Sejarah Keraton Solo (5) : Nama Surakarta Dipilih Demi Tenteram Mataram Islam

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang hingga kini tetap lestari sebagai salah satu istana raja Jawa, telah ada sejak tahun 1745. Pujangga Yasadipura dalam Babad Giyanti mencatat kirab akbar pemindahan kraton penerus dinasti Mataram islam itu dari Kartasura ke Dusun Sala pada Rabu pagi, tanggal 17 Sura Je 1670 atau 17 Februari 1745 sebagai tonggak awal eksistensi kraton tersebut.

Mengacu catatan Yasadipura itu, banyak referensi menguraikan tentang makna nama kraton baru dinasti Mataram Islam tersebut. Uraian paling sederhana adalah memaknai harafiah kata “sura” yang berarti “gagah berani”, “karta” yang bermakna “makmur”, “hadi” yang bermakna “besar”, dan “rat” yang berarti negara. Dengan demikian “Surakarta Hadiningrat” secara harfiah berarti “negara besar yang gagah berani dan makmur”.

Blogger Boyolali, Dwi Prasetyo, dalam blog Abdi Dalemmengaitkan pilihan nama “Surakarta” untuk kraton baru dinasti Mataram Islam di Dusun Sala dengan nama kraton sebelumnya, “Kartasura” dan “Kerta”. Kartasura, sebelum zaman kejayaan Amangkurat II bernama Wanakerta, sedangkan Kertasura atau Kartasura adalah nama wisuda. Jika “Kerta” atau “Karta” bermakna “tenteram” atau “makmur” dan “sura” berarti “gagah berani”, maka nama Kartasura memuat harapan “berani berperang demi ketenteraman atau kemakmuran”. Dengan demikian pilihan kata keturunan Mataram menyebut kraton baru dengan nama “Surakarta” itu mengandung harapan datangnya kembali kejayaan dan ketenteraman Mataram seperti ketika ber-ibu kota di Karta.

Baca juga  Sejarah Kraton Solo (1) : Kartasura Terkoyak, Dusun Sala Terpilih

Perlunya nama baru atas kraton baru penerus dinasti Mataram di Dusun Sala itu, dikaitkan Dwi Prasetyo dengan kenyataan bahwa Kraton Kartasura tidak banyak membawa kebahagiaan. Dicatat pula adanya cerita rakyat yang mengaitkan kata “Sala” dengan akar kata “desa ala” yang bermakna “desa yang jelek”, sehingga tatkala di lokasi itu dibangun kraton maka perlu diganti sebutannya.

Pada kenyataannya, kata “sala” bisa jadi didasarkan pada nama pohon suci asal India yang bernama latin Couroupita guianensis atau Shorea robusta, dan oleh orang Jawa disebut Pinus Marcusi. Bahkan, Dwi Prasetyo sendiri dengan mengutip Oud-Javaansche Oorkonden (OJO) no. XLIII (920) sempat menyebut dalam laman publikasi yang sama kaitan kata “sala” dengan “qala” yang dihubungkan dengan bangunan suci.

Lebih gamblang, sejarawan Purwadi dan arkeolog Djoko Dwiyanto dalam buku mereka, Kraton Surakarta, mengutip Serat Urapsari karya Padmasusastra menyebutkan bahwa nama Dusun Sala didasarkan pada banyaknya pohon sala di tempat itu. “Wontenipun nama dhusun Sala, jalaran saking kathahipun wit Sala utawi pancen wana Sala”.

Nama Surakarta sering kali juga dihubungkan dengan Batavia atau Jayakarta. Orang Jawa Barat menyebut bandar di Teluk Jakarta itu dengan nama Surakarta. Karena itu, sempat muncul spekulasi yang mengaitkan penamaan Surakarta untuk kraton baru dinasti Mataram tersebut dengan cara raja Jawa menghormati Kompeni yang telah membantunya pemindahan istana.

Baca juga  Peliharaan Raja Solo (5) : Di Taman Sriwedari, Kebun Binatang untuk Hewan Kesayangan Pakubuwono X

Namun, benarkah nama Surakarta itu muncul pada momentum pemindahan kraton dari Kartasura ke Dusun Sala oleh Pakubuwono II pada 17 Februari 1745 sebagaimana dicatat Babad Giyanti? Harus diingat waktu penulisan Babad Giyanti tidak diketahui pasti, diperkirakan karya sastra itu digubah antara tahun 1757 dan 1803, atau 12 tahun hingga 58 tahun setelah peristiwa. Padahal Babad Mangkunagaran yang ditulis pada tahun 1779 masih menyebut nama Salakarta untuk menyebut kraton tempat Pakubuwono IV bertakhta.

 

Sumber:

  • Anonimus, 1820. Babad Giyanti. Surakarta: N.V. Boedi Oetama
  • Prasetyo, Dwi. 2008. [Sejarah] Karaton Surakarta Hadiningrat dalam blog Abdi Dalem. www.blogger.com/feeds/3419156376648513505/posts/default.
  • Purwadi. 2008. Kraton Surakarta: Sejarah, Pemerintaha, Konstitusi, Kesusastraan, dan Kebudayaan. Yogyakarta: Panji Pustaka.
  • Sasrasumarta, R. et al.. 1939. Tus Pajang. Surakarta: N.V. Boedi Oetomo.
  • Yasadipura I, Raden Ngabei. 1937. Babad Giyanti. Betawi Sentrem: Bale Pustaka.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here