Riwayat Pakubuwono V : Sunan Sugih Lama Belajar, Singkat Menjabat

Lahir 13 Desember 1784
Naik tahta 10 Oktober 1820
Wafat 5 September 1823
Ayah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana IV
Ibu R.Ay. Handoyo/B.R.Ay. Adipati Anom/Kangjeng Ratu Pakubuwono
Nama kecil Raden Mas Gusti Sugandi
Gelar pangeran Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram III
Gelar lengkap Sampeyan Dalam Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhanan Prabu Sri Paku Buwana V Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Saiyiduddin Panatagama
Julukan Sunan Sugih/Sinuhun Ngabehi
Istri 3 orang, yakni Ratu Kencana, Ratu Mas Agung, Raden Ayu Sasra Kusuma
Anak 55 orang

Baru 1,5 tahun usia R.M.G. Sugandi tatkala ibundanya, Raden Ajeng Handaya bergelar B.R.Ay. Adipati Anom meninggal dunia. Ayahandanya, K.G.P.A. Anom Sudibya Rajaputra Narendra Mataram II, pewaris urutan pertama raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dirundung duka cita mendalam.

Demi wibawa raja, tiga tahun setelah Pangeran Adipati Anom dinobatkan sebagai Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana IV, raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, ia menyunting Raden Ajeng Sakaptina, adik Raden Ajeng Handaya. Raden Ajeng Sakaptina juga berstatus permaisuri, bergelar Ratu Kencana Wungu Adimurti atau Kanjeng Ratu Agung,

Kendati telah menikah lagi, limpahan kasih Pakubuwono IV kepada bocah buah kasihnya dengan mendiang Ratu Pakubuwono tak berkurang. Belum sampai satu tahun setelah ia melakoni pernikahan yang dalam budaya Jawa lazim disebut pernikahan ngrangulu itu, Pakubuwono IV mengangkat Sugandi sebagai pangeran adipati anom atau putra mahkota bergekar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram III.

Sebaliknya, Sugandi yang sejak kecil tak merasakan belaian kasih sayang ibundanya, menyambut baik pernikahan ayahandanya. Ia bahkan menghormati dan menyayangi bibi yang kini menjadi ibunya, Ratu Kencana Wungu, layaknya ibunya sendiri. Bahkan meskipun Ratu Kencana Wungu kemudian melahirkan Pangeran Purboyo dan GKR Pembayun sebagai buah cintanya dengan Pakubuwono IV.

Baca juga  Santosa Doellah: Penjaga Tradisi Batik

Dalam limpahan kasih ayahanda dan ibu tirinya, Pangeran Adipati Anom Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram III tumbuh dewasa. Begitu dikhitan, ia digembleng pendidikan dari para abdi dalem yang dianggap kompeten oleh ayahandanya, Sunan Bagus yang juga dikenal berwawasan luas dan dalam pula ilmu agamanya. Pakubuwono bahkan tak segan mengajari langsung putra mahkotanya yang belum genap 10 tahun usianya itu.

Pelajaran katuranggan, keprajuritan, ketatanegaraan, dan sebangsanya ia lakoni. Pengetahuan kesusastraan, dan karawitan juga ia lahap. Jadilah ia sebagai pribadi yang bukan hanya berwawasa luas layaknya ayahandanya, tetapi juga terampil dalam kasamaptaan hingga berkesenian.

Layaknya ayahnya yang produktif menulis karya sastra, ia juga melahirkan karya sastra yang kelak termasyur sebagai ensiklopedia ilmu pengetahuan berjudul Serat Centhini. Serat Centhini itu didasarkannya berbagai pengetahuan dan pengalamannya selama menjadi adipati anom yang dicatat oleh juru tulis kraton, Raden Rangga Sutrasna.

Bukan hanya memerintahkan pembuatan karya sastra seperti ayahandanya, Pangeran Adipati Anom juga terampil membuat keris. Keris yang ia buat dari serpihan logam meriam Kyai Guntur Geni—meriam yang gunakan Sunan Pakubuwana II saat masih mempertahankan Kraton Kartasura saat Geger Pacinan—begitu indah sehingga membuat ayahandanya terkesiap. Pakubuwono IV bahkan meminta keris itu dijadikan pusaka kerajaan dan diberi nama Kanjeng Kyai Kaget. Nama Kyai Kaget didasarkan Pakubuwono IV pada rasa yang ia alami saat mengetahui putranya bisa menghasilkan keris dengan keindahan luar biasa.

Begitu besar cinta kasih sang ayah sehingga ia pula yang mencarikan istri bagi putra mahkotanya, putri Raden Mas Haryo Joyodiningrat, kerabat Kasunanan Surakarta Hadiningrat, pada 1807. Selain permaisuri bergelar Ratu Kencana, adipati anom yang terlahir dengan nama Sugandi itu masih sempat dua kali menikah, yakni dengan Ratu Mas Agung dan Raden Ayu Sasra Kusuma.

Baca juga  Serat Wulang Dalem Karya Pakubuwono IV Diterbitkan 1900

Bekal kehidupan yang diberikan Pakubuwono IV bagi putranya yang mewarisi kekayaan kecendikian dan takhtanya tak kurang, sehingga R.M. Sugandi telah siap melanjutkan kepemimpinan di Kasunanan Surakarta Hadiningrat tatkala Pakubuwono mangkat 1 Oktober 1820. R.M. Sugandi dinobatkan sebagai Sampeyan Dalam Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhanan Prabu Sri Pakubuwono  V Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Saiyiduddin Panatagama dalam usia 36 tahun pada 10 Oktober 1820, atau sembilan hari setelah kematian ayahandanya.

Sayangnya persiapan yang begitu panjang untuk menjadi raja, tak bisa cukup panjang digunakan Pakubuwono V yang juga dikenal sebagai Sunan Sugih atau Sinuhun Ngabehi karena dianggap sebagai raja yang kaya harta dan kesaktian. Ia hanya memerintah selama tiga tahun karena mangkat pada tanggal 5 September 1823 dalam usia 39 tahun dengan meninggalkan 45 putra dan putri.

 

Sumber:

  • Pakempalan Ngarang Serat ing Mangkunagaran. 1918. Babad Panambangan, Commisie voor de Volkslectuur. Serie No. 392. Weltepredhen: Indonesise Drikkere.
  • Pakubuwono IV. 1931. Serat Wulang Reh. Kediri: Tan Gun Swi.
  • Pakubuwono IV. 1900. Serat Wulang Dalem dalam Bendhel Serat Warni-warni Angabei IV.
  • Prajaduta, Mas Ngabei. Et. Al. 1939. Pustaka Sri Radyalaksana. Surakarta: N.V. Boedi Oetomo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here