Peliharaan Raja Solo (3): Alun-Alun Utara Kraton Solo Dikepung Istal Kuda dan Tambatan Gajah

Sebelum berkembangnya alat transportasi mekanis seperti sepeda motor dan mobil, binatang tunggangan menjadi andalan. Itulah sebabnya banyak bagian Kraton Solo yang berkonotasi pada alat transportasi masa lalu itu, meskipun kini kerabat Susuhunan Pakubuwono tak lagi memanfaatkan hewan-hewan tunggangan untuk melakukan perjalanan.

Tempat usaha Anda belum tercatat di web ini? Hubungi kami di sini.

Bagian-bagian Kraton Solo yang terkait dengan kuda tunggangan ataupun gajah yang lazim digunakan dalam kirab tradisi ataupun peperangan itu masih bisa dideteksi dari toponimi atau nama tempat yang ditinggalkan penguasa masa lalu Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Blog Info Bimo karya Bimo Kusumo Aji yang juga dikutip ensiklopedia online Wikipedia menguraikan bagian demi bagian Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu mulai dari yang terdepan hingga jauh ke belakang.

Pada masa lalu, di seputaran Alun-Alun Utara Kraton Solo terdapat bangsal-bangsal yang disebut Bale Pewatangan dan Bale Pekapalan. Bangunan-bangunan tersebut digunakan sebagai tempat istirahat para prajurit seusai latihan perang dengan menggunakan tombak dengan menunggang kuda. Dalam bahasa Jawa, “watang” artinya “tombak”, sedangkan “kapal” bermakna “kuda”.

Beberapa bale lain juga disediakan di sekitar alun-alun untuk para pekerja Kasunanan Surakarta Hadiningrat menambatkan kuda mereka. Secara keseluruhan, setidaknya terdapat 14 bale penambatan kuda di seputaran Alun-Alun Utara Kraton Solo, enam bale di sisi utara, lima bale di sebelah timur, dan tiga bale di barat. Kini lokasi tersebut berubah menjadi deretan kios pasar cenderamata, batu permata, dan buku bekas.

Baca juga  Sejarah Solo (6): Mataram Pecah menjadi Dua

Di selatan Alun-Alun Utara Kraton Solo, dalam pekarangan Pagelaran Sasanasemewa, terdapat Bangsal Pemandengan dan Bangsal Paretan, yang pada masa lalu berbentuk tiga bangunan berjajar dengan konstruksi atap limasan terbuka dengan kolom pilar silindris. Bangunan-bangunan itu berfungsi sebagai tempat menyiapkan kereta dan kuda pandengan kerajaan tumpangan sang raja.

Di utara Bangsal Paretan, pada masa lalu juga ada wantilan atau tambatan gajah yang terbuat dari batang kayu jati besar. Tambatan ini biasanya digunakan untuk menambatkan gajah pada peringatan grebeg yang setidaknya diselenggarakan tiga kali dalam setahun. Pada perayaan grebeg tersebut biasanya terdapat dua ekor gajah yang diberi atribut pelana merah, dan pada bagian mukanya dihias hingga menyerupai rupa gajah dalam ceritera wayang kulit.

Kendati gajah merupakan kendaraan tunggangan yang telah dimiliki Pakubuwono II sejak sebelum memindahkan kraton dari Kartasura ke Dusun Sala pada tahun 1745, namun patut diragukan binatang itu ditunggangi sendiri oleh pemilik raja atau kerabatnya. Isnen Widiyanti yang bekerja di MTsN Model Babakan, Lebaksiu, Tegal dalam analisisnya atas Serat Wulangreh yang dipublikasikan melalui blognya mengungkap pantangan keturunan Pakubuwono II menaiki gajah.

“Jeng Sunan Pakubuwana, kang jumeneng ing Samawis, kondur madek ing Kartasura, prasapanira anenggih, tan linilan anitih, dipangga saturunipun (Kanjeng Sunan Pakubuwana yang dilantik di Semarang kemudian berkuasa di Kartasura mengucapkan tabu bahwa keturunannya tidak diperbolehkan menunggang gajah) ,” tertulis dalam Serat  Wulang Reh—atau lebih kerap ditulis Serat Wulangreh—karya Pakubuwono IV yang kini disimpan di Museum Radya Pustaka, Solo itu.

Baca juga  Sejarah Solo (4): Keraton Porak Poranda

Terkait tempat penambatan kuda di Kraton Solo, tim penyusunan buku Sejarah Masjid Agung Surakarta menambahkan kompleks masjid Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang terletak di barat Alun-Alun Utara Kraton Solo juga dilengkapi istal atau kandang kuda lengkap dengan garasi kereta kuda.

Berdasarkan rekonstruksi arkeologis, istal yang terletak di selatan halaman Masjid Agung Surakarta merupakan bangunan terbuka tanpa dinding keliling dengan ukuran 8 m x 8 m. Jejak yang memastikan bangunan itu berfungsi untuk mengikat kuda ditemukan saat pemugaran pada tahun 1986, yaitu pada salah satu tiang bangunan terdapat kolongan atau ring dari besi.

Kini istal dan garasi kereta kuda itu sudah berubah fungsi dan bentuk. Jika dulu kedua bangunan itu merupakan bangunan terbuka tanpa dinding keliling maka kini di tempat yang sama telah berdiri bangunan dengan dinding kukuh. Bangunan di selatan dimanfaatkan sebagai kantor Tata Usaha Masjid Agung Surakarta, sedangkan bangunan di utara dimanfaatkan untuk ruang pertemuan takmir atau Pengurus Masjid Agung Surakarta.

 

Sumber:

  • Bimo Kusumo Aji. 2015. Kompleks Bangunan Keraton Surakarta. Info Bimo: http://infobimo.blogspot.co.id/2012/07/kompleks-bangunan-keraton-surakarta.html .
  • Isnen Widiyanti. 2015. Penjelasan Isi Serat Wulangreh. http://isnen-widiyanti.blogspot.co.id/2015/02/penjelasan-isi-serat-wulangreh-pupuh.html.
  • Wibisono, Rahmat (ed). 2014. Sejarah Masjid Agung Surakarta. Surakarta: Pengurus Masjid Agung Surakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here