Riwayat Pakubuwono II (3): Kraton Solo Didirikan, 29 Putra-Putri Jamin Kasunanan Surakarta Lestari

Sri Susuhunan Pakubuwana II (Id.wikipeda.org)
Sri Susuhunan Pakubuwana II (Id.wikipeda.org)
Lahir 8 Desember 1711
Naik tahta 15 Agustus 1726
Wafat 20 Desember 1749
Ayah Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Prabu Mangkurat Jawa, Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalipatullah ing Kartasura
Ibu Ratu Amangkurat atau Ratu Kencana atau Ratu Ageng
Nama kecil Raden Mas Prabasuyasa
Gelar penobatan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana II
Gelar lengkap Sampeyan Dalam Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhanan Prabhu Sri Pakubuwana II Senapati ing Alaga Ngabdulrahman Saiyiduddin Panatagama
Istri Raden Ayu Sukiya/Subiya/Kanjeng Ratu Mas/Kanjeng Ratu Kencana, Ratu Mas Wirasmara, putri Pangeran Arya Adipati Dipanegara, Raden Ayu Tambelek, Raden Ayu Gedhong, putri Pangeran Arya Mataram
Anak 29 orang (11 putra dan 18 putri)

Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana II harus menerima kenyataan hilangnya wahyu kedaton. Serupa dengan pendahulunya, Susuhunan Amangkurat II (1677-1703), yang harus menerima kenyataan bahwa istananya di Pleret telah jatuh ke tangan Trunajaya dan sekutunya, medio 1677. Istana Pakubuwono II dikuasai warga etnis Tionghoa yang semula memberontak terhadap pemerintah kolonial.

Raja Kartasura Hadiningrat itu bahkan harus menyingkir hingga ke Ponorogo gara-gara peristiwa yang dikenal sebagai Geger Pacinan menular dari Batavia. Para pemberontak yang dimotori warga etnis Tionghoa meluluhlantakkan kratonnya. Setelah 70 tahun lamanya, Kraton Kartasura yang didirikan di Desa Wanakerta oleh Amangkurat II sebagai pengganti istana di Pleret itu harus kembali ditinggalkan.

Maka, sebagai kerap dituliskan dalam babad, serat, atau sumber sejarah lain, begitu kembali ke istana dari pengungsian, pada pengujung 1742, Pakubuwono II menitahkan pemindahan istana demi kembalinya wahyu kedaton. Ke arah timur, mendekati Bengawan.

Tim pencari calon lokasi dibentuk dari pucuk pimpinan istana, ditambah wakil Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang pada kenyataannya lebih berkuasa daripada sang raja. Butuh waktu berbulan-bulan untuk menentukan lokasi kraton baru itu, hingga akhirnya Pakubuwono II menjatuhkan pilihan ke Dusun Sala.

Baca juga  Riwayat Pakubuwono V : Sunan Sugih Lama Belajar, Singkat Menjabat

Sekitar delapan bulan dibutuhkan untuk membangun kompleks istana baru, itu pun pekerja kerap kali dikerahkan siang malam, hingga akhirnya pada 1745, abdi dalem melapor kepada Pakubuwono II bahwa proyek pembangunan Kraton Solo kelar. Pakubuwono II pun menginstruksikan perpindahan kraton dari Kartasura ke Dusun Sala dilaksanakan sesuai tradisi para raja terdahulu memindahkan kraton-kraton mereka.

Ibu kota itu ia pindahkan dengan prosesi kirab agung yang melibatkan seluruh warga Kraton Kartasura. Singasana, bedug masjid, benda-benda pusaka, perabot dapur, hingga hewan ternak dibawa serta dalam kirab dari pagi hingga lewat tengah hari itu.

Pasewakan agung atau upacara menghadap raja yang digelar untuk kali pertama di kraton baru menutup rangkaian pelaksanaan kirab agung. Pakubuwono II, sebagaimana dikutip Pawarti Surakarta terbitan 1939 dari catatan Yasadipura I atau Tus Pajang, memproklamasikan Negara  Surakarta Hadiningrat dalam pasewakan agung tersebut.

Di daerah baru itu, wahyu diharapkan terus memayungi kedhaton. Bahkan meskipun situasi di seputaran Desa Sala, kala itu, juga belum aman benar. Komite Yasadipuran I dalam Penget Lan Lelampahanipun Swargi R. Ng. Jasadipura I atau Tus Pajang mencatat kondisi di seputaran Dusun Sala saat kepindahan kraton tersebut belum tenteram benar, di mana-mana masih kerap terjadi keributan atau pertengkaran.

Maklum saja, walaupun R.M. Garendi alias Sunan Kuning yang pendukungnya sempat menguasai Kraton Kartasura sudah ditundukkan, namun pada saat itu masih berkeliaran beberapa pangeran yang terlibat dalam pemberontakan. Di antara mereka ada Mas Said yang kelak menjadi Pangeran Mangkunagara I. Ada pula Pangeran Mangkubumi yang lebih berpengaruh dan kelak menjadi Sultan Hamengkubuwono I.

Nyatanya, dibandingkan dengan Kraton Kartasura yang pernah diduduki musuh, kraton baru dinasti Mataram Islam di Dusun Sala itu lebih menyimpan optimisme akan masa depan yang lebih baik. Terbukti, selama lebih dari 200 tahun trah Pakubuwono beregenerasi, Kasunanan Surakarta Hadiningrat tetap mampu menjawab tantangan zaman.

Baca juga  Pahargyan Surakarta 200 Tahun Dimuat Kajawen Edisi 18 April 1939

Maka tak mengherankan jika sepanjang masa berkuasa trah Pakubuwono itu, nama Pakubuwono II yang masa pemerintahannya penuh konflik perebutan kekuasaan itu tetap dipuji-puji sebagai peletak dasar kebesaran Kraton Solo. Dari ke-29 putra-putrinya, penguasa Kasunanan Surakarta Hadiningrat lestari beregenerasi hingga kini.

 

Sumber:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here