Riwayat Pakubuwono III (1): Perjanjian Giyanti Diteken, Mataram Punya 2 Istana

Sri Susuhunan Pakubuwono III (rodovid.org)
Sri Susuhunan Pakubuwono III (rodovid.org)
Lahir 24 Februari 1732
Naik tahta 15 Desember 1749
Wafat 26 September 1788
Ayah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana II
Ibu Raden Ayu Sukiya/Subiya/Kanjeng Ratu Kencana/Ratu Mas
Nama kecil Raden Mas Suryadi atau Raden Mas Gusti Surya Kusuma
Gelar pangeran Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram
Gelar raja Sampeyan Dalam Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhanan Prabhu Sri Pakubuwana III Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Saiyiduddin Panatagama
Julukan Sunan Prabhu Suwarga
Istri 14 orang, yakni Kanjeng Ratu Beruk, putri patih Raden Adipati Natakusuma, Raden Ayu Kilen, Ratu Ratna Dewati, Mas Ayu Rantansari, Mas Ayu Ranggasari, Mas Ajeng Wilarsa, Mas Ajeng Wisarsa, Mas Ajeng Gandavati, Mbok Ajeng Bungkul, Mbok Ajeng Jenjem, Mbok Ajeng Timbreng, Mbok Ajeng Wilet, Mbok Ajeng Tingah, Mbok Ajeng Temu
Anak 46 orang

Raden Mas Suryadi atau Raden Mas Gusti Surya Kusuma lahir di Kraton Kartasura Hadiningrat. Bersama ayah dan ibunya, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana II dan permaisuri Kanjeng Ratu Kencana yang akrab juga disapa Ratu Mas, ia datang ke Dusun Sala dalam arak-arakan kirab agung perpindahan kraton, 17 Februari 1745.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

Di kraton baru di Dusun Sala bikinan ayahandanya itulah, R.M. Suryadi dinobatkan sebagai raja bergelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana III, 15 Desember 1749. Kala itu, usianya masih 17 tahun. Ia adalah raja pertama yang dinobatkan di Kraton Solo, sekaligus raja pertama penerus dinasti Mataram yang dilantik oleh pemerintah bentukan kongsi dagang Belanda di Hindia Timur, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).

Penobatan R.M. Suryadi sebagai raja itu dilakukan Joan Andries Baron van Hohendorff, gubernur VOC untuk pesisir Jawa bagian timur laut. Hohendorff yang juga rekan seperjuangan Pakubuwono II dalam mempertahankan Kraton Kartasura itu datang ke Solo setelah mendengar kabar sakitnya Pakubuwono II. Hohendorff bermaksud menjadi saksi VOC atas suksesi raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Karena situasi kerajaan tengah bergolak akibat kudeta Mas Said dan intrik politik adiknya, Pangeran Mangkunagara, maka Pakubuwana II tak menyianyiakan kehadiran Hohendorff. Ia mempercayakan keselamatan Kasunanan Surakarta Hadiningrat kepada Van Hohendorff.

Permintaan Pakubuwono II kepada Hohendorff itu dicatat M.C. Ricklefs, profesor Sejarah di Universitas Nasional Singapura, mengejutkan Hohendorff. Meski demikian ia tak tanggung-tanggung menanggapi. Hohendorff mengunci kepercayaan Pakubuwono II itu sesuai kepentingan VOC. Dibuatnya surat perjanjian yang memberikan hak penuh kepada VOC atas seluruh wilayah kerajaan, termasuk melantik raja-raja penerus dinasti Mataram.

Baca juga  Riwayat Pakubuwono IV (3): Sunan Bagus nan Romantis, Cintai Permaisuri hingga Akhir Hayat

Surat perjanjian yang diteken Pakubuwono II pada tanggal 11 Desember 1749 itu bukan hanya menjamin keselamatan regenerasi kepempinan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, namun juga menggadaikan kedaulatan kerajaan-kerajaan penerus dinasti Mataram yang muncul kemudian, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Ketentuan ini kelak baru berakhir setelah zaman berganti, yakni di kala wilayah kerajaan-kerajaan itu berdaulat di bawah wilayah negara Indonesia.

Penobatan R.M. Suryadi sebagai Susuhunan Pakubuwana III pada 15 Desember 1749 adalah penerapan pertama isi surat perjanjian tersebut. Tetapi, sebelum Hohendorff sempat mengumumkan penobatan R.M. Suryadi  itu, pada 12 Desember 1749, Pangeran Mangkubumi di Yogyakarta telah mengukuhkan diri sebagai Susuhunan Pakubuwono pengganti kakaknya.

Sembilan hari setelah surat perjanjian dibuat, atau delapan hari setelah Pangeran Mangkubumi mengukuhkan diri sebagai Susuhunan Pakubuwono, atau lima hari setelah Hohendorff melantik R.M. Suryadi sebagai Susuhunan Pakubuwana III, Pakubuwono II mangkat. Kini, ada dua Susuhunan Pakubuwana di Bumi Mataram.

Belakangan, Mangkubumi mengganti gelarnya dengan Sultan Hamengkubuwono yang digunakan pula oleh seluruh raja keturunannya. Berdasarkan catatan Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern 12002008, raja yang tidak didukung VOC ini sangat kuat, baik dalam bidang keuangan maupun militer. Bahkan, VOC pun tak mampu menundukkan kaum pemberontak yang berbasis di Yogya ini.

Di Kraton Solo, Pakubuwono III bagaikan dikepung musuh. Dari timur Mas Said merongrong, di barat Hamengkubuwono mengintai. Bahkan pada 1750, Mas Said yang telah menjabat sebagai Patih Mangkubumi menyerang Surakarta sehingga menimbulkan kerugian besar bagi VOC.

Setelah terjadi perpecahan antara Mangkubumi dan Mas Said pada tahun 1752, Mangkubumi mengusahakan perundingan-perundingan. Gubernur baru untuk wilayah pesisir timur laut, Nicolas Hartingh, diberi wewenang VOC menenangkan Mangkubumi dengan menawarkan sebagian Jawa kepadanya.

Tak mudah bagi Hartingh bertindak sebagai penengah di antara kedua raja. Setelah berkali-kali berunding, barulah Pakubuwono III menerima gagasan VOC untuk memecah dua wilayah kerajaannya. Kesepakatan itu dicapai dalam perundingan di Dusun Giyanti, tenggara Karanganyar, Jawa Tengah, pada 13 Februari 1755.

Bagi Hamengkubuwono I, Perjanjian Giyanti—ada pula yang menuliskan dalam ejaan Gianti—itu, adalah pengakuan VOC dan Kasunanan Surakarta Hadinigrat atas penguasa separuh wilayah Jawa Tengah di barat Kali Opak. Di sisi lain, bagi Mas Said, Perjanjian Giyanti menjadikannya musuh bersama VOC, Pakubuwana III, dan Hamengkubuwana I.

Baca juga  Kontrak 11 Desember 1749 Serahkan Kedaulatan Mataram kepada VOC

Sepulang Hamengkubuwono I ke Yogya, ia mendirikan sebuah istana dan memberikan nama baru kepada kota itu, Yogyakarta. Kini raja-raja penerus dinasti Mataram punya dua istana raja dengan sejumlah pusaka peninggalan leluhur yang sama. Bahkan untuk pusaka tertentu seperti gamelan sekaten pun harus dipecah dua demi legitimasi kedua istana itu.

Di sisi lain, Mas Said tak henti memerangi Pakubuwana III, dan Hamengkubuwana I, dan VOC. Meskipun pasukan Pakubuwana III, dan Hamengkubuwana I, dan VOC tak mampu menawannya, Mas Said tampaknya menyadari betapa berat lawannya kini. Maka, ia pun menggagas perundingan.

Susutnya wilayah Mataram dari waktu ke waktu (A. Algra en H. Algra, Dispereert niet. Deel 4)
Susutnya wilayah Mataram dari waktu ke waktu (A. Algra en H. Algra, Dispereert niet. Deel 4)

Puncaknya, di Salatiga, pada Februari 1757, setelah menyerah kepada Pakubuwono III, ia mengucapkan sumpah setia kepada Surakarta Hadiningrat, Yogyakarta Hadiningrat, dan VOC. Sebagai kompensasi, ia mendapatkan tanah berikut 4.000 cacah dari Pakubuwono III. Sedangkan dari Hamungkubuwono I, ia tak mendapatkan apa-apa.

Sejak itu, Mas Said resmi pula menjadi Pangeran Adipati Mangkunegara I. Meskipun memiliki wilayah kekuasaan di bawah wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, namun hingga saat itu belum dipastikan apakah keturunan Pangeran Adipati Mangkunegara I kelak bisa mewarisi seluruh aset tersebut.

Tuntas sudah rangkaian konflik yang oleh sebagian sejarawan dijuluki Perang Suksesi Jawa III itu. Selesai sudah rongrongan bagi Kasunanan Surakarta Hadingrat meskipun Pakubuwono III harus membayar mahal dengan separuh wilayah kerajaannya dan membiarkan Mangkunegara I menguasai sebagian lain wilayah yang tersisa.

 

Sumber:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here