Riwayat Pakubuwono IV (1): Tak Gentar Pakepung, Namun Terkungkung VOC

Sri Susuhunan Pakubuwono IV (id.rodovid.org)
Sri Susuhunan Pakubuwono IV (id.rodovid.org)
Lahir 31 Agustus 1768 atau 2 September 1768
Naik tahta 29 September 1788
Wafat 1 Oktober 1820
Ayah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana III
Ibu Kangjeng Ratu Beruk
Nama kecil Raden Mas Gusti Subadaya
Gelar pangeran Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram II
Gelar lengkap Sampeyan Dalam Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhanan Prabu Sri Pakubuwana IV Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Saiyiduddin Panatagama
Julukan Sunan Bagus
Istri 5 orang, yakni Raden Ajeng Andaya/Kanjeng Ratu Adipati Anom, Raden Ajeng Sakaptina/Kanjeng Ratu Kencana Wungu Adimurti/Kanjeng Ratu Agung, Kanjeng Ratu Purbayun, Kanjeng Ratu Kencana/Narang Ngulu, Raden Ayu Rantamsari/Mas Ayu Rantansari.
Anak 56 orang

Raden Mas Gusti Subadaya, putra ke-17 Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana III dari permaisuri kedua, Kanjeng Ratu Beruk, ditasbihkan sebagai raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan gelar Sampeyan-Dalam Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhanan Pakubuwono IV pada 29 September 1788. Saat itu, Kraton Solo mengalami penurunan legitimasi dan kewibawaan.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

Perjanjian Giyanti yang diteken ayahandanya, Pakubuwono III, pada 13 Februari 1755, membuat Kasunanan Surakarta Hadiningrat bukan lagi satu-satunya kerajaan penerus dinasti Mataram seiring munculnya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang dipimpin Sultan Hamengkubuwono. Dua tahun setelah Perjanjian Giyanti diratifikasi, tepatnya pada 17 Maret 1757, Pakubuwono III kembali meneken Perjanjian Salatiga yang membuat Raden Mas Said yang semula memberontak menjadi pangeran mijil bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati (KGPAA) Mangkunegara, suatu kedudukan yang sama derajatnya dengan putra mahkota di Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Pakubuwono IV yang kala itu berusia 19 tahun mestinya tahu benar situasi yang harus ia hadapi. Cukup banyak sumber tertulis yang bisa menyadarkannya atas peristiwa pembagian kerajaan Mataram yang oleh masyarakat Jawa dikenal dengan sebutan palihan nagari itu. Buruknya kondisi tersebut diperparah dengan semakin meningkatnya dominasi pemerintah bentukan serikat dagang Belanda dalam persoalan intern kraton sebagai implementasi perjanjian penyerahan kedaulatan kerajaan yang diteken kakeknya, Pakubuwono II, pada 11 Desember 1749.

Padahal beberapa personel kongsi dagang Belanda di Hindia Timur, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), yang berinteraksi dengan Kraton Solo dicatat M.C. Ricklefs, profesor Sejarah di Universitas Nasional Singapura dalam bukunya, A History of Modern Indonesia since c. 1200, sebagai personel paling korup dan tidak cakap menjalankan tugas mereka. Kondisi itu membuat kehidupan di lingkungan Kraton Solo yang diwariskan ayahnya—yang dikenal lemah pendirian sehingga mudah terpengaruh bisikan VOC—kental dengan aroma ketegangan dan persekongkolan.

Menyadari kondisi tak menguntungkan tersebut, Pakubuwono IV bertekad mengembalikan kewibawaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Karena itulah, sejak awal memerintah, kebijakan politik Pakubuwono IV selalu tampak mengarah kepada upaya-upaya menjatuhkan Kasultanan Yogyakarta dan melepaskan diri dari tekanan pemerintah kolonial bentukan VOC.

Pada awal tahun 1789, Pakubuwono IV bahkan mulai mengangkat kelompok baru yang lebih ia percaya untuk menduduki jabatan-jabatan tinggi. Orang-orang ini menganut ide-ide keagamaan yang menurut Ricklefs ditentang oleh hierarki keagamaan yang sudah mapan di Surakarta.

Baca juga  Eko Supriyanto: Menari dengan Hati

Mengutip Serat Wicara Keras karya Mas Ngabei Sastrawikrama alias Yasadipura III, Ricklefs memaparkan kelompok keagamaan yang telah mapan di Surakarta menuduh kelompok baru yang mengaku sebagai bagian dari tarekat sufi Shatariyya itu sebagai kelompok sesat. Tudingan itu rupanya didasarkan kelompok yang tersisih itu pada upaya kelompok baru itu meyakinkan Pakubuwono IV bahwa Kasunanan Surakarta Hadiningrat bisa mengukuhkan diri sebagai kerajaan Jawa yang lebih senior.

Pemikiran semacam itu dianggap mengancam asas kesetaraan yang mendasari pembagian permanen antara Surakarta dan Yogyakarta. Itu juga berarti mengancam pengaruh VOC di lingkungan Kraton Solo. ”Dia [Pakubuwono IV] membawa aspirasi-aspirasi yang tidak realistis,” nilai Ricklefs yang lahir di Australia namun mengambil gelar doktornya di Cornell University Amerika Serikat.

Menanggapi perkembangan di Kraton Solo, masih menurut Ricklefs, Kasultananan Yogyakarta merasa yakin bahwa Pakubuwana IV sedang merencanakan perang untuk mempersatukan kembali kerajaan Mataram. Padahal, langkah militer sesungguhnya tidaklah akan diambil, karena Pakubuwono IV ingin mewujudkan cita-citanya dengan jalan mendesak VOC agar mengakui kedudukan utama Kasunanan Surakarta Hadiningrat di antara kerajaan-kerajaan penerus dinasti Mataram.

Nyatanya, desas-desus mulai tersebar dan membikin gentar pelbagai pihak. Adipati Mangkunegara mulai mencemaskan masa depannya sendiri dan keturunannya. Sultan Yogyakarta merasa khawatir akan stabilitas pembagian kerajaan. Sedangkan, tokoh-tokoh senior Kasunanan Surakana yang tersisih mencemaskan nasib mereka dan nasib kerajaan. Muaranya, mereka semua mulai berusaha mengajak VOC bergabung melawan Pakubuwono IV.

Gubernur wilayah pesisir timur laut VOC sejatinya mengetahui bahwa perbuatan Residen Surakarta, W.A. Palm, yang korup dan pemeras telah memicu timbulnya rasa benci Pakubuwono IV terhadap bangsa Eropa. Meski demikian, baru pada bulan Juli 1789, pejabat tinggi Belanda itu menyadari adanya suatu ancaman, yakni setelah berembusnya desas-desus hahwa Pakubuwono IV dan para penasihatnya yang baru itu kemungkinan merencanakan suatu pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang Eropa di Jawa. Terlebih lagi, pada suatu malam di bulan September 1789, residen VOC di Surakarta, Andries Hartsinck, diketahui pergi menghadiri suatu pertemuan rahasia di istana dengan mengenakan busana Jawa.

Kendati menyadari bahwa kebenaran desas-desus tentang rencana pembantaian terhadap orang-orang Eropa itu mungkin saja tidak benar, VOC menurut Ricklefs, tetap saja merasa khawatir ancaman itu benar-benar terjadi. Di samping itu, meskipun peranan Hartsinck tidak pernah dijelaskan seluruhnya, VOC tetap saja waswas pengkhianatan bahkan telah menyusup ke dalam benteng mereka di Surakarta. Alhasil, VOC mulai panik, gentar hanya karena desas-desus yang berkembang.

Disadari pula oleh VOC bahwa Hamengkubuwono I sebagai salah satu mitra terpecaya mereka sudah tua dan kadang kala jatuh sakit. Pemerintah kolonial Belanda bentukan VOC khawatir wafatnya Hamengkubuwono I bakal memicu krisis pergantian raja di Yogyakarta yang memberikan alasan kepada Kasunanan Surakarta untuk melakukan intervensi militer. Kekhawatiran itu pun dimanfaatkan Kasultanan Yogyakana untuk mempercayakan VOC agar segera mengambil langkah-langkah militer guna menghentikan rencana-rencana Pakubuwono IV.

Baik Hamengkubuwono maupun Mangkunegara rupanya sama-sama percaya bahwa ancaman yang mungkin timbul dari rencana Pakubuwono IV itu akan sedemikian dahsyatnya. Sehingga, sebagaimana  dicatat Ricklefs dalam terjemahan bukunya yang terbit dengan judul Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, untuk kali pertama dalam hampir 40 tahun, mereka bersepakat bekerja sama.

Baca juga  Sejarah Keraton Solo (6) : Megahnya Kirab Agung Perpindahan Kraton dari Kartasura ke Sala…

Mangkunegara selanjutnya diganjar VOC 4.000 ringgit setiap tahun guna membebaskan diri dari ketergantungan kepada Pakubuwono IV dan demi memastikan dukungannya terhadap tindakan-tindakan VOC. Pada tahun 1792, VOC bahkan menetapkan bahwa keturunan Mangkunegara I akan mewarisi daerah kekuasaannya yang terdiri atas 4.000 cacah. Dengan demikian, Kadipaten Mangkunegaran kini menjadi suatu lembaga yang permanen.

Peta rekonstruksi Kota Solo sekitar tahun 1900 (Tesis Eko Adhy Setiawan)
Peta rekonstruksi Kota Solo sekitar tahun 1900 (Tesis Eko Adhy Setiawan)

Selanjutnya, pada November 1790, musuh-musuh Pakubuwana IV itu mulai mengepung Kraton Solo. Beberapa ribu prajurit dari Yogyakarta dan daerah kekuasaan Mangkunegara mengambil posisi di sekitar Surakana. VOC mengirim ratusan serdadu Madura, Bugis, Melayu, dan Eropa ke bentengnya yang berada di dalam Kota Solo. Sementara itu, di dalam kraton, para pangeran dan pejahat tinggi senior Surakarta menambah tekanan terhadap Pakubuwono IV supaya menyingkirkan penasihat-penasihat barunya dan meninggalkan rencana-rencana rnereka sebelum mereka membuat kerajaan hancur.

Merasa berada di atas angin, Sultan Hamengkubuwono mulai berpikir kembali tentang kemungkinan melakukan penggabungan kerajaan di bawah kekuasaannya. Maka, ia pun mengajukan permintaan kepada VOC agar putra mahkotanya dijadikan raja di Surakarta seandainya Pakubuwono  IV dimakzulkan. Tetapi, VOC menolak permintaan itu karena diam-diam telah memutuskan untuk mengakui Mangkunegara I sebagai Raja Surakarta seandainya Pakubuwana IV nanti dimakzulkan.

Ancaman VOC, Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Mangkunegaran terhadap Kasunanan Surakarta yang dicatat para sejarawan sebagai Peristiwa Pakepung itu sepertinya tak membikin gentar Pakubuwono IV. Pasukan serta meriam telah ia siagakan. Namun bujukan kerabatnya seperti Pangeran Arya Purubaya dan Raden Adipati Jayaningrat sebagaimana tercatat dalam Babad Panambangan yang membuatnya memenuhi kemauan VOC dan musuh-musuhhnya yang lain.

Pada 26 November 1790, dia menyerahkan para penasihat barunya itu kepada VOC yang segera saja mengasingkan mereka. Sebagaimana desakan para kerabatnya, Pakubuwono IV bahkan memohon pengampunan kepada VOC, dan permohonan ampun itu dengan cepat dikabulkan oleh VOC.  Rupanya, VOC merasa lega karena tidak jadi mengeluarkan biaya perang seiring kembalinya pengaruh generasi tua dengan pemikiran lama Kasunanan Surakarta. Kondisi itu juga berarti pembagian wilayah kerajaan-kerajaan Jawa Tengah telah dipermanenkan sehingga lestarilah kekuasaan VOC atas Pulau Jawa.

 

Sumber:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here