Putra-putri Sunan dan para selir atau priyatun dalem, para istri bupati mancanagara, serta semua warga keputren. Sebagian besar dari mereka naik tandu, kremunjoli, atau jempana.
  7. Benda-benda pusaka kerajaan yang dimasukkan ke dalam gendhaga (bokor),
  8. Abdi dalem keparak membawa buku-buku Kerajaan,
  9. Abdi dalem Kasepuhan, bupati, kliwon, panewu, mantri, para prajurit dan para panahan,
  10. Para abdi dalem perempuan, pekerja dapur yang membawa perlengkapan dapur, abdi dalem krapyak membawa beras, ayam, dan sato iwen lain, serta upeti para adipati mancanagara.
  11. Abdi dalem jajar membawa perlengkapan rumah tangga,
  12. Abdi dalem pamajegan membawa kayu bakar, arang, sapit, sajen, tampah (niru), tebok, ancak, seruk (bakul), tumbu, sapu, godhong (daun), ethong, lesung, lempong, alu ujon, kukusan, irus, solet, dan sejenis peralatan dapur lainnya.
  13. Nyai Gandarasa naik tandu menjaga pusaka Dandang Kyai Dhudha, pusaka Panjang Kyai Blawong, dan kendil Kyai Marica,
  14. Bupati Gading Mataram besarta anak buahnya,
  15. Galadhag Pacitan membawa batu, tempat minum harian milik Raja, Sela Gilang, teras bagi siti hinggil Sela Gilang di bangsal pangrawit, Bangsal Manguntur Tangkil, dan batu-batu pasalatan (untuk sembahyang), padasan, para perdikan Mancanagara, mimbar, dan beduk Masjid Besar Kyai Rembeg. Semua benda-benda pusaka tersebut diberi payung kuning, diletakkan di kendaga atau peti kayu berhias atau berbebat anyaman,
  1. Pohon beringin pukuran yang nantinya ditanam di Alun-Alun Selatan/pukuran, dengan diiringi abdi dalem pancar mancanagara
  2. Abdi dalem dagang, saudagar, kriya, pangindung, blantik (pedagang kambing), mudel, umbal, mranggi, pangukir, serta rakyat jelata Kraton Kartasura,
  3. Binatang ternak milik para putra sentana, para bupati, kliwon, panewu mantri beserta anak buahnya,
  4. Abdi dalem pandhelegan, tukang mencari ikan, tukang baita (perahu), pambelah, jurumudi, jagal (penyembelih hewan),
  5. Narindu milik raja yang dijaga oleh abdi dalem tuwa baru dan abdi dalem mancanegara kilen,
  6. Abdi dalem mancanagara wetan dan kulon membawa pusaka meriam Nyai Setomi dan meriam-meriam lainnya.
Baca juga  Sejarah Solo (1): Bermula Dari Intrik Antar-Raja

Total peserta arak-arakan itu, menurut Serat Babad Surakarta ingkang katelah dipun wastani Babad Giyanti mawi sekar Macapat karya Yasadipura II yang terbit tahun 1931 mencapai limang leksa atau 50.000 orang. Alhasil perjalanan berlangsung sangat lambat. Terlebih lagi, jalur yang harus dilalui mula-mula merupakan jalan setapak melewati hutan dan semak belukar. Hutan dan semak belukar itu harus ditebas telebih dahulu untuk dijadikan jalur perpindahan kraton.

Pawarti Surakarta terbitan tahun 1939 yang mengutip Babad Surakarta menyebutkan butuh waktu tujuh jam untuk menempuh perjalanan antara istana lama di Kartasura hingga istana baru di Dusun Sala. Namun, sumber lain yang dikutip arkeolog Nurhadi Rangkuti dalam artikel berjudul Kartasura yang Ditinggalkan di Majalah Arkeologi Indonesia menyebutkan lama perjalanan itu mulai pukul 08.00 WIB hingga sekitar pukul 12.00 WIB, atau sekitar empat jam saja.

Baca juga  Sejarah Keraton Solo (3) : Nuansa Mistis Tak Putus Naungi Persiapan Pembangunan Kraton Solo

Iring-iringan bedol kerajaan itu berangkat dari Alun-Alun Kraton Kartasura, mengarah ke timur, melintasi alun-alun Kraton Pajang, lalu melintasi jalur jalan yang berujung di depan Pasar Klewer atau Jl. dr. Rajiman kawasan Coyudan sekarang. Di Alun-Alun Utara Kraton Solo kirab agung berakhir. Google Map menyebutkan jaraknya sekitar 10 km dan mestinya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 2 jam.

 

Sumber:

  • Anonimus, 1820. Babad Giyanti. Surakarta: N.V. Boedi Oetama
  • Anonimus. 1939. Pawarti Surakarta Mei 1939.
  • Prasetyo, Dwi. 2008. [Sejarah] Karaton Surakarta Hadiningrat dalam blog Abdi Dalem. www.blogger.com/feeds/3419156376648513505/posts/default.
  • Rangkuti, Nurhadi. 1996. Kartasura Yang Ditinggalkan, artikel tim Harian Kompas dalam rangka Hari Pers Nasional, 9 Februari 1996 di Kota Solo.
  • Wibisono, Rahmat (ed). 2014. Sejarah Masjid Agung Surakarta. Surakarta: Pengurus Masjid Agung Surakarta.
  • Yasadipura I, Raden Ngabei. 1937. Babad Giyanti. Betawi Sentrem: Bale Pustaka.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here