Peliharaan Raja Solo (5) : Di Taman Sriwedari, Kebun Binatang untuk Hewan Kesayangan Pakubuwono X

Masa kejayaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dicapai pada masa berkuasanya Pakubuwono X (1893-1939) meninggalkan banyak situs bersejarah. Salah satunya adalah Taman Sriwedari yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

Taman itu dibangun Pakubuwono X di utara kawasan Talawangi yang pada masa Pakubuwono II sempat menjadi satu dari tiga calon lokasi kraton baru pengganti Kraton Kartasura. Taman Sriwedari menurut Babad Taman Sriwedari karya Yasa Harjana yang diterbitkan Lim Swan Bi pada tahun 1926, dibangun oleh R.A.A Sasradiningrat atas perintah Pakubuwono X pada tahun 1831 Jawa atau 1901 Masehi.

Nama Sriwedari, menurut Yasa Harjana, diambil dari kisah Prabu Harjuna Sasrabahu dalam Serat Tripama yang juga diacu sebagai salah satu sumber lakon pertunjukan wayang Jawa. Dalam salah satu bagian serat itu dikisahkan Harjuna Sasrabahu memerintahakan Patih Suwanda memindahkan Taman Sriwedari ke Maespati sebagai tempat hiburan bagi istri Prabu Harjuna Sasrabahu.

Karena pada mulanya berfungsi sebagai taman hiburan dan tempat peristirahatan bagi raja dan keluarganya, maka Taman Sriwedari dikenal sebagai Kebon Raja. Hingga paruh akhir abad ke-20, media massa kerap menyebut lokasi tersebut sebagai Bonraja, akronim dari Kebon Raja.

Di salah satu objek wisata andalan Kota Solo tersebut kini terdapat pendapa dan gedung kesenian, gedung wayang orang, serta taman hiburan rakyat (THR). Di kompleks taman Sriwedari juga ada Stadion R. Maladi, gedung pertemuan Graha Wisata Niaga, Museum Radya Pustaka, pusat jajan yang juga digunakan untuk menjual suvenir dan lukisan, serta Restoran Boga, lengkap dengan kolam segaran. Di sekitar segaran itu dulunya adalah lahan terbuka tempat rutin digelar maleman yang berpuncak pada malam selikur atau 21 Ramadan.

Aneka Satwa

Kawasan seluas 400 m x 270 m itu pada tahun 1905 diisi dengan berbagai tumbuh-tumbuhan, bunga-bungaan, dan hewan-hewan buruan yang dipisahkan menurut jenisnya. Uraian Babad Taman Sriwedari tentang situasi Taman Sriwedari  disarikan dengan baik oleh Rifki Arifianto dalam tugas akhirnya di Jurusan/Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro berjudul Redesain Taman Sriwedari sebagai Pusat Konvensi dan Pameran di Kota Surakarta tahun 2014.

Baca juga  Sejarah Solo (10): Geger Anti-Cina di Era Kemerdekaan

Begitu memasuki Taman Sriwedari dari gerbang utama yang terletak di bagian utara , terdapat jalan-jalan ke berbagai arah yang di sisi kanan dan kiri ditumbuhi dengan pohon cemara yang diselingi dengan pohon palem, trembesi, dan kenari. Pada bagian tengah taman terdapat pendapa yang dibangun agak tinggi, sehingga seseorang yang berada di pendapa dapat menikmati keindahan taman.

Di bagian selatan terdapat kandang sangsam (menjangan), kancil, celeng, senuk (tenuk/tapir), naam, lembu, dan banteng. Sedangkan di sebelah timur kandang terdapat panggung besar yang menghadap ke utara. Panggung itu merupakan tempat peristirahatan Sunan apabila berkunjung ke Taman Sriwedari.

Di depan panggung besar terdapat kolam tempat buaya dan penyu, serta pohon apu untuk tempat burung malipit dan angsa. Di tengah kolam terdapat bukit yang di tengahnya terdapat panggung besar yang diberi nama Panti Pangaksi, juga disediakan khusus untuk Sunan. Di sebelah kanan dan kiri Panti Pangaksi terdapat arca-arca batu yang menjaga tempat itu.

Di sebelah tenggara kolam terdapat kandang gajah, di bagian utara terdapat kandang ayam mas dan tembagi. Di sisi lainnya terdapat kandang harimau kumbang, tutul, dan gembong (loreng). Tidak jauh dari tempat itu terdapat kandang kera, lutung, landak, anjing, berbagai macam burung, kambing (tentunya bukan jenis kambing Jawa), tupai, jlarang wawa (bajing besar), burung kolik (kulik), tuhu (burung malam sebangsa kulik), jakatuwa (kakaktua), mliwis pelung (belibis), menthok, kuntul, dan jenis burung lainnya. Kemudian di sebelah baratnya terdapat berbagai macam jenis ular.

Di sisi timur laut Taman Sriwedari terdapat bangunan museum yang diberi nama Radya Pustaka. Museum ini diresmikan oleh Patih Kanjeng Raden Mas Adipati Sasradiningrat IV pada tahun 1907 (namun Pustaka Sri Radyalaksana karya Prajaduta dkk. terbitan tahun 1939 menyebutkan tahun 1913).

Di sisi lain Taman Sriwedari kemudian juga didirikan bioskop dan tempat pertunjukan wayang orang. Bioskop dibangun pada tahun 1914, sementara wayang orang dan wayang kulit dibangun pada tahun 1917. Dengan fasilitas yang demikian lengkap, Taman Sriwedari bukan hanya ramai dikunjungi kaum pribumi, tetapi juga orang Cina, Arab, Jepang, dan Belanda. Pada tahun 1933, sebuah stadion dibangun di sisi barat Taman Sriwedari atas perkenan Sunan Pakubuwono X. Di Stadion itulah belakang hari diselenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama, 9-12 September 1948.

Baca juga  Pustaka Sri Radyalaksana Karya Prajaduta Terbit 1939

Pusat Ilmu Pengetahuan

Rifki Arifianto dalam tugas akhirnya juga mengutip catatan Radjiman dalam bukunya Toponimi Kota Surakarta dan Awal Berdirinya Kasunanan Surakarta Hadiningrat (2002) yang menyebut Taman Sriwedari pada  masa lalu dapat dikatakan sebagai kebun binatang yang dilengkapi berbagai macam jenis tumbuh-tumbuhan selain berbagai macam koleksi binatang yang menjadi kesukaan raja. Selain sebagai penyimpan khazanah pengetahuan zoologi dan botani, Taman Sriwedari juga berperan sebagai pusat kebudayaan dengan adanya Museum Radya Pustaka, gedung pertunjukan ketoprak dan wayang orang, bahkan juga gedung bioskop.

Sayangnya, setelah Susuhunan Pakubuwono X mangkat pada tahun 1939, Taman Sriwedari tak lagi terawat dengan baik. Dari waktu ke waktu, binatang-binatang kesayangan raja Solo itu semakin tak terurus dan menyusut jumlahnya. Dengan alasan menjamin kehidupan satwa, pada tahun 1986 binatang-binatang  itu diambil alih Pemkot Surakarta untuk dipindahkan ke Taman Jurug. Lokasi bekas kandang-kandang hewan ini lalu dialihfungsikan menjadi taman hiburan rakyat (THR) dengan beberapa wahana permainan mekanis seperti roller coaster, monorail, dan semacamnya.

 

Sumber:

  • Arifianto, Rifki . 2014. Redesain Taman Sriwedari sebagai Pusat Konvensi dan Pameran di Kota Surakarta. Semarang: Jurusan/Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
  • Harjana, Yasa. 1926. Babad Taman Sriwedari. Surakarta: Lim Swan Bi.
  • Prajaduta, 1939. Pustaka Sri Radyalaksana. Surakarta: Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here