Peliharaan Raja Solo (4) : Pakubuwono IV Selamatkan Binatang Liar Kraton Kartasura

Kraton Kartasura yang membentuk generasi Pakubuwono sebagai penerus Dinasti Mataram terpaksa ditingalkan pada tahun 1745. Di kraton itulah kali pertama Pakubuwono I bertakhta. Namun, kraton yang dibangun Amangkurat II pada tahun 1680 sebagai pengganti Kraton Pleret yang rusak akibat pemberontakan Trunajaya tahun 1677 itu lagi-lagi dianggap telah tercemar sehingga kehilangan wahyu gara-gara telah diduduki musuh pada saat Geger Pacinan, Oktober 1740.

Demi masa depan yang lebih baik, Pakubuwono II memindahkan singgasananya ke kraton baru di Dusun Sala. Seluruh aset yang dibutuhkan untuk menjalankan kraton dipindahkan ke Dusun Sala, bagian-bagian terpenting bahkan diboyong bersamaan dengan raja dalam kirab agung yang digelar 17 Februari 1745. Bagian-bagian lain menyusul kemudian, bahkan barang bekas bernilai sejarah diselamatkan para raja penerus generasi Pakubuwono untuk disimpan di Museum Radya Pustaka.

Setelah ditinggalkan dalam kondisi luluh lantak, Kraton Kartasura terbengkalai. Tanpa menyebut sumber yang terang, sejumlah laman Internet seperti kerajaannusantara.com besutan sarjana filsafat yang juga antropolog pendiri Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Mahyudin Al Mudra, bahkan menyebut lokasi bekas Kraton Kartasura perlahan-lahan berubah lagi menjadi hutan yang dihuni berbagai jenis binatang liar.

Pada era pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono IV (1788-1820), tepatnya pada tahun 1811, Kasunanan Surakarta Hadiningrat berinisiatif untuk melakukan pembenahan terhadap situs yang sebenarnya sangat monumental tersebut. Pakubuwono IV menitahkan agar petilasan istana Kartasura dibersihkan dan hewan-hewan yang hidup di sana dipindahkan ke hutan lain yang terletak agak jauh ke arah selatan, yaitu ke tempat yang kemudian dikenal sebagai Kandang Menjangan.

Baca juga  Serat Wulang Dalem Karya Pakubuwono IV Diterbitkan 1900

Irul S. Budianto, wartawan Jawa Pos Group Biro Solo, dalam blognya, Lintang Alit, dengan format tulisan yang sama persis dengan paparan kerajaannusantara.com menambahkan setelah Indonesia merdeka, kawasan konservasi hewan liar itu digunakan sebagai Markas Grup 2 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Tentara Nasional Indonesia. Markas itu dibangun di wilayah Grogolan yang seabad sebelumnya bernama Kampung Babirong, tempat persembunyian Untung Suropati.

Bukan hanya penyelamatan hewan liar yang dilakukan raja-raja penerus Dinasti Mataram yang bertakhta di Kraton Solo. Catatan sejarah bahkan menyebut di istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang kini masuk wilayah Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta terdapat suatu tempat untuk memperebutkan daging hewan liar hasil buruan.

Blog Info Bimo karya Bimo Kusumo Aji yang juga dikutip ensiklopedia online Wikipedia menguraikan pada zaman dahulu, space area di sekitar Gapura Gladag dipakai sebagai tempat menyimpan binatang hasil buruan sebelum digladag (dipaksa) dan disembelih di tempat penyembelihan. Di kawasan Gladag yang merupakan akses ke Alun-Alun Utara Kraton Solo sejak dulu dilengkapi tiga pasang gapura bentar.

Ruang di antara gapura pertama yang paling utara dan gapura kedua yang di tengahlah yang digunakan sebagai tempat menyimpan binatang hasil buruan sebelum disembelih itu. Sedangkan ruang di antara gapura kedua dan ketiga disebut Pamurakan atau Pangurakan yang berfungsi sebagai tempat menyembelih binatang buruan.

Baca juga  Sejarah Solo (8): Pro-kontra Swapraja

Nama Pamurakan kemungkinan berasal dari kata “murak” yang berarti “membagi-bagikan”. Sedangkan Pangurakan bisa jadi berasal dari kata “ngurak” yang bermakna “mengoyak” atau “menyembelih”. Daging hewan liar hasil buruan itu konon selalu dibagikan secara adil kepada para putra sentana dan abdi dalem yang saat itu berada di lokasi penyembelihan.

Di tepi jalan daerah Pangurakan terdapat bangunan bangsal yang diberi nama Bangsal Pangurakan. Bangsal ini adalah bangunan tempat menyembelih binatang buruan. Dalam Bangsal Pangurakan itu terdapat gambar api berkobar dan gambar matahari. Ada juga dua batu centeng besar berbentuk persegi dengan lubang persegi di tengahnya. Batu itu diduga berfungsi sebagai tempat membakar dupa pada saat upacara penyembelihan hewan buruan berlangsung.

Sumber:

  • Bimo Kusumo Aji. 2015. Kompleks Bangunan Keraton Surakarta. Info Bimo: http://infobimo.blogspot.co.id/2012/07/kompleks-bangunan-keraton-surakarta.html .
  • Al Mudra, Mahyudin (ed). Kerajan Nusantara: http://www.kerajaannusantara.com/id/surakarta-hadiningrat/petilasan/.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here