Sejarah Keraton Solo (3) : Nuansa Mistis Tak Putus Naungi Persiapan Pembangunan Kraton Solo

Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah penerus dinasti Mataram Islam. Meski menyandang nama “Islam”, bukan berarti tata kehidupan di kraton meninggalkan tradisi leluhur. Bahkan sebagian tata kehidupan di sentra budaya Jawa itu kerap dipandang sebagian kalangan bernuansa kejawen yang kental dengan mistisisme Jawa.

Kentalnya aura mistisisme Jawa itu setidaknya tercermin saat Kanjeng Ingkang Sinuhun Pakubuwono II memilih Dusun Sala sebagai lokasi pengganti istana dinasti Mataram di Kartasura yang luluh lantak terimbah Geger Pacinan. Para ahli tata negara, pujangga dan ahli kebatinan yang dilibatkan Pakubuwono II dalam memilih lokasi itu bukan hanya mempertimbangkan secara rasional bahwa kawasan Sala di bibir Bengawan Semanggi itu merupakan urat nadi jalur perdagangan yang prospektif.

Pemilihan Dusun Sala sebagai calon lokasi kraton baru Pakubuwono II pada tahun 1743 juga mempertimbangkan sisi sakral-magis. Dusun Sala sangat tepat menjadi lokasi kraton yang bakal berjaya di masa depan. Selanjutnya, sebagaimana dicatat dalam Penget Lan Lelampahanipun Swargi R. Ng. Jasadipura I atau Tus Pajang dan dipublikasikan kembali oleh Panitia Hari Jadi Surakarta pada 1973, nuansa sakral-magis itu tak putus menyertai sepanjang masa persiapan perpindahan kraton dari Kartasura ke Sala.

Ketika hasil pencarian lokasi oleh tim pendahulu dilaporkan kepada Pakubuwono II , sang raja penerus dinasti Mataram Islam tersebut segera memerintahkan beberapa orang abdi dalem untuk meninjau dan memastikan tempat tersebut. Mereka adalah Panembahan Wijil, Abdi Dalem Suranata, Kyai Ageng Khalifah Buyut, Mas Pangulu Fakih Ibrahim, dan Pujangga istana R.T. Tirtawiguna.

Belum lagi sampai di Desa Sala, para utusan tersebut menemukan suatu tempat yang tanahnya berbau harum di barat laut lokasi tujuan mereka, kira-kira di kawasan Gremet sekarang. Lokasi itu kemudian disebut Talawangi, rangkaian kata “tala” yang bermakna “tanah” dan “wangi” yang bermakna “harum”.  Bertambahlan nomine lokasi calon kraton penerus dinasti Mataram Islam.

Sayangnya, tatkala lahan tersebut diukur, ternyata ukurannya dinilai kurang luas untuk lokasi calon istana. Maka, sebagaimana tertulis dalam Tus Pajang, para utusan raja itu kemudian melakukan semadi di Kedung Kol—sekitar kampung Yasadipura sekarang—dengan harapan memperoleh wisik tentang cocok atau tidaknya tempat tersebut dijadikan pusat istana.

Setelah beberapa hari bertapa, mereka memperoleh ilham bahwa Dusun Sala sudah ditakdirkan oleh Tuhan menjadi pusat praja agung kang langgeng atau kerajaan baru yang besar dan bertahan lama. Ilham tersebut selanjutnya memberitahukan agar para utusan menemukan Kyai Gede Sala selaku sesepuh desa di Dusun Sala.

Kyai Gede Sala itulah yang dianggap paling mengetahui tentang sejarah dan cikal bakal Dusun Sala . Pawarti Surakarta terbitan tahun 1939 memberikan catatan khusus bahwa tokoh Kyai Gede Sala ini berbeda dengan Bekel Ki Gede Sala, seorang bekel yang mengepalai Desa Sala pada zaman Pajang, karena Kyai Gede Sala ini adalah orang yang mengepalai Dusun Sala pada zaman kerajaan di Kartasura.

Kepada para utusan raja itu, Kyai Gede Sala lalu menceritakan tentang hal ikhwal perdukuhan di kawasan Sala. Dikisahkannya, pada zaman Pajang (1548 atau 1568 hingga 1586), salah seorang putra Tumenggung Mayang, Abdi Dalem kerajaan Pajang, bernama Raden Pabelan, dibunuh di dalam istana setelah teperggok bermain asmara dengan putri Sekar Kedaton atau Ratu Hemas, putri Sultan Hadiwijaya, raja Pajang. Kisah ini seperti yang dipaparkan Atmodarminto kala mengulas Babad Demak, cerita itu tercatat pula dalam Almanak Cahya Mataram (1919-1922).

Mayat Raden Pabelan selanjutnya dilarung atau dihanyutkan di Sungai Braja di kawasan Laweyan. Jasad itu akhirnya terdampar di tepian sungai, dekat perdukuhan di kawasan Sala. Bekel Ki Gede Sala yang saat itu sebagai bekel penguasa Dusun Sala menemukan mayat tersebut, lalu mendorongnya ke tengah sungai agar kembali hanyut dibawa arus air Sungai Braja.

Baca juga  Kontrak 11 Desember 1749 Serahkan Kedaulatan Mataram kepada VOC

Kendati mayat itu diyakini telah kembali hanyut mengikuti aliran air Sungai Braja, keesokan paginya, Ki Gede Sala kembali menemukan mayat tersebut di tempat yang sama. Maka, sekali lagi mayat itu ia hanyutkan ke sungai. Nyatanya, pagi berikutnya peristi(wa itu berulang lagi. Mayat itu kembali ke tempat semula, sehingga Kyai Gede Sala menjadi sangat heran.

Atas kenyataan itu, Ki Gede Sala pun manages atau memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa atas peristiwa aneh tersebut. Setelah tiga hari tiga malam bertapa, Ki Gede Sala mendapat ilham atau petunjuk. Di tengah tapa bratanya, Ki Gede Sala seakan-akan bertemu dengan seorang pemuda gagah. Pemuda itu mengatakan bahwa dialah sang mayat dan memohon agar jasadnya dikuburkan di situ. Belum sempat Kyai Gede Sala menanyakan asal muasal dan nama pemuda itu, bayangannya telah raib.

Ki Gede Sala pun menuruti permintaan pemuda dalam tapanya tersebut. Mayat pemuda itu dimakamkan di dekat perdukuhan di Sala. Karena namanya tidak diketahui, maka si mati ia sebut batang atau bangkai, sehingga permakamannya disebut Bathangan—sekarang kawasan Beteng Trade Center, Kelurahan Kedung Lumbu. Adanya makam Kyai Bathang, Dusun Sala diklaim Kyai Gede Sala semakin makmur, rakyatnya hidup serba kecukupan dengan tenteram. Atas kisah itu, T. Roorda dalam Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek terbitan 1901 mencatat kata “Sala” sebagai sinonim kata “raharja”.

Penjelasan Kyai Gede Sala terkait perstiwa dua abad sebelumnya itu lalu diteruskan kepada Pakubuwono II di Kartasura, dan raja Dinasti Mataram Islam itu rupanya mantap memilih Sala sebagai lokasi kraton pengganti Kartasura. Segera ia memerintahkan kepada Kyai Tohjaya dan Kyai Yasadipura (I), serta R.T. Padmagara pergi ke Sala untuk mengupayakan agar istana baru bisa dibangun di situ.

Sesampainya Dusun Sala, mereka berjalan mengelilingi rawa-rawa di sekeliling perdukuhan sehingga akhirnya mereka menemukan mata air yang dianggap sebagai sumber Tirta Amerta Kamandanu atau air kehidupan layaknya mitologi Hinduisme. Lagi-lagi penemuan baru berupa mata air tersebut lalu dilaporkan kepada Pakubuwono II di Kartasura.

Laporan tentang penemuan sumber air tersebut tampaknya memantapkan hati raja untuk menjadikan Sala sebagai pusat pemeritahannya. Ia pun bertitah agar pembangunan istana segera dimulai. Atas perintah Sunan, seluruh abdi dalem dan sentana dalem pun berbagi tugas. Abdi Dalem mancanegara Wetan dan Kilen bertugas menyiapkan balok-balok kayu untuk dimasukkan ke dalam rawa di desa Sala sampai penuh. Tujuannya untuk menyumbat pancaran dari mata air yang menyebabkan kawasan itu berawa-rawa.

Pada kenyataannya, meskipun jumlah balok kayu yang ditutupkan telah setara luas lokasi, mata air tak kunjung tersumbat, bahkan airnya semakin deras. “Sanadyan kelebetana sela utawi balok ingkang ageng-ageng ngantos pinten-pinten ewu, meksa mboten saget pampet, malah toya saya ageng ambalaber pindha samodra (Walaupun diberi batu ataupun balok-balik kayu yang besar-besar sampai beribu-ribu banyaknya, terpaksa tidak dapat tertutup, bahkan keluarnya air semakin besar dan menyeruap bagaikan samodra),” dalam Riwayat Raden Ngabehi Yasadipura I (1729-1803) atau Tus Pajang.

Lebih mengherankan, dari sumber air tersebut kemudian keluar berbagai jenis ikan yang biasa hidup di air laut seperti teri pethek, dan sebagainya. Menyaksikan kejadian aneh itu, Panembahan Wijil dan Kyai Yasadipura bertapa selama tujuh hari tujuh malam tanpa makan dan tidur. Akhirnya, pada malam hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon) 28 Sapar, Jimawal 1669 (1743 Masehi), Kyai Yasadipura mendapatkan wisik atau bisikan.

Baca juga  Sejarah Solo (1): Bermula Dari Intrik Antar-Raja

He kang padha mangun pujabrata, wruhanira, telenging rawa iki ora bisa pampet amarga dadi tembusaning samodra kidul. Ewadene yen sira ngudi pampete, kang dadi saranane, tambaken Gong Kyai Sekar Dlima godhong lumbu, lawan sirah tledhek, cendhol mata uwong, ing kono bisa pampet ponang teleng. Ananging ing tembe kedhung nora mili nora pampet, langgeng toyanya tan kena pinampet ing salawas-lawase (Hai, kalian yang bertapa, ketahuilah, bahwa pusat rawa ini tidak dapat ditutup, sebab menjadi tembusannya Lautan Selatan. Namun demikian bila kalian ingin menyumbatnya gunakan Gong Kyai Sekar Delima, daun lumbu (talas), dan kepala ronggeng, cendol mata orang, di situlah pasti berhenti keluarnya mata air. Akan tetapi jika kelak kedung itu tidak mengalir, juga tidak mampet, maka airnya tidak akan bisa disumbat selama-lamanya),” kutip Dwi Prasetyo, pengelola blog  Abdi Dalem dari Pawarti Surakarta terbitan 1939.

Bisikan gaib itu segera saja dilaporkan kepada Pakubuwono II di Kartasura. Mendengar laporan tersebut, Sang Sunan sangat kagum dan setelah berpikir keras akhirnya bersabda, “Tledhek iku tegese ringgit saleksa. Dene Gong Sekar Dlima tegese gangsa, lambe iku tegese uni. Dadi watake bebasan kerasan. Gong Sekar Delima, dadi sekaring lathi, ingkang anggambaraken mula bukane nguni iku Kyai Gede Sala. Saka panimbang iku udanegarane kabener anampi sesirah tledhek arta kehe saleksa ringgit—cendhol mata uwong, mangka liruning kang dadi wulu wetuning desa tekan ing sarawa-rawa pisan (“Tledhek” berarti sepuluh ribu ringgit. gong sekar delima berarti “gangsa”, bibir adalah ujar atau perkataan. Jadi bersifat perumpamaan. Gong sekar delima menjadi buah bibir yang menggambarkan asal mula/cikal bakal [desa] yaitu Kyai Gede Sala. Atas pertimbangan itu sepantasnya menerima ganti uang sebanyak sepuluh ribu ringgit. Sebagai ganti rugi penghasilan desa beserta rawa-rawanya).”

Dalam legenda desa atau Dusun Sala yang dimuat Pawarti Surakarta itu selanjutnya dikisahkan Kyai Gede Sala memperoleh ganti rugi selaksa atau 10.000 ringgit dari raja. Setelah ganti untung itu ditunaikan sang raja, Kyai Gede Sala bertapa di makam Kyai Bathang. Di dalam bertapa itu Kyai Gede Sala memperoleh sekar delima seta atau bunga delima putih dan daun lumbu, sejenis daun talas. Kedua dedaunan tersebut selanjutnya ia masukkan ke dalam sumber mata air.

Debit air mengecil sehingga setiap orang bisa bekerja bersama-sama, gugur gunung menimbun rawa-rawa. Setelah pekerjaan itu rampung, penghuni perdukuhan Sala dipindahkan untuk dimukimkan kembali di tempat lain, dan proyek pembangunan istana pun dimulai. Proyek pembangunan itu ditandai dengan candrasengkala Jalma Sapta Amayang Buwana yang jika dibaca dari belakang ke depan sama nilainya dengan angka tahun 1670 Jawa atau 1744 Masehi.

 

Sumber:

  • Anonimus. 1939. Pawarti Surakarta Mei 1939.
  • Sajid, Raden Mas. 1984. Babad Solo. Sala: Rekso Pustoko Istana Mangkunegara.
  • Samino et. Al.. 2001. Segi Kultural, Relijius Perpindahan Keraton Kartasura ke Surakarta, dalam Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Nomor 4 Tahun III, Jakarta: Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia.
  • Sasrasumarta, R. et al.. 1939. Tus Pajang. Surakarta: N.V. Boedi Oetomo.
  • Prasetyo, Dwi. 2008. [Sejarah] Karaton Surakarta Hadiningrat dalam blog Abdi Dalem. www.blogger.com/feeds/3419156376648513505/posts/default.
  • Purwadi. 2008. Kraton Surakarta: Sejarah, Pemerintaha, Konstitusi, Kesusastraan, dan Kebudayaan. Yogyakarta: Panji Pustaka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here