Sejarah Keraton Solo (4) : Kraton Solo Contek Kraton Kartasura, Puluhan Ribu Buruh Dikerahkan

 

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang kini termasuk wilayah Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah dibangun pada 1744 Masehi oleh Kanjeng Ingkang Sinuhun Pakubuwono II. Tata kota kompleks kraton itu tak berbeda dari istana kerajan Islam lain di nusantara.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

Tim arsitektur penyusunan buku Sejarah Masjid Agung Surakarta memaparkan konsep tata ruang wilayah pusat kerajaan Islam di nusantara sebagaimana tercermin pada tata ruang (lanskap) Kraton Solo itu bahkan tidak banyak berubah sejak Keraton Kesultanan Demak didirikan 1478, tahun yang dianggap penanda runtuhnya Kerajaan Majapahit. Istana raja berada di selatan tanah lapang atau alun-alun, dan dilengkapi masjid di barat alun-alun.

Tata ruang itulah yang diadopsi Pakubuwono II tatkala memindahkan istananya dari Kartasura ke Dusun Sala pada 1744. Pujangga Yasadipura I sebagaimana dicatat dalam riwayat kehidupannya 1729-1803, menegaskan bahwa Kraton Solo itu dibangun dengan “anelad Kartasura” atau mencontek Kartasura. Sedangkan Darsiti Soeratman dalam desertasinya yang berjudul Kehidupan Dunia Kraton Surakarta 1893-1939, menggunakan istilah “Kraton Solo mutrani Kraton Kartasura”.

Untuk mewujudkan kompleks istana semacam itu dibutuhkan lahan yang relatif luas sehingga tak mengherankan jika untuk memastikan Desa Sala yang jauhnya 12 km di tenggara lokasi Kraton Kartasura sebagai lokasi istana pengganti itu, Pakubuono II membutukan proses yang culup panjang, sejak pengujung tahun 1742 hingga 1744. Bukan hanya butuh lahan luas, dalam membangunan kraton itupun Pakubuwono II harus melibatkan puluhan ribu buruh.

Para buruh itu mula-mula meratakan lahan, meninggikan permukan tanah pusat istana, dan mendirikan tembok kraton. Tanah uruk sebagaimana dicatat Tus Pajang dan sumber-sumber lain diambil dari Kadipala, Sana Sewu dan Talawangi yang pernah masuk nominasi lokasi kraton baru itu. Sedangkan untuk tembok sekeliling kraton, karena waktu yang mendesak, dinding-dinding pertama Kraton Solo itu bukan dibuat dari batu, melainkan bambu.

Baca juga  Sejarah Solo (10): Geger Anti-Cina di Era Kemerdekaan

Untuk melaksanakan megaproyek tersebut, dikerahkan lurah undagi atau tukang kayu yang dipimpin Kyai Prabasena. Ia bukan hanya dibantu oleh Kyai Karyasana, Kyai Rajegpura, Kyai Sri Kuning dari lingkungan kasunanan, tetapi juga tenaga dari mancanegara. Mereka mengerjakan kayu jati dari Alas Kethu, hutan di dekat Wonogiri Kota, yang dihanyutkan melalui Bengawan Solo.

Mayor J.A.B. van Hohendorff, Patih R. Adipati Pringgalaya, Kyai Tumenggung Puspanagara, Kyai Tumenggung Hanggawangsa, Kyai Tumenggung Mangkuyuda, dan Kyai Tumenggung Tirtawiguna yang mendampingi Pakubuwono II selama proses pemilihan lahan, tetap dilibatkan sebagai penanggung jawab utama dalam proyek pembangunan Kraton Solo tersebut.

Seiring penyiapan lahan itu, panjang dan lebarnya diukur untuk merancang tata kota Kraton Solo. Desain dasar Kraton Solo itu mereka contoh dari Kraton Kartasura. Pakubuwono II memerintahkan Panembahan Wijil dan Kyai Khalifah Buyut sebagai petugas pengukur. Tata kota dan bangunan istana digambar, Kyai Yasadipura dan Kyai Tohjaya ditugaskan sebagai pengukur adu manis-nya.

Sekitar delapan bulan dibutuhkan untuk membangun kompleks istana tersebut, itu pun pekerja kerap kali dikerahkan siang malam. Pada 1745, abdi dalem melapor kepada Pakubuwono II bahwa proyek pembangunan Kraton Solo kelar. Sinuwun pun menginstruksikan perpindahan sesuai tradisi para raja terdahulu memindahkan keraton mereka. Ibu kota dipindahkan lewat prosesi kirab agung.

Prosesi pemindahan kraton dari Kartasura ke Dusun Sala dilaksanakan pada pagi hari Rabu 17 Sura Je 1670 atau 17 Februari 1745. Sebagaimana disebutkan dalam Babad Kedhaton, “Sigra jengkar saking Kartawani, ngalih kadhaton mring Dhusun Sala, kebun sawadya balane, busekan sapraja gung, pinengetan angkate nguni, anuju ari Buda, endjing wancinipun, wimbaning lek ping sapta welas, Sure Edje Kombuling puja kapyarsi, ing nata kang sangkala (Segera meninggalkan Kartasura, pindah kraton ke Dusun Sala, lengkap para prajurit, memenuhi kerajaan, keberangkatannya diperingati, pada hari Rabu pagi, tanggal 17 bulan Sura tahun Je 1670, raja sewaktu berangkat).”

Baca juga  Adu Macan di Jawa : Rampog Macan di Kraton Kartasura Berlanjut ke Kraton Solo…

 

Sumber:

  • Kejawen. 1939. Pahargyan Surakarta: 200 Taun edisi 18 April 1939, tahun XIV. Betawi Sentrem: Bale Pustaka.
  • Kejawen. 1939. Pahargyan Mangkunagaran Tigang Windu, edisi 16 Juni 1939, tahun XIV. Betawi Sentrem: Bale Pustaka.
  • Prasetyo, Dwi. 2008. [Sejarah] Karaton Surakarta Hadiningrat dalam blog Abdi Dalem. www.blogger.com/feeds/3419156376648513505/posts/default.
  • Sajid, Raden Mas. 1984. Babad Solo. Sala: Rekso Pustoko Istana Mangkunegara.
  • Samino et. Al.. 2001. Segi Kultural, Relijius Perpindahan Keraton Kartasura ke Surakarta, dalam Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Nomor 4 Tahun III, Jakarta: Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia.
  • Sasrasumarta, R. et al.. 1939. Tus Pajang. Surakarta: N.V. Boedi Oetomo.
  • Suara Merdeka. 2006. Dandanggula Dilantunkan, Suasana pun Hening: Peringatan 261 Tahun Kepindahan Keraton. Suara Merdeka edisi 17 Februari 2006.
  • Wibisono, Rahmat (ed). 2014. Sejarah Masjid Agung Surakarta. Surakarta: Pengurus Masjid Agung Surakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here