Sejarah Keraton Solo (2) : Ada Pertimbangan Sakral-Magis di Balik Pemilihan Kraton Sala

“Dhusun Sala prayogine kinaryaa kadhatun, badhe têtêp tulus basuki, yèn lama wimbuh arja, kukuh tur abakuh, mulyaning talatah Jawa, ambêludag dunya sabrang angajawi, sirna lêlakon yuda”

Dusun Sala yang merupakan cikal bakal Kraton Solo dulunya hanya rawa-rawa. Tetapi Kanjeng Ingkang Sinuhun Pakubuwono II tetap memilihnya sebagai lokasi istana pengganti Kraton Kartasura yang dianggap kehilagan wahyu akibat pernah diduduki musuk saat terjadi Geger Pacinan.

Dalam kosmologi Jawa Kuno, seperti diungkapkan pakar sejarah Williem Remmelink, istana raja yang pernah diduduki musuh dianggap telah kehilangan wahyu. Karena itulah, tatkala Keraton Kartasura porak poranda akibat Geger Pacinan, Pakubuwono II yang kala itu berkuasa, memustuskan istananya mesti dipindahkan ke tempat yang dianggap masih murni.

Menurut Williem Remmelink dalam buku Perang Tionghoa dan Runtuhnya Kerajaan Jawa 1725-1745, langkah Paku Buwana II itu tak beda dengan langkah pendahulu dinasti Mataram Islam yang memindahkan Kraton Kotagede ke Pleret, lalu ke Kartasura. Persoalannya kini, hendak di pindahkan ke mana kraton Kartasura?

Dalam menentukan lokasi kraton baru, Pakubowono II melibatkan empat tokoh, yakni sang patih Pangeran Pringgalaya, adipati Puspanagara, Tumenggung Hanggawangsa, dan komandan pasukan Belanda J.A.B. van Hohendorff. Babad Tanah Jawi, Babad Kartasura Pacinan, dan Babad Giyanti yang kerap menjadi acuan penulisan sejarah bbak ini memberikan uraian senada, raja menghendaki istana baru berada di timur istana lama, tak jauh dari sungai Bengawan Solo.

Keinginan Pakubuwono II itu bisa dipahami sebagai wujud trauma atas Geger Pacinan yang membuatnya mengungsi hingga Ponorogo. Dengan menjauh hingga tepi sungai, berarti ia semakin jauh dari para pemberontak yang mungkin saja masih bersembunyi di seputar Kartasura.

Dalam implementasi penentuan lokasi baru kraton dinasti Mataram Islam itu, bukan hanya ahli tata negara yang disebar mencari lahan, namun juga pujangga dan ahli kebatinan. Mereka bersama-sama mencari dan memilih tempat yang cocok untuk istana baru, baik sacara lahiriah maupun batiniah.

Utusan itu terdiri atas Mayor J.A.B. van Hohendorff selaku komandan pasukan Belanda, Adipati Pringgalaya selaku patih jawi atau patih luar, dan Adipati Sindurejo selaku patih lebet atau patih dalam, beberapa orang bupati, serta abdi dalem ahli nujum Kiai T. Hanggawangsa, R.T. Mangkuyuda, dan R.T. Puspanegara. Serat Pindah Kedaton sebagaimana dikutip Suara Merdeka edisi 17 Februari 2006 menyebutkan tiga lokasi mereka usulkan kepada Pakubuwono II, yakni Kadipala, Sala, dan Sana Sewu.

Lahan di Kadipala—kira-kira kini di depan bekas Rumah Sakit Kadipolo atau belakang Taman Sriwedari, wilayah Kota Surakarta sekarang—datar dan kering. Namun, para ahli nujum tidak setuju karena tempat itu tidak memenuhi syarat spiritual atau batiniah. Menurut mereka, jika kraton didirikan di lokasi tersebut, maka kerajaan Jawa itu bisa tumbuh menjadi kerajaan yang besar, berwibawa dan adil makmur, namun akan cepat rusak dan akhirnya runtuh.

R. Ng. Tikno Pranoto dalam buku Sekar Wijaya Kusuma terbitan 1975 mencatat sebagai tanda dipilihnya Kadipala sebagai lahan bakal kraton dinasti Mataram Islam, maka dibangun sebuah panggung yang hingga buku tersebut masih ada meskipun telah dikelilingi bangunan dan gudang kayu jati milik seorang China bernama Jap Kam Mlok.

Baca juga  Peliharaan Raja Solo (3): Alun-Alun Utara Kraton Solo Dikepung Istal Kuda dan Tambatan Gajah

Sedangkan lahan di Sana Sewu, timur Bengawan Solo—kini masuk wilayah Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo—ditolak R.T. Hanggawangsa. Menurutnya, sebagaimana dimuat Pawarti Surakarta edisi tahun 1939 dan dipublikasikan kembali oleh Panitia Hari Jadi Surakarta pada 1973, jika kraton penerus dinasti Mataram Islam dibangun di lokasi itu maka akan terjadi perang saudara dan penduduk Jawa akan kembali memeluk agama Hindu dan Buddha.

Berdasarkan catatan penyusun buku Sejarah Masjid Agung Surakarta, Sana Sewu dicoret sebagai nomine mengingat di desa tersebut banyak penganut agama Buddha. Dalam kaitan program islamisasi yang merupakan tanggung jawab raja Mataram Islam, muncul kekhawatiran lokasi kraton di Bekonang pada akhirnya mengalihkan kepercayaan masyarakat dari agama Islam menjadi Buddha sehingga program islamisasi bakal tersendat.

Versi lain terkait penolakan Bekonang sebagai bakal lokasi kraton penerus dinasti Mataram Islam disampaikan K.R.T.H. Winarnodipuro yang dikutip Suara Merdeka edisi 17 Februari 2006. Menurutnya, wilayah Sana Sewu dinyatakan utusan Pakubuwono II yang ditugasi mencari lahan kraton tidak cocok dari sisi strategi pertahanan.

Sebaliknya dengan Dusun Sala yang diusulkan R.T. Hanggawangsa. Menurut Pawarti Surakarta, kecuali Mayor Hohendorff, lokasi itu disetujui semua utusan raja karena mereka berkeyakinan kraton yang dibangun di situ akan berjaya, berusia panjang, dan jauh dari peperangan. Padahal, menurut pengamatan Hohendorff selaku komandan tentara Belanda, tanah Dusun Sala sangat rusak, terlalu dekat dengan Bengawan Sala, dan daerahnya penuh rawa-rawa nan dalam.

Kendati kondisi geografis dan topografinya dusun yang kini dikenal sebagai Kampung Kedung Lumbu itu kurang mendukung lantaran dipenuhi rawa-rawa, selalu berair, bahkan sebagian masih berupa hutan belukar, nyatanya permusyawaratan para utusan tetap memilihnya sebagai nomine tunggal lokasi pembangunan istana baru. Keputusan itulah yang lalu disampaikan kepada Pakubuwono II di Kartasura.

Arswendo Atmowiloto dalam buku terbitan Pemkot Surakarta yang berjudul Kitab Solo menafsirkan keputusan permusyawaran utusan raja itu didasarkan kenyataan Dusun Solo termasuk lahan yang sudah jadi, dalam arti sudah ada penghuni. Lahan tersebut juga dinilainya sangat prospektif karena dekat dengan sungai besar yang menjadi urat nadi perdagangan, serta mempunyai arti penting dalam hubungan sosial, ekonomi, politik, dan militer antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kala itu, pelabuhan Beton dan Nusupan sudah disinggahi perahu-perahu dari Gresik maupun Surabaya. Catatan Fery Charter abad ke-14 juga menyebutkan Bengawan Sala atau Bengawan Semanggi mempunyai 44 bandar, salah satunya bernama Wulayu atau Wuluyu atau sama dengan Desa Semanggi sebagai bandar ke-44.

Dalam Serat Wicara Keras disebutkan Bengawan Sala disebut juga sebagai bengawannya orang Semanggi. Permukiman di kawasan Semanggi dan sekitarnya, seperti Baturana, dan Babudan (kedua desa yang terakhir merupakan tempat abdi dalem pembuat babud atau permadani pada zaman Kartasura) itu juga bakal menyediakan cukup sumber daya manusia untuk pembangun istana. Istana baru dipastikan cukup luas sehingga pembangunannya membutuhkan cukup banyak tenaga kerja.

Baca juga  Peliharaan Raja Solo (4) : Pakubuwono IV Selamatkan Binatang Liar Kraton Kartasura

Desa Sala sendiri pada zaman Pajang berada di bawah kekuasaan bekel Kyai Sala. Alasan politis juga dapat dimasukkan, terutama dalam menjaga kepentingan VOC. Untuk mengawasi Mataram maka VOC membangun benteng di pusat kota Mataram yang mudah dijangkau dari Semarang sebagai pintu gerbang ke pedalaman.

Sementara itu, sejarawan Kuntowijoyo mengungkap dugaan pemilihan Sala sebagai calon ibu kota pengganti Kraton Kartasura didasari pula pemikiran yang bersifat sakral-magis. Menurutnya, pemilihan lahan kraton di dekat Kedung Lumbu cenderung dipengaruhi pemikiran irasional sesuai kepercayaan Jawa Kuno, yakni lahan di sekitar tempuran atau tempat bertemu dua sungai seperti Sala yang diapit Kali Pepe dengan Bengawan dipercaya berdaya magis tinggi.

Terkait pertimbangan sakral-magis itu, Babad Solo karya Raden Mas (R.M.) Sajid terbitan Rekso Pustoko, 1984, bahkan mengisahkan seolah-olah Sri Susuhunan Pakubuwono II mempercayakan pencarian lokasi kraton baru pengganti Kraton Kartasura kepada kerbau-kerbau bule kesayangannya. Dikisahkan, saat kembali dari pengungsian di Ponorogo, Pakubuwono II diberi tombak dan kebo bule bernama Kyai Slamet oleh Bupati Ponorogo. Konon kerbau itu memiliki kemampuan sakral-magis kuat.

Apapun pertimbangannya, jika ditilik dari kenyataan Kraton Solo kini telah berusia lebih dari 200 tahun, tampaknya optimisme Hanggawangsa—atau lebih kerap ditulis Honggowongso—itu bukan isapan jempol. Optimisme Hanggawangsa atas masa depan Dusun Sala itu dicatat Yasadipura—atau kerap pula ditulis sebagai Yosodipura—dalam Babad Giyanti, “Dhusun Sala prayogine kinaryaa kadhatun, badhe têtêp tulus basuki, yèn lama wimbuh arja, kukuh tur abakuh, mulyaning talatah Jawa, ambêludag dunya sabrang angajawi, sirna lêlakon yuda.”

 

Sumber:

  • Anonimus, 1820. Babad Giyanti. Surakarta: N.V. Boedi Oetama
  • Anonimus. 1939. Pawarti Surakarta Mei 1939.
  • Atmowiloto, Arswendo. 2009. Kitab Solo. Surakarta: Badan Informasi dan Komunikasi Pemerintah Kota Surakarta.
  • Sajid, Raden Mas. 1984. Babad Solo. Sala: Rekso Pustoko Istana Mangkunegara.
  • Samino et. Al.. 2001. Segi Kultural, Relijius Perpindahan Keraton Kartasura ke Surakarta, dalam Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Nomor 4 Tahun III, Jakarta: Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia.
  • Sastrawikrama, Mas Ngabei. 1926. Serat Wicara Keras. Kediri: Tan Gun Swi.
  • Suara Merdeka. 2006. Dandanggula Dilantunkan, Suasana pun Hening: Peringatan 261 Tahun Kepindahan Keraton. Suara Merdeka edisi 17 Februari 2006.
  • Wibisono, Rahmat (ed). 2014. Sejarah Masjid Agung Surakarta. Surakarta: Pengurus Masjid Agung Surakarta.
  • Yasadipura I, Raden Ngabei. 1937. Babad Giyanti. Betawi Sentrem: Bale Pustaka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here